Kesedihan Luthier Tegal Parang

“Kami lagi libur,” katanya ketika membuka pintu rumah yang sekaligus bengkel pembuatan dan perbaikan gitar.

“Yah. Kayaknya bakal seperti tujuan sebelumnya, yang tutup pada hari Minggu,” pikirku.

Namun Pak Tirto tetap mempersilakanku masuh ke rumah sederhananya. Sebuah sofa berbentuk L yang cukup untuk 6 orang dan sebuah meja menungguku. Di dinding sebelah kiri terdapat semacam kain kanvas, yang berisi coret-coretan tanda tangan dan nama-nama.

“Pasti seluruh kliennya yang ngetop-ngetop yang isi di situ,” batinku.

Sebelum ke tempat Pak Tirto di kawasan Mampang, aku berniat membetulkan gitar elektrik di daerah Pasar Minggu. Namun karena tutup aku ke sini. Jadilah aku ke tempat bapak berkacamata dan tinggal di tengah pasar di kawasan Tegal Parang. Luthier, begitu pembuat alat musik berdawai seperti Pak Tirto disebut.

Lalu aku duduk dan mendengarkannya.

“Ini lagi libur, tidak terima pesanan. Baru beberapa waktu lalu istri saya meninggal. Pikiran masih belum siap untuk kerjaan.”

“Sudah 2-3 minggu kami bolak-balik rumah sakit, menjaga ibu. Ke dokter. Ke pengobatan alternatif. Kata dokter, pilihannya operasi lagi atau di-kemoterapi. Namun harus menunggu pulihnya kondisi ibu. Ibu sempat pulih, namun akhirnya drop lagi.”

“Yang saya paling sedih itu, ketika cucu saya mencari eyangnya. Kan eyangnya suka main ke rumah cucu dan sebelum ke rumah sakit, sempat tidur di sana.”

“Eyang dimana?” kata Pak Tirto menirukan cucunya.

Sambil menyesap batang rokok Dji Sam Soe kelimanya, tampak ia mulai berkaca-kaca.

Kan bingung jawab pertanyaan anak seperti itu. Saya jawab saja eyang sedang pergi.”

Aku hanya bisa mendengarkan.

Tak lama obrolan berpindah. Pak Tirto mulai berkisah tentang gitar Les Paul-nya yang dibeli anak mantan menteri koperasi. Gitar Jem yang dibuatnya sendiri dan dipakai keliling Indonesia oleh teman-teman musisinya. Pertemanannya dengan Bonita, Adoy dan Cozy Street Corner. Dengan Kiboud Maulana. Dengan John Paul dan beberapa bule lain yang memesan gitar atau bas padanya.

Pak Tirto memang langka. Tak banyak yang kutahu memiliki kemampuan membuat gitar; dan sudah diakui musisi-musisi lokal maupun internasional. Apalagi kini ia hanya bekerja sendiri tanpa anak buah.

Kehilangan istri memang nampak sangat berat baginya. Kata seorang temanku, sang istri sering menemani Pak Tirto menyelesaikan gitar. Membuatkan kopi, atau menerima pesanan ketika Pak Tirto istirahat.

Namun pembuatan gitar tetap harus berjalan. Gitar ku pun akhirnya ditinggal di sana. Ia tak menjamin bisa tahu kapan bisa selesai. Aku pun tak masalah, asalkan Pak Tirto enjoy menyelesaikannya dan aku bisa memainkan gitar itu lagi.

“Monggo pak, saya pamit,” kataku sambil mengucap turut berduka cita dalam hati.

 

Angan Khusus

Katanya setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Begitu tertulis di undang-undang negara kita. Apakah benar demikian adanya? Mungkin bagi pendidikan umum, sedang menuju ke sana. Namun bagi pendidikan yang tidak biasa? Mungkin masih menjadi angan-angan.

Suatu waktu aku berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah yang memiliki departemen untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Saat itu aku ingin belajar, khusus untuk anak dengan sindrom autisme. Di sana aku belajar dari 2 orang guru dan 2 orang murid autis.

Di sekolah tersebut, kurikulum nasional sama sekali tidak berlaku. Setiap anak yang dilayani, memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Buku-buku yang diproduksi untuk kurikulum nasional, hanya dipakai sebagai pembanding kemampuan anak di sana. Misalnya, di buku tertulis anak kelas 1 seharusnya memiliki kemampuan dan pengetahuan A atau B atau C. Jika ada anak di sekolah tersebut baru bisa A B dan C itu, maka kurikulum bagi anak tersebut akan dibuat sesuai kemampuan anak kelas 1.

Menjadi guru di sana pun bukan tanpa kesulitan. Selain mereka memiliki kurikulum khusus bagi setiap anak, mereka harus memiliki passion lebih untuk mengajar untuk mencegah stres dalam bekerja. Bayangkan saja, setiap hari, mulai jam 08.00-14.00, selama beberapa tahun, guru akan menemui siswa yang sama dengan kesulitan yang kurang lebih sama. Mereka akan mendapati bahwa siswanya hanya akan mengalami sedikit perkembangan kemampuan, setelah usaha keras guru. Selain itu beban kerja guru cukup besar, karena sesi istirahat atau makan siang pun guru perlu ‘mengajar’ juga.

Usaha keras ini juga diamini oleh seorang pengasuh di sekolah luar biasa, yang menangani anak autis. Katanya, untuk  menangani sekitar 116 anak berkubutuhan khusus, hanya ada 20 orang pengasuh. Di antara pengasuh tersebut, ada juga yang berperan ganda sebagai juru masak atau pelatih olah raga. Menurut pengasuh berusia 25 tahun itu, mencari pengasuh itu sangat sulit. Jarang ada yang mau. Sempat ada yang menjalani sesi trial selama sehari, namun tidak kuat dan akhirnya tidak melanjutkan.

Berbeda dengan guru di kedua institusi sebelumnya, ada lagi seorang ibu dengan anak tuna netra. Kebetulan ia sempat berbagi pengalaman di kelas Anak Berkebutuhan Khusus. Kesulitan yang dialaminya ketika memberikan pendidikan bagi anak adalah sulitnya mendapatkan sumber belajar. Belum banyak materi belajar yang bisa ‘dibaca’ anak tuna netra. Memang teknologi untuk membuatnya sudah ada, namun harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu baru 1 alat saja. Sedangkan masih ada beberapa alat lainnya yang tidak kalah mahal.

Akhirnya, harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia. Namun apakah bisa dilakukan, sementara pendidikan yang umum saja masih karut marut? Aku sendiri selalu optimis akan bisa. Beberapa orang dan kelompok yang peduli, sudah mulai menginisiasinya. Harapannya, angan-angan yang ada di benak guru dan orang tua, serta orang-orang yang peduli itu, akan bisa mengembangkan sayapnya dan kemudian menjadi nyata.

Olimpiade Matematika dari Papua

Siang ini aku berkesempatan jumpa dengan anak-anak dari Papua, yang akan diberangkatkan oleh Surya Institute, pimpinan Prof. Yohanes Surya, untuk ikut olimpade matematika.

Mereka saat ini sedang ikut program pengayaan. Setiap hari mereka belajar memahami teori dan juga mengerjakan soal-soal matematika. Tapi tak lupa, mereka juga diberikan waktu untuk main-main.

menyusun teka-teki berbentuk balok

Semoga berhasil adik-adik!

Peperangan di Halte Arion

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Kalimat itu terngiang di kepalaku dan mengguncang diri, saat berapa minggu lalu bertemu seorang ibu di halte Arion, Rawa Mangun. Dan malam kemarin aku melihatnya lagi di tempat yang sama.

Pertemuan pertama dengan si ibu terjadi saat aku duduk di halte bus di Arion. Saat itu aku baru pulang dari Wisma Adisutjipto. Tak berapa lama setelah ku duduk, seseorang di sebelah kiriku mencolek-colek tanganku. Aku menengok dan menemukan seorang ibu, kira-kira 50 tahun usianya mengajakku bicara.

Kulitnya berwarna coklat sawo matang. Tulang wajahnya tampak menonjol. Alisnya tipis. Lingkar matanya agak cekung. Punggungnya bongkok. Saat itu ia mengenakan jilbab dan semacam daster yang menutupi tubuhnya hingga ke kaki.

“Dek, mau beli tas ibu gak? Lima puluh ribu, untuk berobat ibu,” sambil membuka plastik hitam berisi tas berwarna hitam pula.

Ia lalu menaikkan daster dan menunjukkan lututnya. Lutut tersebut tampak agak merah.

Dengan mengatupkan kedua telapak tangan ke arahnya, aku sesopan mungkin menolaknya. “Tampaknya ini strategi meminta-minta,” pikirku.

“Maaf bu,” kupandang ibu itu sejenak dan menyelesaikan kalimat, kemudian memalingkan muka menanti bus lagi.

Ibu itu masih mencoba menawarkan kembali dagangannya. Aku pun menolaknya kembali. Pertama, karena aku memang tak butuh tas. Kedua, bagiku, memberikan apa yang dimauinya hanya akan membuat perilaku tersebut bertahan. Ia akan terus meminta-minta.

Ia masih juga mencoba. Harga dagangan pun diturunkan jadi Rp. 20.000. Aku masih bergeming, tapi dalam hati tidak.

Kuingat uangku masih cukup untuk memberikan apa yang dia minta. Tapi aku ingin konsisten dengan tidak memberikannya. Setidaknya jika aku tak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aku bisa mencegah penidakberdayaan masyarakat. Namun ternyata tak semudah itu.

“Kok lo jahat banget sih? Lo kan punya uang segitu. Apa ruginya kalau uang itu lo berikan?”

“Tapi kalau gue berikan, ibu ini akan terus meminta-minta. Dia akan selamanya jadi peminta.”

“Tapi..”

“Tapi…”

Perdebatan makin menjadi saat ibu ini akhirnya tidak menjual tasnya.

“Ibu minta sepuluh ribu aja dek, buat ongkos pulang,” pintanya sambil mencolek lenganku lagi.

Mencoba tenang aku kembali menolaknya.

“Masya Allah dek. Situ pasti uangnya banyak. Kok tega sama ibu.”

Debat dalam diri makin kuat. Punggung dan tanganku menegang. Suaranya seperti menusuk-nusuk hati dan pikiranku.

“Lo diajarkan untuk mengasihi sesama. Tapi kok gini?”

“Ini bentuk kasihku untuknya.”

“Tapi apa ruginya hanya sepuluh ribu?”

“Tidak. Aku harus konsisten.”

Aku pun lelah. Bus menuju blok m sempat hendak kujadikan pelarian. Namun tak berapa lama bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Kuangkat badan dan segera naik ke sana.

Dari jendela bus, kupandangi ibu itu.

“Ya Tuhan, kalau aku berdosa karena ini, ku mohon ampun.”

Dan bus pun melaju bersama deru dalam diriku.

Malam kemarin, di tempat yang sama; di bawah lampu halte pukul 6 sore, kulihat ibu yang sama. Namun kali ini aku memutuskan untuk menunggu bus di luar halte. Tak mengapa jika aku harus berdiri lama.

Pakaiannya kurang lebih sama, hanya kali ini ia pakai rok sedikit di bawah lutut. Ia duduk di halte bagian tengah, sementara calon penumpang di halte itu duduk sekitar 1 meteran darinya.

Beberapa kali aku sempat meliriknya, apalagi saat ada orang yang duduk di sebelahnya persis. Yang kulihat adalah kurang lebih sama dengan yang kualami. Ia mengajak bicara orang di tersebut, lalu membuka plastik berisi tas.

Aku tak tahu apa yang ia omongkan. Tapi semua orang yang sempat diajak bicara, menunjukkan gestur menolak sesuatu. Ada yang dengan senyum lalu memalingkan muka dan ada yang seperti caraku menolaknya. Dan sekarang si ibu masih tetap duduk di tengah halte, membawa tas plastik dan dijauhi sekitarnya.

Dari luar halte, pertentangan dalam diri perlahan timbul kembali.

“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat? Jika tidak, aku mohon ampunanMu lagi.”