Tenggelam Sebelum Sempat Terbit

Kehilangan sesuatu pasti akan menyedihkan. Apalagi jika sesuatu itu adalah seseorang yang kita sayangi; anak yang masih dalam rahim.

“Kabar Kurang Baik.” Begitu judul email yang terkirim kepadaku. Kupikir isinya tentang apa. Namun ternyata apa yang tertulis di dalamnya, jauh melebihi dugaanku.

Seorang kawanku sedang mengandung, kurang lebih 6 bulanan, aku tak ingat pasti. Tak tanggung-tanggung, anaknya kembar, lelaki dan perempuan. Betapa senangnya semua yang mendengar kabar itu, tak terkecuali aku. Namun, kemarin (10/12/10), kebahagiaan berubah menjadi kesedihan.

Ketika ia dan suami memeriksakan kandungan, ternyata si bayi lelaki sudah tak ada. Dia tak bergerak lagi dan jantungnya tak berdenyut lagi.

Aku terdiam. Sejenak, waktu seperti terhenti.

“Ketika diberi tahu dokter, gue biasa aja. Tapi pas keluar dari ruangan, baru mulai nangis. Pas di rumah, baru tumpah semua.”

“Ouch,” aku merintih dalam hati.

Saat ini, dia dan suami, sedang mengalami dilema. Jika bayi lelakinya tetap dipertahankan, ada kemungkinan plasenta bayinya justru menjadi racun, yang akan menyebar ke bayi perempuan serta ibunya.  Kalau harus dikeluarkan, dia tak tega karena si perempuan masih bertahan.

Aku tak bisa membayangkan seperti apa yang dirasakannya. Sejauh ini, pengalaman terdekat dengan kehilangan seseorang adalah simbah putriku dan cucunya. Pengalaman temanku pasti jauh lebih membuat remuk hati. Belum lagi munculnya dilema tadi. Makin tak terbayang kesedihannya.

Temanku akan memeriksakan diri lagi minggu depan. Aku memang tak bisa bantu, karena memang tak bisa. Yang aku bisa hanya bantu doa dan dukungan baginya. Semoga dia sekeluarga diberikan jalan keluar dari pengalaman pelik ini. Semoga dia dan bayi perempuannya tetap sehat dan bisa terus menikmati kehidupan dariNya. Amin.

Suara Tetap Biasa Saja, Namun…

Di hadapanku, sekumpulan anak sedang berkumpul dan berlatihan paduan suara. Usia mereka beragam. Terkecil nampaknya berusia 7 tahun, dan yang terbesar sekitar 15-an. Saat ini, mereka sedang melantunkan lagu natal untuk ditampilkan di malam natal. Melihat latihan ini, aku jadi ingat beberapa tahun lalu saat tergabung di Psychoir, paduan suara kampus psikologi UI. Tak percaya aku anggota choir? Sama. Aku pun juga.

Saat itu tahun pertamaku menjadi mahasiswa. Beberapa teman wanitaku sudah terlebih dahulu menjadi anggota. Konon karena sedikitnya jumlah pria di kampus, sumber daya manusia pria sulit ditemukan, termasuk untuk paduan suara. Hal ini yang menyebabkan aku diajak temanku itu. Tentu aku menolak. “Apaan sih, ikut-ikut paduan suara? Suara kayak gini kok mau ikutan. Malu-maluin aja,” begitu pikirku. Namun ternyata hidup kadang bukan untuk dipilih, namun diterima saja.

Siang itu, aku sedang berkumpul dengan teman-temanku tadi. Tiba-tiba, dengan paksa aku diajaknya ikut latihan. Terang saja aku masih menolak. Namun aku teryakinkan oleh pernyataan, bahwa paduan suara ini sifatnya bukan prestatif. Maksudnya,  kita tak akan ikut lomba padus. Kita tak akan latihan dengan berat. Tujuan utamanya bernyanyi dengan senang. Dan yang terpenting, suara pas-pasan pun tak masalah. “Asal jangan buta nada aja, “ kata pelatihnya.
Jadi, mulailah aku bertualang dengan identitas anggota Psychoir. Biasanya, kami akan dapat “job” saat wisuda. Kami didaulat untuk mengiringi prosesi wisuda sarjana. Ada lagi, kami diminta mengisi acara-acara kampus. Atau, kadang kami diminta jadi wedding singer. Aku ingat waktu itu kami bernyanyi di gereje, meskipun banyak dari kami yang non-kristen. Kami juga pernah mengadakan konser tunggal; 2 kali, dimana sekali aku ikut sebagai padus dan sekali sebagai pemain gitar. Pengalaman ini terjadi selama aku kuliah.

Jika dihitung totalnya, kurang lebih aku sudah ikut bernyanyi di Psychoir selama 5 tahun. Selama itu, tampaknya suaraku tak mengalami perkembangan signifikan. Aku masih saja kadang tak tepat dalam membunyikan nada. Namun itu bukan dampak utama yang kurasakan dengan bergabung di Psychoir. Ternyata aku mendapatkan yang jauh lebih bernilai darinya, namanya kepercayaan diri.

Sedari dulu, aku sering merasa minder dengan diriku sendiri. Entah sejak kapan pikiran itu berkembang, namun ada beberapa faktor yang nampaknya melatarbelakanginya. Pertama, keluargaku bukan keluarga yang berada. Ibu hanya guru kelas 1 SD (baru kusadari kemudian bahwa aku sangat menjunjung profesi guru). Bapak hanya lulusan STM dan bekerja sebagai…mmm, aku tak tahu nama posisinya. Namun yang pasti, gajinya pas-pasan; bahkan besarannya selalu sama dari awal bekerja hingga saat ini. Kondisi ini awalnya tidak mengganggu. Namun, bersekolah di sebuah sekolah unggulan dengan teman-teman yang jauh secara finansial, membuatku sedikit tertekan. Dampaknya, aku menjaga jarak dengan teman-teman yang “high class” atau teman biasa, namun dari keluarga yang kaya. Aku merasa tak akan bisa mengikuti gaya hidup mereka.

Faktor kedua berkaitan dengan disabilitas fisik. Waktu kecil, katanya pengasuhku sering membersihkan telingaku. Tampaknya karena terlalu semangat dan dalam, proses membersihkan itu ternyata memakankorban: gendang telinga kananku robek. Akibatnya, kemampuan mendengar telinga kananku menurun drastis. Kalau telinga kiri kututup, aku hanya bisa mendengar suara 25% saja. Selain itu, telingaku jadi lebih mudah kemasukan kuman. Hal ini menyebabkan mudahnya telingaku kena infeksi, misalnya akibat kemasukan air ketika berenang (ini penyebab utama aku tidak berenang). Jika sudah infeksi, pasti akan membuat badanku panas, dan telingaku mulai mengeluarkan cairan. Wow! Bayangkan seorang anak SD mengetahui hal ini. Tentu dia akan berpikir bahwa kelainan ini akan menyebabkan ia mendapat cemoohan. Apalagi kalau infeksinya terjadi di sekolah. Seperti itulah yang kurasa dulu.
Lalu apa kaitannya dengan padus?

Pertama, aku melihat adanya penerimaan dan penghargaan diri mulai tumbuh kala bergabung dalam Psychoir. Ketika di padus, suaraku yang pas-pasan tidak dijadikan objek cemoohan. Pasti semua orang memberikan masukan; kurang ini, kurang itu, namun tetap saja aku diterima disana. Kami pun berkegiatan dengan senang. Bercanda, ngobrol dan tertawa saat latihan, menjadi hal yang biasa. Hal ini menyebabkan pengalamanku di Psychoir pun menyenangkan. Di sini aku mulai belajar menerima diriku sendiri. Aku memang punya kekurangan ini itu, namun itu tak jadi halangan untuk bisa beraktivitas dengan menyenangkan.

Lalu aku pun mulai menghargai diriku lebih. Sangat benar jika kadang kita terlalu fokus pada kejelekan diri, jadi kurang menghargai diri sendiri. Padahal kita tentunya memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan. Itu juga yang kurasakan. Walau suaraku pas-pasan, tapi aku bisa berkontribusi menghibur wisudawan yang sedang merayakan hari bahagia mereka. Walau aku biasa-biasa saja, namun punya banyak teman yang suportif dan bisa didukung. Ibaratnya, ulat sejelek apapun, dia tetap adalah bakal kupu-kupu cantik. Jadi mengapa hanya melihat yang buruk-buruk dari diri? Mengapa tidak mulai melihat hal-hal yang membanggakan dari diri sendiri?

Penerimaan diri dan penghargaan diri inilah yang kemungkinan besar berkontribusi terhadap kepercayaan diriku. Sejak saat itu, aku mulai bisa “speak out”, tidak malu-malu, berani tampil di depan umum, berani menyampaikan pendapat dan banyak lainnya. Memang sih, sampai sekarang suaraku, ya masih seperti ini saja. Walau demikian, aku sangat sangat bersyukur telah diberi kesempatan bergabung dalam Psychoir. Karena ketika bersama merekalah, di suatu waktu diantaranya, aku bisa menjadi kupu-kupu.

menulis ini ibaratnya membuka luka sendiri. Ada beberapa bagian dimana aku menemui “blocking” ketika menuliskannya. Namun, jika luka tidak dibuka dan dibersihkan, kemungkinan membusuk dan tidak sembuh, akan jadi lebih besar. Benar?

Senangnya Kita, Derita Mereka

Diambilnya puntung rokok yang masih membara itu. Bapak tak sengaja meninggalkan rokok itu di dekatnya. Kala itu, Tika masih kelas 5 SD. Karena ingin mencoba seperti apa enaknya merokok, ia pun menghisapnya. Setelah asap rokok memasuki mulutnya, Tika terkejut. Katanya, merokok itu nikmat, tapi Tika justru merasakan sebaliknya. Ia terbatuk-batuk hingga mata dan hidungnya berair. Sejak saat itu, Tika tidak ingin lagi merokok. Namun beda soal dengan bapaknya. Sepuluh tahun kemudian pun, bapak masih saja merokok.

Continue reading

Saat Wajah Tak Lagi Menarik

“Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.”

Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali bercerita tentang ini dan itu, namun kali ini Aku tak menduga ia akan bercerita tentang hal personal itu. Selain kaget, Aku juga khawatir ketika temanku itu menceritakan permasalahannya. Aku Khawatir tak cukup berpengalaman dan bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya.
Continue reading