Bakat dan Sikap Kreatif Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci, yang kita kenal saat ini karena lukisan Monalisa, bisa dikategorikan sebagai seorang pribadi yang kreatif. Ia memiliki bakat kreatif serta memiliki beberapa sikap kreatif yang menonjol sebagai indikatornya. 

Leonardo memiliki bakat kreatif, yaitu mampu menangkap masalah lebih cepat, luwes dalam berpikir, mampu mengelaborasi dan memiliki ide-ide yang orisinil. Bakat pertama bisa dilihat dari ide atau produk yang dihasilkannya, yang baru ditemukan atau dihasilkan puluhan hingga ratusan tahun sesudah masanya. Ia telah mengajukan teori heliosentris 40 tahun sebelum Copernicus. Penggunaan kaca pembesar yang besar untuk meneliti benda angkasa juga adalah sarannya. Idenya juga mendahului teori gravitasi yang dikemukakan Newton serta teori evolusi Darwin.

Bakat kedua, keluwesan dalam berpikir bisa dilihat dari kemampuannya untuk ‘berpindah-pindah’ mempelajari atau melakukan sesuatu. Ia bisa membuat lukisan, yang membutuhkan imajinasi, namun sekaligus bisa melakukan analisis dalam risetnya tentang anatomi dan gerakan kuda. Keluwesan juga bisa dilihat dari beragamnya subyek yang dipelajari oleh Lenoardo, mulai dari melukis, anatomi, astronomi, botani, geologi, ilmu pesawat atau geografi.

Bakat ketiga Leonardo yaitu kemampuannya dalam mengelaborasi atau menyempurnakan sesuatu. Leonardo bisa menggambungkan 2 hal, kemampuan melukis dan pengetahuan tentang anatomi, menjadi sebuah lukisan yang memiliki anatomi sempurna. Selain anatomi, ia juga menggabungkan menyempurnakan kemampuan melukisnya dengan mempelajari cahaya dan bayangan. Hasilnya, ia mampu membuat lukisan dengan kualitas lembut dan hidup, yang akan jadi standar bagi pelukis di abad ke-16.

Bakat keempat adalah orisinalitas. Semasa hidupnya, Leonardo tidak hanya dikenal dengan lukisan Monalisa, namun juga segudang produk orisinil lainnya. Dikatakan ia pernah membuat desain pesawat terbang, parasut, kapal selam, alat selam, mekanisme pompa, turbin air, kompas, senjata militer dan masih banyak lagi. Khusus untuk pesawat, dikatakan bahwa desain pesawatnya merupakan salah satu tonggak dalam sejarah usaha manusia untuk terbang.

Selain memiliki bakat, kreativitas Leonardo da Vinci juga didukung oleh sikap kreatifnya, yaitu terbuka terhadap pengalaman baru, rasa ingin tahu yang tinggi, ulet, mandiri, berani tampil berbeda dan percaya diri. Sikap keterbukaan Leonardo bisa dilihat saat ia membuka diri mempelajari bermacam hal dan bertemu dengan lingkungan-lingkungan baru. Ia pernah belajar di dalam lingkungan filsuf, ahli matematika dan seniman. Selain itu, ia pernah masuk ke lingkungan apoteker dan dokter untuk kemudian mempelajari anatomi. Leonardo juga pernah masuk lingkungan militer, dimana ia menghasilkan peta dengan presisi tinggi.

Sikap kedua yaitu rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan tinggi Leonardo bisa nampak saat ia memanfaatkan lingkungan yang ditinggalinya untuk belajar. Ia belajar anatomi. Ia belajar cahaya dan bayangan. Ia juga mempelajari anatomi, bahkan gerakan kuda, agar bisa membuat monumen penunggang kuda.

Sikap berikutnya adalah ulet. Sikap ini nampak belum konsisten dalam diri Leonardo. Kadang ia ulet dan fokus pada yang diminatinya, tapi kadang ia tidak fokus. Ketika mempelajari anatomi , cahaya serta bayangan dan gerakan kuda, ia nampak bisa fokus dan menghasilkan karya. Namun ia juga pernah tidak berhasil menyelesaikan karya, seperti lukisan yang dipesan oleh Servite Vriar. Dikatakan, ketidakfokusan ini adalah buah sifat perfeksionis Leonardo.

Sikap selanjutnya adalah mandiri dan berani tampil beda. Sikap ini nampak muncul bersamaan pada diri Leonardo. Dikatakan bahwa Leonardo mendapatkan kesempatan untuk berpikir, bermain dengan gagasannya dan belajar sesuka hati. Ia juga membuat berbagai macam desain, sepertinya tanpa memperdulikan apa yang sedang jadi arus utama di masyarakat saat itu. Teknik melukisnya, chiaroscuro, yang saat itu berbeda dengan seniman lain, akhirnya bisa diterima dan menjadi standar bagi pelukis di abad 16.

Sikap terakhir adalah percaya diri. Sikap ini terlihat dari relasi yang dijalinnya dengan orang lain, yang beberapa di antaranya adalah orang-orang besar di masa itu. Ia pernah masuk ke lingkungan apoteker, dokter, filsuf, ahli matematika, anak the Grand Duke of Milan, komandan militer paus, wakil raja Louis XII dan bahkan paus serta raja Perancis, Francois I. Berelasi dengan mereka tentu saja membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi. Dan Leonardo bisa melakukannya.