Lupa Merasa Dalam Pendidikan

Sudah hampir sebulan sejak tulisan terakhirku. Selama periode tak-menulis itu, aku menjadi fasilitator atau narasumber dalam pelatihan bagi dosen di kampusku. Mulai dari pelatihan perancangan pembelajaran, keterampilan mengajar, pembelajaran elektronik, hingga pelatihan pendidikan jarak jauh. Meski melelahkan, tapi banyak insight yang kudapat dari situ, salah satunya terkait perasaan.

Continue reading

Televisi Pendidikan, Apa Kabarmu?

Tanggal 10 November lalu aku baru tahu bahwa Sesame Street berulang tahun ke 45, setelah membaca blog Chika. Jadi teringat ketika kecil aku belajar Bahasa Inggris lewat acara televisi itu; dan jadi teringat acara pendidikan yang kurang lebih tujuannya sama.

Di dalam acara yang biasanya tayang pada siang hari setibanya aku di rumah itu, ada bermacam tokoh yang berinteraksi tanpa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Nampaknya dari Sesame Street, aku berkenalan dengan Bahasa Inggris dan mempelajarinya.

Continue reading

Terima Kasih Adik Koci

Ah, tak terasa 4 Februari nanti, Kekoci genap berusia 1 tahun. Hingga Sabtu kemarin (26/01/2013), Kekoci sudah diadakan untuk ke-11 kalinya.

Pagi ini, saat sedang menyiapkan foto untuk dipublikasikan, ada haru luar biasa kurasakan dalam diri. Melihat senyum adik-adik koki cilik (Koci) saat memasak. Melihat tingkah polah mereka dalam bekerja kelompok. Melihat sorot mata serius kala menyiapkan makanan.

Tak kusangka aku ada di dalam sejarah gerakan Kekoci ini. Awalnya hanya berasal dari sebuah ide bahwa memasak itu merupakan keterampilan hidup penting, kemudian berkembang menjadi Kekoci yang seperti saat ini. Sudah 11 kelas, kurang lebih 20-an anak menjadi peserta (ada yang sudah berkali-kali ikut lho). Dari topi koki buatan sendiri, pakau karton warna warni, hingga akhirnya punya topi dan celemek sendiri.

Dan yang paling membuat haru adalah membayangkan, suatu saat nanti akan ada di antara Koci-koci kami yang menjadi pemasak hebat! Setidaknya, pemasak hebat bagi keluarganya kelak.

Koci-koci calon pemasak hebat!

Koci-koci calon pemasak hebat!

Terima kasih adik-adik Koci, telah diberi kesempatan mengabadikanmu dalam Kekoci. Tahukah kamu? Kamilah justru yang merasakan berkah melimpah karena diperbolehkan membantumu menyenangi memasak. :’)

Karna Tak Mungkin Aku Untuk Tak Merindukanmu

Sebuah lagu memang bisa membangkitkan kenangan dan emosi yang menyertainya. Apalagi jika lagu itu diciptakan dan dibawakan band sendiri..dan aku, tak lagi berjalan di dalam dalam band itu.

Awal tahun 2000-an aku tergabung dalam sebuah band. Harmonic namanya. Ini adalah band bentukan kakakku dan teman-teman kampusnya. Di sana, aku berperan sebagai gitaris 2.

Rasanya seperti baru kemarin aku tergabung di sana. Latihan dari 1 studio ke studio lain. Dari yang sound system-nya pas-pasan hingga mencoba studionya personil band Stinky.

Seperti baru kemarin juga, gerilya dari satu panggung ke panggung lain. Dari 1 festival ke festival lain. Satu radio ke radio lain.

Kupikir dulu jalanku adalah di musik, yaitu jadi musisi. Sejak kecil, musik sudah jadi bagian hidupku. Tiap pagi selalu terputar alunan lagu dari kaset milik bapak ibu. Saat SMA, aku mulai ngeband secara resmi. Dari 1 acara ulang tahun teman ke ulang tahun teman lain, hingga acara ulang tahun sekolah.

Setelah tergabung dalam Harmonic, aku pun makin yakin dengan jalan musik. I’m willing to go through everything for it. Tawaran menjadi salah satu kepala bidang di senat kampus ditolak. Tawaran kerja dengan gaji menggiurkan juga kutolak. Semua untuk bisa bermain musik dalam band dan manggung, lalu bisa menghasilkan kaset.

Namun makin lama, aku merasa ada yang tidak pas. Sepertinya bukan jadi musisi seperti itu yang kubutuhkan. Yang selalu terbayang saat mengandaikan diri menjadi musisi adalah: panggung kecil, dekat penonton, suasana hangat, diselingi minuman hangat dan obrolan santai. Bukan seperti band-band di televisi.

Band-band di televisi juga turut membentuk keputusanku. Aku tak ingin seperti mereka, yang tak otentik. Dicitrakan sesuai kebutuhan dan kemauan produser, demi keinginan pasar. Belum lagi isi lagu mereka. Rata-rata lagu-lagu cinta yang..yah, tak mengajarkan hal-hal positif bagi pendengarnya. Aku takut suatu saat akan jadi bagian roda itu.

Pemikiranku makin bulat. Jalanku bukan di situ. Dan aku pun mengundurkan diri dari band.

Malam ini, hampir 5 tahun kemudian. Ingatanku terbang menuju masa itu, saat aku dan Harmonic berjalan bersama. Kami telah membuat lagu-lagu yang bagus. Enak didengar lah. Tapi memang jalan kita hanya sampai di situ saja; setidaknya untuk kali ini.

Namun kawan, aku doakan kita, kamu dan kamu, supaya, meski tak lagi bersama dalam musik, akan tetap menjalani hidup masing-masing yang penuh berkah. Sungguh kawan, karena tak mungkin aku untuk tak merindukanmu.