Cheesecake vs Martabak Telur

Sore kemarin (17/06/11) aku berkesempatan makan di salah satu tempat makan di Cibubur Junction. Katanya sih, restoran itu adalah resep rahasia. Di situ aku memesan cheesecake, dan jadinya teringat suatu hari dengan cheesecake.

Kala itu tanggal 20 Maret 2005 atau 2006, aku lupa tepatnya. Hari itu ibuku ulang tahun. Sebagai kejutan, aku dan kakak-kakakku membelikan sebuah cheesecake dari toko di kawasan Tebet.

Perjuangannya cukup berat. Aku kesana siang hari; naik bis yang jalannya lamban pula. Rasa khawatir kuenya lumer menjadi teman selama perjalanan. Belum lagi sesampainya di rumah, mesti menyelinap dan menyembunyikan kuenya melalui pintu belakang, lalu menyimpannya di kulkas.

Setelah saatnya tepat, kue pun dikeluarkan, dan perayaan dimulai. Semuanya bergembira di malam itu. Namun yang ironisnya, kuenya tak terlalu mendapat sambutan positif. Memang sih, kemarin aku memakan 1 potong saja sudah agak eneg. Apalagi kalau 1 kue penuh? Alhasil, sampai beberapa hari pun, kue itu masih ada di kulkas (meski akhirnya habis juga).

Kondisi ini beda sekali kalau ada martabak telur di rumah. Dalam hitungan jam, kardusnya pasti sudah kosong tak bersisa. Paling hanya saus dan remah-remahnya saja yang tertinggal.

Ya, beginilah orang dari kampung. Biar dikata sudah tinggal di kota dan makan makanan luar negeri, tetap saja kampungnya keluar dan memilih makanan kampung juga. Tidak perlu sok-sokan makan makanan asing, kalau lidahnya hanya cocok makanan lokal pinggir jalan.

2 thoughts on “Cheesecake vs Martabak Telur

  1. Cheesecake yang enak yang di samping Pak Raden Margonda Depok sini. Aku lupa nama tempatnya. ;)) Cheesecake-nya gak bikin eneg. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *