Fatmawati-Kemang-Pasar Minggu Demi Kuliah

Tita yang malang, ternyata cobaannya tak juga berhenti hari ini. Setelah hampir menggadaikan laptopnya demi kuliah, ia masih harus berurusan dengan hal-hal mengejutkan lainnya.

“Gimana Ta? Lancar tadi?” tanyaku, sambil menunggu siaran sepakbola di televisi.

Pertanyaan itu membuka kisah baru, yang Aku sendiri tak sangka-sangka akan terjadi. Dan, Aku sudah siap mendengar.

Setelah berpisah dariku siang bolong tadi, Tita naik angkot menuju ke salah satu kantor cabang bank terbesar di Indonesia; di kawasan Pasar Minggu. Ia perlu ke bank tersebut untuk menyetorkan uang kuliahnya.

“Emang lo ga bayar di kampus langsung ya?” Aku ingin tahu metode pembayaran kuliah di kampusnya.

“Enggak. Jadi, gue bayar di bank dulu, baru blangko buktinya diserahin ke kampus,” jawabnya.

Ternyata tak jauh beda dengan di kampusku dulu; namun di kampusku, bank-nya ada di dalam lingkungan kampus, sehingga lebih memudahkan.

Ia lalu melanjutkan ceritanya. Menjelang tiba di tujuan, ia baru ingat; pasti bank-nya tutup. Dan, dugaannya benar! Bank tersebut tutup tup tup.

Tak kehabisan akal, ia bertanya dengan orang di sekitar situ; entah satpam atau siapa pun. Katanya, Tita bisa datang ke bank yang sama di kawasan ITC Fatmawati. Orang tersebut juga bersedia menghubungi cabang Fatmawati, untuk memastikan buka atau tidak. Dan hasilnya: cabang tersebut memang buka. Bergegaslah ia ke Fatmawati; namun kali ini ia mendapat bantuan dari bapaknya. Mereka pun ke Fatmawati berboncengan di atas motor.

Setibanya di sana, Tita merasa senang, karena bisa segera membayar uang kuliah. Tapi betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa uang di amplopnya berkurang Rp.100.000. Ia tak tahu mengapa uang itu bisa berkurang. Dan parahnya lagi, bapaknya hanya membawa uang Rp.25.000. Masa harus merampok dulu agar bisa kuliah?

Mereka kelimpungan, tak tahu harus bagaimana. Saat ini sudah hampir pukul 14.00; 2 jam menjelang tenggat waktu penyerahan blangko tanda pembayaran ke bagian akademis kampus. Tita mendapatkan ide lagi; mbakku bekerja di kawasan Kemang, tak jauh dari Fatmawati (dibandingkan harus kembali ke rumahku). Mereka lalu meluncur ke kawasan Kemang, untuk menemuinya.

“Gue kaget pas lihat ada anak lari-lari mirip Tita. Eh, ternyata bener,” kakakku mengungkapkan perasaannya saat Tita datang ke kantornya.

Tita dan bapaknya kembali meluncur ke Fatmawati, setelah kakakku meminjamkan uangnya. Dan akhirnya, Tita berhasil membayar kuliahnya! Tugas berikutnya adalah menyerahkan bukti pembayaran ke kampus.

Ternyata oh ternyata, bagian akademis sudah tutup jam 3 siang. Karena pendaftaran mata kuliah sudah bisa dilakukan secara online, Tita mencoba untuk mendaftar dalam mata kuliah; berharap sudah diakui membayar walau belum menyerahkan blangko. Tapi ia gagal. Sistem tempat ia mendaftar kuliah, mengatakan bahwa Tita belum melakukan pembayaran.

“Lemes banget gue. Gak kuliah deh gue semester depan,” Tita meratapi yang terjadi hari ini dan esok.

Ia lalu mencoba menelepon ketua jurusan, dimana ia berkuliah. Ia mencoba minta tolong kepadanya; apapun bentuknya. Dari kepala jurusan itu, Tita baru tahu bahwa pendaftaran diundur hingga tanggal 29 Agustus. Tita lega bukan main. Berarti, ia masih bisa menyerahkan blangko besok, dan bisa mendaftar mata kuliah. Di tengah-tengah cobaan bertubi hari ini, ia kini mulai bisa membayangkan bisa kuliah lagi semester depan.

“Biarin dah, cape-cape hari ini, asal bisa kuliah,” katanya, mantap.

Aku pun ikutan lega mendengarnya. Jalan-jalan dari pegadaian 1 ke pegadaian lainnya, panas-panasan, hingga bolak balik Fatmawati-Kemang-Pasar Minggu, terbayar sudah. Hampir dipastikan, Tita akan kuliah lagi semester depan, dan masih bisa memakai laptopnya.