Finding Dory dan Kita

Setelah salah menonton versi berbahasa Indonesia, aku, istri dan kakak, akhirnya menonton Finding Dory. Sesuai dugaan, percakapannya jadi lebih bermakna. Dan ternyata, aku mendapat beberapa insight tentang individu berkebutuhan khusus dan respon masyarakat terhadapnya.

Dory dan Hank

Setelah salah memilih Mencari Dory; di mana ada Syahrini dan Raffi Ahmad sebagai salah dua pengisi suara pendukungnya, kami berhasil juga menonton Finding Dory. Film berdurasi 90 menit ini berkisah tentang Dory si pelupa, teringat akan orang tuanya, lalu bertualang mencari mereka. Ia dapat bantuan dari Marlin, Nemo dan banyak hewan lain sepanjang perjalanan.

Film ini lebih menghibur dari pada versi Bahasa Indonesia, terutama karena banyak jokes yang tidak teradaptasi dengan baik. Contohnya: logat bicara singa laut khas Australia atau penyu khas anak pantai. Sigourney Weaver pun diadaptasi sebagai Maria Oentoe; pengisi suara penanda pintu bioskop sudah dibuka.

Ketika melihat Dory dan beberapa karakter lain, aku teringat akan pendidikan bagi individu berkebutuhan khusus. Kauffman dan Hallahan, salah satu tokoh dalam pendidikan berkebutuhan khusus, menyebut mereka sebagai orang-orang yang membutuhkan pendidikan dan layanan khusus, supaya dapat mencapai potensi seutuhnya. Ada yang mengalami keterbelakangan mental, gangguan perhatian, gangguan emosional atau perilaku, penglihatan terganggu, dan bahkan individu berbakat.

Dory, dalam film yang disutradarai Andrew Stanton, diajarkan oleh kedua orang tuanya dengan cara yang berbeda. Contohnya: ia diajarkan untuk menemukan rumah dengan mengikuti kerang, atau untuk just keep swimming ketika menghadapi kesulitan. Tujuannya supaya ia dapat bertahan hidup kelak.

Fenomena yang juga menarik adalah, bagaimana respon ikan-ikan yang ditemui Dory sejak kecil dan sepanjang perjalanan. Beberapa dari ikan asing yang diajak berinteraksi oleh Dory, cenderung melengos, atau kesulitan memberikan respon padanya. Seakan tidak mampu memahami kesulitan yang dialami Dory.

Dory dan Kita

Fenomena tersebut, mungkin saja fenomena umum di masyarakat kita. Mungkin aku juga demikian, ketika berjumpa dengan individu berkebutuhan khusus. Misalkan, dengan individu autis. Buat kita, komunikasi sosial dengan orang lain, bisa sangat mudah. Namun untuk mereka, bisa kebalikannya. Bagi yang tidak paham, tentu akan menganggap mereka aneh dan kemudian menjauh.

Finding Dory menurutku adalah film yang spesial. Dalam Finding Nemo, rasa yang kudapatkan adalah film keluarga, tentang ayah dan anak. Namun dalam petualangan Dory si ikan blue tang, nuansa “kebutuhan khusus” begitu kental. Ada si bebek Becky, si singa Laut Gerald, hingga si hiu paus Destiny.

Kesadaran akan adanya individu yang perlu menerima pendekatan khusus, menurutku sangat diperlukan karena mereka juga adalah bagian dari masyarakat kita, yang memiliki kekuatan untuk dikembangkan. Nuansa tersebut diperkuat dengan cerita yang menghibur dan mengharukan, dan tentu saja grafis yang luar biasa.

Film yang spesial, memang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *