Growth Chart WHO dan CDC

Dear Francis,

Sebulan lebih usiamu kini. Dalam sebulan ini, kita semua seperti berkejar-kejaran dengan berat badanmu. Dokter anak yang memeriksamu, menargetkan berat badanmu sampai pada angka tertentu di tiap bulannya. Konsekuensinya, kamu perlu mengonsumsi susu formula sebagai suplemen ASI. Ia mendasarkan target tersebut dari growth chart keluaran World Health Organization (WHO). Namun ada juga growth chart lain, yaitu keluaran Center for Disease Control and Prevention (CDC). Nah lho, bedanya apa? Ayah mencoba mencari tahu supaya lebih paham dengan apa yang disarankan kepadamu.

Ayahmu ini memulai pencaritahuan terlalu ambisius. Hahaha. Membaca langsung laporan dari kedua lembaga tersebut. Laporan WHO bisa dilihat di sini, sedangkan CDC bisa dilihat di sini. Tapi karena waktu tak memungkinkan, baca jurnal saja sementara ini sudah cukup. Pertanyaan yang ingin ayah jawab adalah, “sejauh mana growth chart tersebut dapat dipercaya?”

Jurnal tersebut berjudul “Comparison of the WHO Child Growth Standards and the CDC 2000 Growth Charts“, terbitan tahun 2007. Peneliti (de Onis, dkk., 2007) ingin membandingkan grafik-grafik pertumbuhan antara grafik WHO dan CDC, serta mengevaluasi pertumbuhan anak yang sehat dan disusui ASI, dilihat dari hasil laporan WHO dan CDC.

Metode

WHO mendasarkan laporannya dari data utama yang dihasilkan dari studi Multicentre Growth Reference Study (MGRS), yang dilakukan sejak 1997 hingga 2003. Sampel yang diambil adalah ibu dan anak dari kota Davis, California, Amerika Serikat; Muscat, Oman; Oslo, Norway; Pelotas, Brazil; Accra, Ghana dan South Delhi, India.

Penelitian jangka panjang (longitudinal) dilakukan pada anak usia 0-24 bulan. Sebanyak 1743 ibu dan anak dipilih sejak lahir, dan dikunjungi di rumah, sebanyak 21 kali, pada minggu 1, 2, 4 dan 6; tiap bulan sejak 2-12 bulan; dan 2 bulanan pada tahun kedua. Sebanyak 882 pasang ikut hingga menyelesaikan studi. Selain itu, ada pendekatan lain dengan cara mengamati anak usia 18-71 bulan, dengan sekali pengukuran saja, kecuali Brazil dan AS, yang bisa 2-3 kali per 3 bulan.

Karakteristik sampel studinya adalah ibu dan anak yang tinggal di kondisi sosioekonomi yang mendukung pertumbuhan, serta mengikuti rekomendasi menyusui WHO. Oleh sebab itu, hasil studi ini akan dipakai sebagai standar, dan bukan sebagai rujukan. Artinya, kalau standar, “bagaimana anak harusnya berkembang,” sedangkan rujukan tidak demikian.

Berbeda dengan WHO, CDC melakukan studi pada anak dari usia lahir hingga 20 tahun, melalui survei nasional (di AS) sebanyak 5 kali, sejak 1963 hingga 1994. Survei tersebut adalah National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), yang dilakukan secara berkala untuk mengukur tinggi dan berat badan, serta informasi kesehatan warga Amerika Serikat. Tidak ada angka pasti partisipannya, dan tidak ada karakteristik sampel khusus seperti yang dilihat oleh WHO.

Hasil

Ada perbedaan penting dari kedua hasil studi, dari beberapa aspek. Pertama kurva CDC tidak berhasil menangkap pertumbuhan pesat berat badan di awal usia bayi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya data berat badan sejak lahir hingga 2 bulan. Selain itu jumlah sampel bayi yang di bawah 200 orang tiap jenis kelamin dan kelompok usia, tidak sesuai dengan rekomendasi untuk pembuatan kurva pertumbuhan bayi.

Kedua, selain dari jumlah sampel, karakteristik sampel juga membuat hasil studinya berbeda. Sampel pada studi WHO adalah bayi yang diberi ASI, sedangkan pada studi CDC, bayi diberi makanan yang beragam (ASI, susu formula, atau makanan padat). Hal ini menyebabkan kurva CDC kurang dapat dipergunakan untuk memonitor bayi yang hanya diberikan ASI.

Ketiga, kurang standarnya pengukuran dalam studi CDC, kurva tinggi/berat badan per usia cukup bervariasi. Berbeda dengan studi WHO yang sudah menggunakan pengukuran standar dan seragam.

Sebenarnya ada beberapa perbedaan lagi. Namun karena pembahasannya sangat statistik; terkait z-score, tidak ayah tuliskan. Penyebabnya lebih karena kekurangmampuan memahami hasilnya. 😀

Kesimpulan

Dari jurnal tersebut, penulis menyimpulkan bahwa kurva WHO merupakan alat yang lebih tepat untuk memantau bayi-bayi yang disusui ASI. Hal ini sejalan dengan usaha pemerintah AS mendorong konsumsi ASI bagi bayi.

Ayah sendiri juga lebih percaya dengan hasil studi WHO; berdasarkan metode penelitian yang digunakan, sampel yang diambil (jumlah sampel dan asal sampel), serta keketatan pengukuran yang dilakukan.

Namun dari studi WHO pun masih ada beberapa pertanyaanku yang belum terjawab. Benarkah kelima kota dari kelima negara tempat studi dilakukan, memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan bayi di Indonesia? Mungkin iklim, pola makan, atau variabel-variabel lain, menjadi pembeda bayi Indonesia dengan lainnya. Negara paling dekat dari Indonesia adalah India. Namun apakah kedekatan itu menjamin? Benarkah hanya dari 5 kota, sudah cukup menggambarkan keseluruhan populasi dunia? (meskipun isu ini mungkin berkaitan dengan keterbatasan sumber daya manusia dan biaya untuk melakukan studi)

Meski masih banyak pertanyaan, growth chart WHO ini menurutku masih yang paling baik yang ada saat ini, dan dapat dipercaya. Ilmu pengetahuan, khususnya bidang kesehatan, masih berkembang. Kita tunggu saja hasil studi yang lebih baru; atau hasil studi yang kontekstual di Indonesia.

Bacaan lebih lanjut
de Onis, M., Garza, C., Onyango, A. W., & Borghi, E. (2007). Comparison of the WHO child growth standards and the CDC 2000 growth Charts1. The Journal of Nutrition, 137(1), 144-8. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/197440236?accountid=17242

WHO growth chart

CDC growth chart 

 

One thought on “Growth Chart WHO dan CDC

  1. Pingback: Tongue & Lip Tie - aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *