Hello, Dear iBT

Setelah mendaftarkan dan mempersiapkan diri untuk tes TOEFL iBT, aku akhirnya sudah siap tempur.

Hari H-nya

Aku dapat jadwal tes di Plaza Sentral, Sudirman. Awalnya kupikir akan di Menara Imperium, Kuningan. Namun ternyata di hari itu hanya ada di Plaza Sentral. Tesnya akan mulai jam 09.00, sehingga aku memutuskan berangkat jam 06.30-an dari rumah (maklum, sering cemas kalau datang telat).

Baru keluarkan motor dari garasi, hujan deras mengguyur rumahku. Tanpa ba bi bu, kupakai jas hujan dan menerjang hujan. “Ayo jangan berpikiran negatif. Pasang optimisme dalam kepalaku!” begitu usahaku melawan keluhan, yang mungkin berdampak pada menurunnya kesiapan mengerjakan ujian.

Sampai Sudirman, motor dan jas hujan basah kuyup, mengingat hujan yang amat deras. Celanaku pun sedikit basah.

Sesampainya di lt. 15, aku langsung mendaftar ulang pada panitia yang sudah siap. Ada beebrapa hal yang dikerjakan ketika daftar ulang:

  1. menunjukkan confirmation ticket,
  2. mengisi surat pernyataan,
  3. menandatangani form peminjaman loker untuk menyimpan barang bawaan kita,
  4. menunjukkan paspor atau KTP,
  5. diambil fotonya oleh panitia, untuk dimasukan dalam sertifikat.

Setelah sudah siap semuanya, aku ternyata sudah boleh masuk dan mengerjakan tes jam 08.30. Aneh pikirku. Padahal di jadwal tertulis jam 09.00 tes dimulai. Ternyata, setiap orang bisa memulai sesudah mereka siap. Nah, konsekuensinya akan ada peserta yang sudah lebih dulu selesai dari yang lainnya. Lebih jauh, bisa jadi akan ada orang yang tiba-tiba ngomong sendiri lebih dulu daripada kita. Jadi, bagi yang sering merasa cemas kalau orang lain sudah lebih dulu selesai, aku sarankan datang dan ikut tes lebih awal.

Begitu masuk ke ruangan tes, di dalamnya kulihat ada sekitar 20-30an meja dengan laptop berinternet di atas mejanya. Plus, ada headphone, pensil dan kertas buram untuk mencatat. Perlu diingat bahwa kita hanya diberi 3 kertas. Jika sudah habis, baru kita boleh minta ganti. Secara umum, perlengkapan untuk tes, sangat memadai. Minusnya hanya ruangan yang dingin, apalagi buat aku yang baru kehujanan.

Selepas berdoa, akupun memulai perjuangan.

Mengerjakan Tes

Seperti diceritakan dalam les persiapan iBT, akan ada 4 kemampuan berbahasa inggris yang akan dinilai: reading, listening, speaking dan writing. Soal-soalnya pun tak jauh beda. Jadi, bagi yang pernah ikut les persiapan iBT di LBI FIB, tak perlu khawatir, karena pasti sudah terbiasa dengan soal-soal tersebut.

Soal pertama hingga kesekian adalah materi reading. Aku lupa ada berapa soal. Berikutnya adalah soal listening. Secara umum, soal-soal di kedua bagian tersebut agak lebih sulit daripada yang kukerjakan dalam les persiapan (walaupun aku akhirnya bingung kenapa bisa mendapat skor 27 dan 29 di kedua bagian itu).

Selepas kurang lebih pukul 10.30, aku sudah menyelesaikan 2 bagian tersebut. Aturannya, jika sudah selesai ada 10 menit sesi istirahat wajib. Peserta tes wajib keluar dari ruangan untuk istirahat di luar. Setelah 10 menit, panitia akan memanggil kita. Di luar, aku ngobrol-ngobrol dengan panitia; tentang rencana sekolah lagi, tentang kapan hasil tes bisa keluar, dsb.

Selepas 10 menit, aku dipanggil memasuki ruang tes kembali. Panitia yang tadi kuajak ngobrol, memberikan ucapan semoga berhasil. “Amin,” kata sekaligus doaku.

Sekarang aku akan menghadapi bagian tersulit dan yang paling kucemaskan. Bukan karena bagian ini sulit, namun karena aku sering grogi ketika menjawab pertanyaan yang mengharuskan aku berpikir dan berespon cepat. Hal ini menjadi kendala bagiku ketika menjawab pertanyaan. Namun aku sudah siap. Akan kuterjang soal-soal tersebut.

Satu, dua, tiga, hingga soal speaking terakhir berhasil kujawab. Sejujurnya aku merasa tidak percaya diri dengan jawabanku. Begitu pula dengan bagian berikutnya; writing. Aku merasa di bagian ini adalah kelebihanku. Namun ketika mengerjakan tes, aku kesulitan. Tema yang harus kutulis agak sulit. Bahkan aku menuliskan kalimat terakhir di detik-detik terakhir. Tak biasanya aku begitu.

Meski begitu, akhirnya aku menyelesaikan keseluruhan tes hingga pukul 12.00-an. Setelah melaporkan pada panitia dan memeriksa kelengkapan, aku meninggalkan ruang tes. Di luar, ketika aku mengambil tas di loker, sorang panitia bilang padaku, “Mas, jangan ngambil hape ya.”

Aku bingung. “Kenapa gak boleh?”

Langsung saja kubilang, “Saya udah selesai kok.”

“Ooh, sudah toh. Cepet juga ya. Jarang ada yang bisa cepet selesai,” katanya.

“Hihihi. Belum tau aja dia. Kecepatan ini sebenarnya karena sudah tak bisa ngerjain lagi, dan untuk membuat peserta lain panik,” pikirku dalam hati.

Setelah itu, aku mengembalikan kunci loker, ke WC, turun dari lantai 15, dan menyenangkan diri sendiri dengan membeli makanan di sebuah restoran cepat saji di gedung tersebut.

Apa yang Kudapat

Selama masa persiapan hingga pengerjaan tes iBT, ada beberapa pelajaran yang bisa kupetik:

  1. Persiapan teknis (latihan membaca, menulis, dll) itu penting. Namun tak kalah penting persiapan fisik dan psikis. Istirahat dan makan yang cukup. Tak perlu cemas berlebihan, sebab inilah yang bisa membuat kita tak bisa berpikir dan mengerjakan soal dengan baik.
  2. Daftar tes jauh-jauh hari, sehingga tidak grasag-grusug menjelang hari tes dan mengurangi waktu persiapan.
  3. Optimis sebelum mengerjakan. Percaya diri juga penting. Namun berserah diri atas hasilnya juga penting. Jangan sampai merasa down jika merasa tak mampu mengerjakannya.

Akhir kata, semoga pengalamanku ini bisa bermanfaat buat pembaca semua.

PS: to all of my iBT preparation class, good luck for the test! I’m waiting to hear some good news about the results. πŸ™‚

7 thoughts on “Hello, Dear iBT

  1. Mas Triatmoko, boleh di share tidak, bagaimana keadaan ruang test di plaza sentral lantai 15 itu?

    saya baca katanya memakai laptop. apakah disediakan mouse juga? (repot seandainya hanya memakai trackpad di laptop.. hehehe)

    lalu mas tulis di atas bahwa disediakan earphone? sekedar memperjelas, yang diberikan earphone atau headphone mas? kalo earphone berarti berisik sekali donk, karena suara orang lain bisa ikut terdengar.

    oh ya, bagaimana dengan jarak antar peserta mas? apakah cukup nyaman jauhnya? sempat di beberapa blog saya baca bahwa ada tempat test ibt yang duduknya berdempetan sehingga sangat membuyarkan konsenterasi.

    saya sedang rencana mengambil ibt toefl di plaza sentral untuk modal cari beasiswa ke luar mas.. hihihi.. πŸ˜€

    mohon replynya mas. Trims. πŸ˜€

    • Ruangan menurut saya cukup nyaman. Jarak tiap orang, sekitar 20-30cm. Laptop pun disediakan mouse sendiri.

      Untuk listening, disediakan headphone (maaf, saya salah memahami beda earphone dan headphone :p), jadi suara tidak terlalu mengganggu; meskipun suara peserta lain masih terdengar juga.

      Kendala saya hanya suhu ruangan yg dingin sekali. Disarankan memakai baju tebal atau lengan panjang atau jaket.

      Kalau saya, agar konsentrasi, saya fokus pada yg saya kerjakan, bukan pada kehadiran orang lain atau suara mereka. Itu cukuup membantu saya kok.

      Semoga berhasil Mas Edo untuk aplikasi beasiswanya!

      Tahun ini saya belum berhasil dapat beasiswa, meski sudah diterima di universitasnya.

      • Wah, cepat sekali dijawabnya. Terima kasih infonya. Tulisannya amat membantu saya. Salam sukses juga untuk ke depannya. πŸ˜€

  2. Jangan tes di Plaza Sentral. Seharusnya semua peserta start pada waktu yg sama agar tidak mengganggu, tp yang terjadi di Plaza Sentral (oleh PT ITC) tidak demikian pdhl standar internasional harusnya jdwl sesuai yang ditentukan dan semua masuk bersamaan jadi proctor juga tidak lalu lalang saat ada peserta masuk. Saya pernah tes TOEFL iBT di suatu universitas danΒ  mereka lebih profesional menjaga standar tsb. Di Plaza Sentral sistemnya seenak mereka sendiri dan lantai ruangannya berderik2. Tidak bisa konsentrasi sama skali πŸ™

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *