Interstellar: Angkasa Luar nan Indah dan Imajinatif

Meskipun ditemukan beberapa kelemahan dalam keilmuan di baliknya, Interstellar tetaplah sebuah film yang indah dan memancing imajinasi.

Sabtu (08/11/2014), sehari sejak dirilis di bioskop, aku berkesempatan menonton  Interstellar. Film ini disutradarai oleh Christoper Nolan; orang yang sama yang menyutradarai trilogi Dark Knight, Inception dan juga Memento. Ketiganya mendapatkan rating tinggi di IMDb. Bahkan, baru 2 hari dirilis, Interstellar sudah mendapatkan rating 9.1 di IMDb.

Poster Interstellar dari sini  

Film ini berkisah tentang bumi yang sudah tidak bisa lagi mendukung kehidupan di bumi. Oleh karena itu, umat manusia dipaksa mencari planet lain sebagai rumah baru. Cooper, pilot yang diperankan Matthew McConaughey, bersama timnya pergi melintasi galaksi lewat lubang cacing (worm hole) dan berjumpa dengan Gargantua; sebuah lubang hitam (black hole).

Konsep-konsep astrofisika, seperti lubang cacing atau lubang hitam, di dalam film ini dijelaskan dengan cukup mudah. Konon karena ada seorang astrofisikawan terkemuka, Kip Thorne, sebagai produser eksekutifnya. Namun beberapa kritikan muncul terkait keilmuan di balik film ini. Misalnya, mengapa Cooper bisa selamat ketika berada di dekat lubang hitam? Atau, bagaimana perhitungan relativitas waktu ketika Cooper dan tim tiba di salah satu planet?

Meski ada beberapa kritikan terkait konsep sainsnya, Interstellar tetaplah sebuah film yang indah. Gambaran lubang hitamnya, dianggap bisa diterima secara ilmiah.

Lubang hitam dalam Interstellar diambil dari sini 

Sudut-sudut pengambilan gambarnya pun menawan. Nolan juga memasukkan unsur kekeluargaan yang kental dalam film ini, tidak seperti film-film sebelumnya. Aku ingat beberapa kali ikut menitikkan air mata dalam beberapa adegan film ini, khususnya terkait emosi yang dialami tokoh-tokoh utama. Nilai plus lagi adalah komposisi musik oleh Hans Zimmer, yang juga mengerjakan musik di Dark Knight bersama Nolan.

Dan tentu saja, imajinasi yang dibangkitkan setelah menonton film ini. “Ini mungkin dilakukan ya..”  “Oh ternyata ada ya fenomena alam seperti lubang hitam?” “Kira-kira planet lain seperti ini toh..” “Robot tuh tidak harus seperti manusia bentuknya ya…” Mungkin saja, imajinasi ini akan bisa mendorong manusia untuk menjelajah angkasa lebih dan lebih lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *