Jalan ke Pasar Malam-malam #H3

Setelah mempelajari budaya Korea Selatan secara singkat, hari ketiga diisi dengan pengalaman mereka bangkit dari kemiskinan. Dan malamnya, perjalanan pertamaku naik kereta bawah tanah menuju Dongdaemun.

Seperti kita ketahui, pada tahun 50-an, akibat perang saudara, Korea Selatan mengalami kemiskinan luar biasa. Saat itu, pemimpin mereka mengambil beberapa langkah penting, seperti membuat jalan dari Seoul ke Busan untuk membagikan logistik, fokus pada teknologi, meningkatkan hubungan baik antara pemerintah dan industri, fokus pada pendidikan dan industri. Hasilnya, saat ini mereka menjadi salah satu yang terkuat dalam industri teknologi.

Selepas penyampaian materi dan makan malam, kami beranjak keluar gedung. Niatnya hendak ke daerah Gangnam. Udara 0 derajat menyambut kami di luar. Kami lalu naik bus KOICA sampai ke stasiun Yangjae. Jaraknya sekitar 15-20 menit dari tempat kami menginap. Ternyata, kami tak jadi ke Gangnam, melainkan ke Dongdaemun. Konon di sini banyak tempat berbelanja.

Stasiunnya sangat rapi, jika dibandingkan dengan stasiun commuter line yang dimiliki PT. KAI. Untuk bisa naik kereta, kami hanya perlu meletakkan kartu yang sudah diisi sejumlah uang (kartu kami berisi 5.000 KRW) dan kami diperbolehkan masuk peron.

Jalur kereta

Jalur kereta

Proses ini kurang lebih mirip dengan commline. Kami naik kereta, yang juga relatif mirip dengan commline. Ada pula sistem transfer ke jalur lain. Kami pindah di Euljiro 3(sam)-ga untuk menyambung ke Dongdaemun history park and culture. 

Sampai di sana, suhu masih dingin. Kami berpisah berbelanja sesuai keinginan masing-masing. Aku pergi ke beberapa toko kosmetik, membeli titipan. Lalu pergi ke sebuah mall, untuk mencari suvenir. Dari kedai info turis, kuketahui di supermarket Doota lantai 5 ada tempat berjualan suvenir. Maka aku segera ke sana. Ternyata benar!

Pasar di Dongdaemun

Pasar di Dongdaemun

Di pojokan, sebuah toko suvenir dengan pedagang yang sedang melayani pelanggannya. Ajaibnya, mereka bisa berbahasa Indonesia. Bahkan salah satunya lancar sekali, macam penjual di kawasan Mangga Dua.

Di situ terdapat berbagai suvenir, mulai dari kaos, gantungan kunci, kartu pos hingga boneka berbaju korea. Untuk kaos, dihargai 12.000 KRW. Gantungan kunci bervariasi, mulai 8.000-10.000 KRW. Kartu pos lebih murah, hanya 1.000 KRW. Setelah memilih beberapa, aku membayarnya (dan masih mencoba minta diskon, namun gagal).

Kami pun beranjak pulang lagi, karena sudah pukul 10 malam. Perjalanan pulang terasa lebih enteng, karena sudah tahu jalan pulang. Tanpa kesulitan, kami pindah dari 1 jalur ke jalur menuju Yangjae, dan lanjut naik taksi kembali ke KOICA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *