Kapan Kamu Keluar, Nak?

Dear Kakak,

Ayah sudah pulang dari Bandung. Meskipun tidak membawa predikat juara, namun ayah senang bisa bertemu dan menunggumu untuk menemui dunia luar. Namun kapan kamu ingin keluar?

Kakak, kamu sudah pintar sekali. Kamu tidak keluar saat ayah sedang di Bandung. Padahal ayah dan ibu sudah dag dig dug karena rencana Mbandung itu. Di sana, ayah bertemu teman-teman baru, suasana baru dan tentunya pengalaman baru.

Kedua rekan ayah mendapatkan juara 1, dari laboran dan juga pustakawan. Tapi ayah tidak. Tidak apa-apa, kak. Mendapatkan pengalaman baru, sudah cukup untukku. Tidak hanya itu, ayah pulang membawa food for thought, untuk dipikirkan.

Setelah kembali, kami sudah masuk usia 39 minggu. Sejauh pemeriksaan dokter, semua nampak baik. Air ketuban masih banyak, posisi kepala sudah di bawah, tali pusar tidak melilit, berat badan cukup. Namun dari pemeriksaan vaginal, kepalamu masih belum masuk sempurna ke panggul ibu. “Masih melayang,” katanya. Jadilah ibu jadi makin rajin jalan, yoga dan nungging-nungging.

Kaget juga ketika diperiksa vaginal. Kami pikir akan pakai alat tertentu. Ternyata hanya pakai tangan kosong. Saat diperiksa, ibu sampai berkeringat dingin. Hiiiiii. Tapi semua demi kakak, jadi ibu terima-terima saja. Hihihi.

Jadi kak, kapan kamu mau keluar? Perkiraan dokter, tanggal 5 atau 6 November, kamu sudah akan lahir. Tanda-tanda juga sudah mulai muncul nih. Kontraksi; meski belum rutin, ada lendir keluar bersama air seni.

Kalau mau keluar, bilang-bilang ya, nak. Ayah dan ibu sayang padamu dan menantimu.

One thought on “Kapan Kamu Keluar, Nak?

  1. Pingback: Menuju Hari Pahlawan - aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *