Kawanku yang Mau Belajar, Tangguh dan Riuh

Aku mendengar kabar tentang penyakitmu di bulan Januari 2017. Tentu kami di kantor terkejut sekaligus sedih mendengarnya. Kami sangat berharap kesembuhan mendatangimu. Namun harapan kami harus dikubur di akhir Maret ini.

 Aku mengenalmu di tahun 2007, hingga akhirnya berlanjut hingga 2017 ini. Tak terasa sudah 10 tahun kita menjadi rekan kerja.

Karena itu, semua rekan di kantor, terkejut mendengar sakit yang kau derita. Apalagi mendengar engkau sempat pingsan di kantor; sendirian. Kejadian yang kemudian menjadi awal kesulitan akhir yang kau hadapi.

Setelah itu, kami mendengar engkau didiagnosa memiliki tumor di otak. Konon ada 2 buah, berbentuk seperti angka 8. Kami, setidaknya aku, serasa diingatkan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan selalu.

Kawan kami

Yang aku lihat dan dengar, wicaramu jadi terganggu. Engkau nampak sulit mengutarakan yang ada di pikiranmu. Kadang kata dan kalimat sungguhan, kadang nonsense syllables atau kalimat tak bermakna, yang keluar dari mulutmu.

Ketika kita bertemu terakhir kali, engkau sedang mengalami kelumpuhan di sisi kanan tubuhmu. Dengan susah payah engkau menjelaskan kondisi beserta perawatanmu.

Namun di tengah kesulitan itu, engkau nampak seperti biasanya. Penuh canda tawa dan semarak seperti biasanya; meski kurasa ada kesulitan, kesedihan, keletihan dan ketakutan di matamu.

Kuingat kau sebagai pribadi yang tangguh, riuh dan mau belajar.

Ketangguhanmu terlihat dari keseharian aktivitas yang kau kerjakan. Ibu beranak dua, tinggal di Bekasi dan bekerja di Salemba. “Becoming a working mother is challenging, lots of responsibilities in limited time can be very stressful,” kau sendiri bilang begitu.

Belum lagi kau sudah setahun lebih tak memiliki rekan di kantor sana. Belum lupa juga,  anak dan suamimu yang juga baru sembuh dari penyakitnya.

Engkau juga rekan kerja yang riuh; dalam arti yang positif. Rekan-rekan senang berada di dekatmu. Bawaannya hepi jika bersamamu; baik itu rekan sekantor atau beda kantor. Kami pasti akan merindukan keriuhanmu.

Engkau juga mau belajar. Keuangan, komputer, sampai psikologi, engkau mau pelajari. Mimpimu yang belum terwujud adalah untuk mengambil kuliah S2.

“Dia mau belajar untuk mengatasi kekurangan atau ketidaktahuannya,” kepala kantor kita juga mengakui hasrat belajarmu.

Sampai akhirnya kemarin malam jantungmu berhenti berdenyut. Suami dan keluargamu sudah merelakan. Kami pun harus juga. Air mata kami mengalir bersama keikhlasan melepasmu.

Seperti kutipan yang kau tulis, “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” Kami yang kau tinggalkan, tetap harus berjalan dalam kehidupan.

Sampai jumpa lagi, Dyan. Kami yakin kini engkau sudah di tempat yang lebih indah. 

 

Mengenang kawan kami,
Dyan Ekawati
13.06.1980-26.03.2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *