Kritis Sebelum Makan

Aku selalu yakin bahwa mampu berpikir kritis di era modern ini, sangatlah dibutuhkan. Tesis S2-ku bertema berpikir kritis dalam pembelajaran online. Malam ini aku makin diingatkan bahwa kemampuan tersebut sangat penting; bahkan dalam urusan makan.

Kurang mantap kalau bulan puasa tanpa berbuka puasa bersama. “Padahal puasa pun aku tidak.” Sore ini bertempat di sebuah tempat makan, aku dan beberapa rekan sekantor, berbuka puasa bersama. Kami makan di sebuah restoran bakso, sebut saja bakso-hatihati-awas-tertembak-di-lapangan-dekat-lapangan-bola.

Aku menemukan sebuah menu menarik. Bakso spesial, bakso istimewa, dan bakso penyet. Ketiganya berharga sama, Rp23.000. “Aneh juga ya, apa beda spesial dan istimewa?”

Dari pramusaji, aku tahu bahwa bakso istimewa, ada isi bakso goreng namun tanpa mie. Sedangkan bakso spesial, tidak ada bakso goreng namun pakai mie. “Pembagian yang aneh..”

“Kalau bakso penyet apa mbak?”

“Baksonya pakai sambel penyet di atasnya, tanpa mie.”

Langsung terbayang bakso tanpa mie, berkuah, dan pedas. “Asik nih kayaknya.”

“Bakso penyetnya satu ya mbak.”

Tak lama berselang, pesananku datang.

Sepiring bakso goreng dan semangkuk kecil sambal penyet sampai di hadapanku. Piringnya berbahan tanah liat; semacam piring zaman dahulu. Dalam piring itu, kurang lebih ada 7-8 bakso. Apakah ada mienya? Tidak. Apakah ada kuahnya? Tidak. Apakah ada sambalnya? Iya. Apakah ada baksonya? Iya. Apakah ada timun? Ada. Apakah ada daun selada? Ada.

“Untuk apa 2 terakhir muncul bersama bakso?”

Musnah sudah angan makan bakso dengan kuah panas, segar dan sedikit pedas. Hanya bisa elus dada, dan tetap bersyukur, meski berasa apek mengingat harga seporsinya.

Pelajarannya jelas: kritis! Tanyalah dengan jelas. Jangan berangan-angan. Sekali lagi jangan berangan-angan. Jangan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *