Kuliah Umum Diagnosa Autisme

Jumat, 21 November 2014, aku berkesempatan menghadiri kuliah umum Peter Newcombe. Ia adalah profesor dan peneliti dari University of Queensland, yang banyak bergerak di bidang psikologi perkembangan anak, seperti kualitas hidup atau kesejahteraan psikologis. Dalam kuliah kali ini, ia memaparkan penelitian bersama mahasiswanya dengan judul Psychology in Developing Country: The Case of Diagnosing Autism.

Sesungguhnya, merasa agak tertipu, karena tema yang tertulis di undangan kuliah umum adalah tren terkini penelitian di psikologi. Nyatanya adalah tentang autisme. Namun tak masalah, pengetahuan baru adalah pengetahuan yang layak dipelajari.

Newcombe dan mahasiswa bimbingannya menjalankan penelitian yaitu mengadaptasi instrumen untuk mengidentifikasi anak-anak Indonesia dengan autisme, yaitu ADEC (Autism Detection in Early Childhood). Autisme sendiri adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan ketidakmampuan komunikasi dan interaksi pada anak, di 3 tahun pertama usianya.

Proses identifikasi menjadi krusial, karena autisme tidak bisa disembuhkan. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah melakukan identifikasi sehingga anak tersebut bisa diajarkan keterampilan-keterampilan untuk bisa hidup dengan baik di masyarakat.

gambar diambil dari sini

Alasan penelitian ini dijalankan adalah karena budaya di Indonesia berbeda dengan budaya di mana alat identifikasi tersebut dikembangkan (mayoritas di negara barat, berpendidikan, negara industri, tidak dalam kemiskinan, dan negara demokrasi). Selain itu, ADEC adalah salah satu alat identifikasi yang paling murah. Harganya sekitar 2 juta rupiah; dibandingkan dengan alat lain yang bisa mencapai 20-an juta rupiah.

Penelitian dilakukan di Jakarta, dengan sekitar 82 partisipan. Alat ukurnya berisi 16 item obervasi, yang bisa dilakukan sekitar 10-15 menit. Skor maksimal alat ini adalah 32, sedangkan ambang batas autisme berada di skor 11. Makin mendekati 32, anak teridentifikasi autis. Alat-alat bantu yang digunakan seperti alat perekam video hingga mainan yang biasa dimainkan anak Indonesia.

Hasil penelitiannya menggembirakan. Kemampuan alat ukur ini untuk mengidentifikasi anak autis cukup tinggi (reliabilitas sekitar 0,8, di atas ambang batasnya 0,7). Kemampuannya untuk tidak mendeteksi anak yang tidak autis juga tinggi.

Namun dari 16 item, ada 1 item yang bermasalah. Item tersebut berisi, kurang lebih “anak waving goodbye“. Sedangkan di budaya Indonesia, jika anak akan pamit, ia akan melakukan “salim”. Karena alasan budaya juga, aku kurang sepakat dengan kesimpulan bahwa alat ini bisa dipakai di Indonesia. Alasannya, sampel hanya diambil di Jakarta. Mungkin hanya bisa digeneralisir sebatas penduduku Pulau Jawa saja.

Alat identifikasi autis ini menurutku sangat menjanjikan. Akan banyak anak-anak autis yang akan teridentifikasi, dan akan bisa mendapatkan intervensi sejak dini. Sehingga nantinya akan mendapatkan pendidikan yang tepat dan mampu bertahan hidup di dalam masyarakat.

4 thoughts on “Kuliah Umum Diagnosa Autisme

  1. alat identifikasi seperti apa ya mas .. bisa dicobakan untuk anak saya karena didiagnosa autis high function oleh psikolog di salah satu RS. tapi sy masih blm yakin. makasih..

    • Nama alatnya adalah ADEC (Autism Detection in Early Childhood) versi Indonesia. Sayangnya saya tidak memiliki alat ini, karena kemungkinan berbayar dan autisme bukanlah bidang keahlian saya.

      Saran saya hubungi saja penelitinya (warga negara Australia) melalui email (bisa dilihat di http://researchers.uq.edu.au/researcher/2), lalu minta dihubungkan dengan mahasiswa bimbingannya dan bicarakan dengan dia.

      Setahu saya, dari paparan Mr. Newcombe, peneliti yang mengadaptasi alat tersebut sangat bersemangat memperkenalkan alatnya ke Indonesia.

      Semoga membantu :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *