Laki atau Perempuan?

Dear Kakak,

hari yang ditunggu telah tiba. Ayah dan ibu dapat tahu jenis kelaminmu. Sebulan lalu, sudah muncul sedikit tonjolan di area kelaminmu, namun Dokter Ovy belum berani menyimpulkan apa-apa. Jadilah kami perlu menunggu hingga hari ini.

Seperti biasa, rasa suka cita ingin berjumpa denganmu, selalu hadir menjelang jadwal bertemu dokter. Kali ini penyebabnya adalah untuk melihat kamu itu laki-laki atau perempuan.

Begitu dokter memeriksa, ia langsung menemukan kakak dan tonjolan seperti gunung di dinding rahim. Menurutnya, tonjolan itu karena dinding rahim berkontraksi, sehingga rahim mengerut. Pemicunya diduga adalah keletihan ibu, karena seminggu kemarin ia sibuk dengan Kekoci di Summer Club Sekolah Kembang. Pukul 7 pagi sudah berangkat hingga pulang sekitar pukul 13. Sorenya belanja bersama ayah.

Tonjolan ini jadi tanda peringatan, khususnya bagi ibu, mengingat 4 hari ke depan masih ada Kekoci lagi. Alhasil ibu pun diberikan suplemen untuk melemaskan otot rahim, yang perlu dikonsumsi seminggu ke depan.

Lalu, waktu yang ditunggu pun tiba. Dokter mengarahkan pemindai ke area kaki kakak, berharap menemukan suatu tanda. Geser kanan, geser kiri, namun belum juga terlihat tanda itu. “Tertutup kaki,” begitu Dokter Ovy bilang. Ia melihat bayangan tonjolan. Namun lagi-lagi tidak dapat menyimpulkan hasil amatan tersebut. Jadilah kami perlu menunggu sebulan lagi.

Dari kunjungan kali ini, kami diingatkan lagi untuk menjaga asupan ibu. Berat badan ibu didorong untuk dinaikkan, setidaknya setengah kilo per bulan. Namun maksimal hanya 2 kilo lagi kenaikannya hingga bulan depan.

Ibu juga diingatkan untuk mengurangi makanan olahan tepung. Menurutnya, makanan tersebut, khususnya di Indonesia, tidak berisi apa-apa. Protein minim dan hanya banyak gula. Beda dengan tepung-tepung di luar negeri.

Selain itu, ibu perlu menghindari makanan laut, kecuali ikan. Ada 2 alasannya. Pertama, jarang ada ikan yang tidak berformalin, karena perahu nelayan Indonesia, masih banyak yang tidak ada “kulkasnya”. Sehingga butuh formalin untuk menjaganya tetap segar setelah ditangkap. Kedua, limbah logam di perairan Jakarta yang konon berbahaya bagi kerang. “Kulit kerang saja terdistorsi karena limbah, apalagi bayi?” begitu katanya.

Ibu disarankan makan ikan yang ketika dipesan, masih hidup. Atau bisa juga ikan air tawar. Selain itu juga didorong makan kacang-kacangan (sudah minum jus kacang hijau langganan, dooong) 😀

Kakak, kita jumpa bulan depan ya. Semoga kamu tidak malu-malu lagi untuk menampilkan itu ya 😀

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *