Lebih Berhasil Kalau Masuk IPS

Pencapaian terbesar hari ini adalah membereskan kamar dan membuang “sampah-sampah” di dalamnya! Kertas-kertas, buku-buku, kardus-kardus yang semuanya tak terpakai, berhasil dibuang dan kemudian dibakar.

Sembari bersih-bersih, aku menemukan hasil pemeriksaan psikologis saat SMA dulu. Senyam-senyum sendiri bacanya. Sebab jika dipikir-pikir, ada benarnya juga. Ini hasilnya.

Inteligensiku skornya 117, dan itu tergolong cerdas. Hanya 1 tingkat di bawah “sangat cerdas”. Dari skala 1-25, logika abstrakku adalah yang tertinggi, yaitu 21; tergolong istimewa. Lalu berturut-turut logika verbal (19), verbal dan mental alertness (18). Kemampuan non verbal, pemahaman umum dan hasrat berprestasi adalah yan terakhir dalam kategori “baik” (16).

Meski demikian, skor teknik mekanikku adalah yang paling rendah, 10, dan masuk kategori rendah. lalu disusul ketelitian dan penyesuaian diri (11) dan kemandirian (12).

Dari skor-skor ini, aku disarankan masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Selain angka-angka, hasil laporan psikologisku juga ada yang berbentuk narasi. Sebenarnya sih, narasi ini hanya bentuk cerita dari angka-angka sebelumnya. Yang berbeda hanya bahwa aku disarankan, “banyak melatih diri dalam hal kemandirian, kerja sama dan meningkatkan usaha dalam bidang studi ekonomi serta lebih banyak membaca buku atau media lain yang dapat memperluas wawasan.”

Kalau kulihat diriku sekarang, memang kemampuan-kemampuan terkuatku cukup sesuai dengan kondisi sebenarnya. Begitu juga dengan kemampuan-kemampuanku yang kurang. Dan yang paling seru adalah, ketika memutuskan masuk IPS dan menjalaninya, tak disangka aku masuk 3 besar siswa IPS terbaik (sesekali sombong ah).

Entah sadar atau tidak, tampaknya hasil pemeriksaan di atas, mempengaruhi keputusan-keputusanku berikutnya. Saat naik kelas 3, aku memilih jurusan sosial, meski diberi pilihan masuk IPA oleh wali kelas. Saat hendak UMPTN, aku pun memikirkan opsi masuk fakultas ekonomi; meski akhirnya memilih psikologi.

Hebat juga si “peramal” yang membuat laporan psikologisku. Namun bagaimana jika pemeriksanya tidak kompeten? Dan yang dites mempercayai hasil pemeriksaan yang tak reliabel itu. Duh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *