Lebih Dari yang Kutahu #H2

Kupikir Korea Selatan hanyalah seputar K-pop, Park-Ji Sung dan pemuda-pemudi yang mengoperasi wajahnya. Namun ternyata lebih dari itu. Ada hikmat dari sejarah negara tersebut yang bisa dipelajari; dan hari ini permulaannya.

Pada hari kedua, rombongan kami memulai aktivitas pelatihan dengan pembukaan dari salah satu direktur KOICA di Asia Tenggara. Selanjutnya kami diceritakan sejarah Korea Selatan dan beberapa budayanya. Salah satu yang menarik dari Korsel adalah bagaimana mereka dalam waktu sekitar 50-an tahun, bisa berubah dari negara miskin korban perang saudara, menjadi salah satu raksasa di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Pencerita hari itu, Seok-Hoon You adalah seorang ahli bahasa dari Korea University. Ia mengisahkan bagaimana perang saudara antara Korea Utara dan Selatan menyebabkan kemiskinan dan kehancuran bagi Korsel. Pada tahun 50-an, Korsel adalah negara penerima bantuan, seperti barang-barang bernilai 3 juta dolar Amerika. Saat ini, sejak tahun 90-an, ia sudah menjadi negara donor. Pendapatan domestik kotor pun meningkat dari 1.3 dolar Amerika pada tahun 1953 menjadi 1.467 dolar Amerika. Mereka sendiri menganggap fenomena tersebut sebagai keajaiban. Karena itu ada istilah “Miracle Korea.”

Selain sejarah, kami juga diajari beberapa istilah atau kalimat percakapan dalam Bahasa Korea. Jika bertemu orang, bisa gunakan¬†an-nyeong-ha-sey-yo,¬†yang sama artinya dengan “apa kabarmu?” “selamat pagi/siang/sore.” Jika ingin berterima kasih, gunakan¬†gam-sa-ham-ni-da.¬†Jika ingin ke toilet, katakan¬†hwa-jang-sing eo-di-ye-yo,¬†atau cukup kata pertamanya saja. Dan yang tak kalah penting adalah¬†jom kka-kka-jwu-sey-yo,¬†atau kasih diskon dong gan.

Selepas kegiatan, serombongan mencoba menjelajah daerah sekitar. Karena kami selesai sekitar pukul 7 malam, kami pergi jalan saja kemana kaki melangkah. Konon katanya jalanan di Korsel amatlah aman. Dan selama satu jam kami berjalan, nampaknya itu bukan hanya isapan jempol belaka. Memang aman adanya jalanan di sini. Namun suhu 0 derajat dan hujan rintik menjadi teman yang tidak mudah; mengingat biasa di kawasan tropis yang panas.

Turis-turis mejeng di halte

Turis-turis mejeng di halte

Di jalan kami jumpa dengan warung-warung kelontong. Sayang sekali karena kota kecil, tak banyak yang bisa berbahasa Inggris. Di warung pun kami menggunakan bahasa isyarat, untuk membeli. Tunjuk ini itu, lalu pedagang menunjukkan harga di kalkulator. Kalimat yang bisa kami katakan hanya annyeonghaseyyo. Namun itu juga sudah cukup untuk mendapatkan sebotol susu kedelai hangat seharga 1.200 KRW. Sluurrrrp!

One thought on “Lebih Dari yang Kutahu #H2

  1. Pingback: Jalan ke Pasar Malam-malam #H3 | aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *