Lupa Merasa Dalam Pendidikan

Sudah hampir sebulan sejak tulisan terakhirku. Selama periode tak-menulis itu, aku menjadi fasilitator atau narasumber dalam pelatihan bagi dosen di kampusku. Mulai dari pelatihan perancangan pembelajaran, keterampilan mengajar, pembelajaran elektronik, hingga pelatihan pendidikan jarak jauh. Meski melelahkan, tapi banyak insight yang kudapat dari situ, salah satunya terkait perasaan.

Insight yang kudapat, berhubungan dengan capaian belajar. Aku mengenal adanya taksonomi Bloom. Menurut Benjamin Bloom, ada 3 ranah capaian hasil pembelajaran. Kognitif, atau kemampuan berpikir. Afektif, atau kemampuan dalam hal rasa, keyakinan atau sikap. Dan psikomotor, atau kemampuan badaniah atau koordinasi otot.

Ranah pertama dan ketiga menurutku cukup terjamah dalam pendidikan kita (setidaknya begitu kesimpulan dari interaksiku dengan dosen-dosen di kampusku). Ranah afektif adalah yang sepertinya  terlupakan. Dugaanku karena mengukur perasaan, sikap atau kepercayaan merupakan sesuatu yang sulit. Kami yang belajar konstruksi alat ukur psikologi saja, kelimpungan ketika diminta mengukur sikap. Apalagi yang tidak belajar.

Kenapa ini penting? Beberapa dosen menjelaskan kepadaku mengenai apa yang mereka harapkan dapat dicapai oleh mahasiswa. Seorang dosen, yang juga adalah seorang auditor, berkata, “mahasiswa bisa menjadi auditor yang beretika.” Artinya, mahasiswa tersebut tidak hanya memiliki kemampuan meng-audit, namun melakukan audit sesuai dengan etika yang berlaku. Lebih jauh lagi, mahasiswa tersebut haruslah menjadikan etika tersebut menjadi pemandu perilakunya.

“Afektif banget ini sih,” begitu pikirku.

Namun, dosen tersebut kebingungan bagaimana proses evaluasinya. Bagaimana mahasiswa tersebut bisa dibimbing, sampai akhirnya tertanamkan etika menjadi auditor?

Nampaknya kebingungan ini juga terjadi secara umum di pendidikan kita (konon kabarnya kurikulum 2013 sudah mengarah kepada perbaikan dalam ranah afektif). Sejak sekolah dasar, aku belajar PMP; menyeberangkan nenek-nenek, tidak mencuri, membuang sampah pada tempatnya. Namun sepertinya hanya berhenti di cukup tau aja. Penerapannya, ya lain soal. Sepertinya penanaman sikap atau nilai tidak berjalan dengan baik. Kembali, dugaan sementara mengarah pada kesulitan yang ditemui oleh pendidik.

Kurang lebih seperti inilah hasil penanaman sikap berkendara yg baik, yang tidak berjalan dengan baik. Gambar diambil dari http://assets.kompas.com/data/photo/2015/04/02/2132237gani780x390.jpg

Kesulitan akan menjadi makin sulit ketika muncul alternatif penyelenggaraan pembelajaran dalam jaringan (daring/online). Di kelas saja sulit, apalagi di internet?

Sejauh ini, nampaknya aku ingin fokus pada strategi mengembalikan ranah afektif di tempat yang semestinya: sejajar dengan ranah lainnya, atau lebih penting; tergantung kebutuhan. Dan mungkin mengaitkannya dengan pembelajaran daring.

Mari kita coba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *