Makan Mie Rebus Bersama Ya

“Aku juga ingin punya anak,” kurang lebih itulah tujuan yang ingin kakakku. Dan ternyata, itulah jalan yang telah disiapkan Tuhan baginya.

Namanya Veronica Mariana Dwi Astuti. Aku memanggilnya, Mbak Tuti. Kalau di luar, ia dikenal sebagai Vero. Tahun ini ia berusia 38 tahun. Ia menikah pada tahun 2016, tak lama setelah aku. Mei 2017, ia melahirkan seorang laki-laki, namanya Elven. Kakak si Ncis, tapi usianya lebih muda.

Namun di tahun 2018, kegembiraan itu ternyata tergantikan oleh berita bahwa mbak memiliki kanker payudara. Ia menjalani pengobatan di beberapa tempat.

Waktu berjalan begitu cepat. Yang berikutnya kami tahu, bahwa kemungkinan kankernya sudah menyebar. Beberapa bulan belakangan ini, ia sering sesak nafas. Perutnya pun penuh terisi cairan. Perutnya terpaksa dibuatkan saluran untuk mengeluarkan cairan itu. Namun tiap dikeluarkan, kondisinya menurun lagi.

Kami melakukan semaksimal mungkin yang kami tahu, supaya ia mendapat perawatan dan bisa pulih. Bersyukur, tahun ini ibu pensiun, jadi memiliki waktu lebih untuk merawat mbak dan El.

Bulan Oktober, mbak menjalani kemoterapi pertamanya. Dari pemeriksaan, kami diinformasikan bahwa kankernya sudah makin sedikit. Kami punya harapan baru untuk kesembuhannya.

Tapi meski begitu, “sampingannya” tetap ada. Dan sepertinya kemoterapi membuat kondisinya makin lemah; kemungkinan karena kondisi awalnya memang kurang fit. Makan juga makin sulit. Badannya makin kurus, ia juga merasa makin lemah.

Kamis, 25 Oktober, ia masuk RS Puri Cinere, karena lemas. Ia minta dirawat, supaya bisa semangat; setidaknya bisa bertahan sampai besok, katanya.

Ia langsung dirawat di bagian HCU. Saat diperiksa, tekanan darahnya anjlok sampai di angka 35. Namun naik lagi berkat bantuan obat. Jumat malam aku sempat bertemu dan ngobrol dengannya. Campur-campur emosiku melihat mbak. Apalagi besok kami berencana pergi liburan.

Jumat pagi aku, istri dan anak berangkat ke Belitung, karena sudah lama kami menyiapkan rencana ke sana. Kami berangkat dengan membawa sedikit getir. Namun saat pesawat kami mendarat, kami diberi kabar bahwa mbak sedang dalam kondisi kritis. Pukul 14 kami langsung menuju Cinere lagi.

Pukul 17 aku sudah kembali ke ruang HCU. Karena hanya boleh dikunjungi 2 orang, aku bersama Mas Aji, suami mbak. Dan setelah diputuskan bersama, kami sepakat memindahkan mbak ke kamar biasa.

Keputusan itu didorong juga oleh keinginan Mbak Tuti. Sehari sebelumnya ia minta untuk keluar dari ruang itu. Ia juga ingin bertemu Elven, sebab setiap kali di rumah sakit, ia tidak bisa bersamanya. Pukul 19.30 ia akhirnya dipindah ke kamar. Keluarga, saudara, tetangga, bergantian menjenguk. Kita juga sempat berdoa rosario bersama.

Mbak akhirnya bertemu dengan Elven. “Mama, mama” begitu kata El saat melihat mbak. Kami tidak tahu apakah ia mendengar atau tidak, karena sudah tidak terlihat jelas reaksinya. Hanya tangan dan kaki yang terlihat bergerak.

Aku memutuskan pulang untuk beristirahat, dan kembali lagi besok pagi. Tak jauh setelah keluar rumah sakit, aku dapat kabar bahwa ia telah tiada. Sabtu 27 Oktober, pukul 21.15 ia telah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter. Kami bergegas kembali ke rumah sakit.

Tangisan sudah terdengar di lantai 5 RS. Ibu yang pertama kali kucari. Ia sudah terduduk dan terisak. Apa yang kualami dan rasakan, tidak sebanding apa yang beliau alami dan rasakan. Aku hanya memberi pelukan untuk menenangkan.

Dari situ aku ke kamar 503, dan bertemu Mas Aji serta Mbak Tuti. Mbak sudah terdiam tak bernafas. Di setiap doa, kami minta kesembuhan baginya. Tapi Tuhan berencana lain, dan mengangkat semua kesakitannya.

Sekarang ia sudah tenang dan tidak sakit lagi. Ia juga menghembuskan nafas terakhir di antara orang-orang yang mengasihinya. Sekarang kami punya tugas baru, melanjutkan tugas Mbak Tuti menghadirkan Elven dan anggota keluarga baru.

Sampai jumpa lagi, Mbak. Nanti kita jumpa lagi suatu waktu. Kita makan mie rebus bersama ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *