Mengapa Takut Hujan?

Selamat! Hampir saja Aku kehujanan..

Semenit saja Aku terlambat berjalan ke rekorat, dari psikologi, tentu Aku sudah menjadi santapan hujan deras. Ketika masih di psikologi pun, aku sudah diajak kenalan hujan rintik. Meneduh di kantin pun harus kulakukan.

Di tengah perjalanan menuju rektorat, kira-kira 400 meter dari tempatku berteduh, Aku pun mulai merasakan hujan yang semakin besar butirnya. Saat itu, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berlari.

Keputusanku tepat. Tak berapa lama setelah masuk gedung rektorat, hujan turun mendera bumi dengan derasnya. Sampai-sampai, air yang turun dalam volume besar itu tampak berwarna putih, dan jika menjatuhi mukaku, akan terasa sakitnya. “Aku beruntung,” pikirku saat itu.

Namun, keberuntungan itu seperti menimbulkan kontradiksi dalam ingatanku. Saat masih kecil dulu, sampai masa SMA, Aku senang sekali hujan-hujanan. Dulu sekali, ketika SD, dengan hanya berlindungkan kaos dan celana pendek, hujan kuterabas. Tidak rintik, tidak deras, semua tak jadi masalah. Dinginnya angin pun tak menyurutkan niatku bermain hujan. Ya, apes-apesnya besoknya Aku sakit panas.

Pernah suatu hari, sepulang dari SMA, Aku dan dua orang teman kehujanan di angkot. Tapi tak hanya “di” angkot, namun di luar angkot. Kami bertiga, karena tak mendapat tempat duduk di dalam, terpaksa bergelantungan di pintu angkot, dalam keadaan hujan lebat. Rambut pasti basah. Muka juga iya. Baju kami, apalagi. Tak ada yang luput darri serangan air dari langit itu. Namun, kami menikmatinya. Kami tertawa-tawa di atasnya. Hujan itu seperti pemanis dalam kenangan masa muda kami.

Saat ini, walau baru mendung yang muncul, Aku sudah mulai mengeluh. “Aduh, mau hujan nih. Nanti kehujanan deh. Kalau kehujanan, nanti bisa sakit nih. bla bla bla.” Apalagi jika sudah hujan, keluhan pastinya makin bertambah,”Yah, jalanan jadi becek. Baju bisa basah. Badan kedinginan. bla bla bla.” Pandanganku dulu terhadap hujan sebagai ladang permainan, seakan berubah menjadi ancaman kesakitan.

Persepsiku inilah yang sepertinya membuatku (atau kalian juga?) jadi lebih rentan pada hujan. Sayang sekali ya. Padahal, seperti kita tahu, hujan termasuk dalam siklus air, yang bermanfaat bagi kehidupan, dan tentunya bagi diriku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *