Menjadi Ayah Perhatian

Berperan sebagai orang tua tidaklah mudah. Tidak ada sekolah khusus untuk hal ini. Mayoritas dipelajari dengan trial and error. Baca sana, tanya sini, tonton di sana, ikut seminar di sini. Itu usaha yang ibu dan ayah lakukan untuk mengasuh Francis, yang kini berusia 8 bulan lebih. Tapi sejujurnya, tetap saja sulit. Salah satu penyebabnya karena lebih banyak informasi kiblatnya kepada ibu. Lalu bagaimana ayah dapat menjadi “ayah yang baik?”

Meski sudah berkuliah hingga jenjang S2 psikologi, namun tak ada mata kuliah khusus tentang penerapan ilmu psikologi ketika menjadi orang tua. Itu saja sudah tidak ada, apalagi tentang menjadi ayah. Padahal, menjadi orang tua, khususnya ayah, ibarat memasuki hutan belantara tanpa perbekalan. Mungkin hanya berbekal pengetahuan dari mencontoh bapak dan ibuku. Alhasil membaca buku, hasil penelitian dan mengikuti seminar, jadi senjata utamaku dalam belajar mengasuh.

Dari penelusuranku, ternyata dalam 30 tahun terakhir riset mengenai pentingnya ayah yang terlibat dalam pengasuhan, sudah makin berkembang. Beberapa di antaranya menemukan bahwa anak yang memiliki kedekatan atau attachment yang kuat dengan ayah, memiliki masalah perilaku yang lebih sedikit, memiliki hubungan pertemanan yang timbal balik, dan memiliki risiko lebih rendah mengalami gangguan psikologis1. Meski demikian, temuan tersebut belum mengindikasikan adanya hubungan sebab akibat2, karena banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi.

Ayah yang Terlibat

Namun apa yang dimaksud dengan “ayah yang terlibat dalam pengasuhan?”

Kevin J. Swick, seorang profesor di bidang pendidikan anak usia dini menyatakan bahwa ayah dapat terlibat pengasuhan pada beberapa aspek1. Pertama, keterlibatan langsung secara sosio-emosional, seperti memahami dan menanggapi apa yang dirasakan oleh anak. Kedua, memberikan contoh bagi anak dalam memberikan perhatian atau kasih sayang kepada orang lain, terutama istri. Ketiga, memberikan dukungan bagi istri. Terakhir, mengajarkan anak untuk memberikan perhatian, seperti dengan menolong orang lain dan memenuhi kebutuhan mereka. Lalu apa pengaruhnya bagi anak?

Pengaruh bagi Anak

Ayah yang menjadi contoh perilaku menyayangi, dianggap sebagai salah satu pengalaman paling berdampak bagi kehidupan anak. Melalui contoh dari ayahnya, anak memperoleh gambaran nyata tentang cara memberikan perhatian serta mendapatkan pengalaman yang konsisten antara contoh dari ayah dan perilakunya sendiri.

Pengaruh berikutnya berasal dari interaksi langsung antara ayah dan anak. Melalui interaksi ini, anak memperoleh gagasan tentang bagaimana cara memberi perhatian. Interaksi langsung ini dapat berupa aktivitas bermain, bekerja, aktivitas sosial maupun saat sedang memecahkan suatu masalah.

Penyediaan lingkungan belajar bagi anak oleh ayah, juga dapat berpengaruh. Contohnya, ayah yang mengatur acara keluarga seperti piknik atau jalan-jalan bersama, membuat anak merasa diterima. Contoh lain, ayah yang menyiapkan aktivitas belajar, jalan-jalan ke perpustakaan dan membantu dalam belajar bahasa, dapat memperkuat keterampilan sosial dan berpikir anak-anak.

Aspek yang tidak kalah penting adalah respon ayah terhadap kebutuhan sosio-emosional anak. Misalkan, ketika anak takut karena mendengar suara petir, ayah memeluk dan menenangkan. Anak-anak dengan ayah yang terlibat, merasa lebih aman secara emosional, percaya diri menjelajahi sekitar dan, ketika makin besar akan memiliki hubungan sosial yang baik dengan teman sebayanya.

Tantangan Menjadi Ayah Perhatian

Memenuhi peran sebagai ayah yang terlibat, tidak mudah karena bermacam tantangan1.

Tantangan terbesar muncul dari masyarakat, yaitu konsep sempit tentang pemegang peran utama dalam pengasuhan. Budaya kita menjadikan ibu sebagai aktor utamanya. Ayah lebih dipandang sebagai pencari nafkah dan pemecah masalah. Bahkan juga dianggap tidak mampu mengasuh.

Ketika bekerja, para ayah juga tidak mendapatkan cuti khusus yang berhubungan dengan keluarganya, atau paternity leave. Ayah tidak mendapatkan cuti, seperti ketika ibu melahirkan.

Terakhir, ayah akan berperilaku seperti yang dicontohkan oleh orang tuanya (khususnya ayah). Ketika dahulu, orang tua (ayah) tidak hadir atau terlibat, ada kemungkinan akan muncul perilaku yang sama ketika anak akan menjadi ayah.

Meski demikian, riset tentang “menjadi ayah” menunjukkan hal yang berbeda. Ayah yang berisiko tinggi; menjadi ayah di usia muda, tidak lulus sekolah, potensi gangguan kejiwaan, hubungan keluarga yang kurang baik, memiliki ayah yang memiliki istri lagi setelah bercerai; tetap dapat menjadi ayah yang kompeten3. Program intervensi bagi pasangan, juga dapat meningkatkan keterampilan ayah ketika bersama bayi4.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mendorong peran ayah yang perhatian. Beberapa di antaranya dapat dilakukan secara individu, namun beberapa mungkin tidak; karena perlu melibatkan masyarakat, pihak industri dan mungkin pemerintah.

Usaha yang mungkin tidak dapat dilakukan sebagai individu, misalnya menyediakan cuti bagi ayah, fleksibilitas kerja bagi ayah untuk menjalankan peran dalam pengasuhan, atau menyediakan program edukasi bagi ayah. Aku merasa sangat bersyukur bekerja di tempat kerja dan bersama kolega yang cukup menghargai peran ayah dan memberikan keleluasaan dalam menjalankannya.

Aktivitas yang mungkin dilakukan adalah dengan membuat jejaring komunitas para ayah. Melalui komunitas, para ayah bisa mendapatkan dukungan dari sesamanya. Di Indonesia sendiri, sudah ada komunitasnya, namun masih terbatas isu ASI.

Bagiku, tidak perlu muluk-muluk, ingin memberi perhatian bagi Francis. Santa Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “go home and love your family.” Itulah yang coba kulakukan.

Ajak main, bacakan buku, gantikan popok, mainkan gitar, gendong-gendong, peluk dan cium, pijat-pijat setelah mandi, ajak berwisata, doa bersama, perhatikan ibunya, memasak makanan saat ibu istirahat, belikan makanan sehat, belajar tentang tahap perkembangan, baca buku tentang bermain, baca jurnal tentang ASI, mencari tahu tentang imunisasi, atau menenangkan ibu saat panik.

Untuk menambah pengetahuanku, membaca buku atau jurnal penelitian, ikut seminar-seminar, nonton di YouTube dan membaca di situs-situs terpercaya, adalah yang paling efektif.

Dan yang penting juga adalah: tidak perlu jaim saat mengasuh. Tidak perlu merisaukan pandangan orang lain. Bagiku, ayah yang perhatian, tidak mengurangi nilai seorang laki-laki.

Bahagia? Tentu! Sulit? Iya! Bosan? Pasti ada. Ingin menyerah? Juga pernah muncul. Ya, itulah pernak-pernik menjadi orang tua.

Semoga itu semua cukup untuk menanamkan pengalaman penuh kasih sayang di dalam ingatanmu, nak.

Daftar Pustaka

  1. Swick, Kevin. J. (2013). Caring Fathers: Empowering Children to be Loving Human Beings. In Pattnaik, Jyotsna. Editor (Ed.), Father Involvement in Young Children’s Lives: A Global Analysis
    (pp. 31–43). doi: 10.1007/978-94-007-5155-2
  2. Lucassen, N., Tharner, A., Van IJzendoorn, M. H., Bakermans-Kranenburg, M., Volling, B. L., Verhulst, F. C., . . . Tiemeier, H. (2011). The association between paternal sensitivity and infant–father attachment security: A meta-analysis of three decades of research. Journal of Family Psychology, 25(6), 986-992. doi:http://dx.doi.org/10.1037/a0025855
  3. Ngu, L., P.H.D., & Florsheim, P., P.H.D. (2011). The development of relational competence among young high-risk fathers across the transition to parenthood. Family Process, 50(2), 184-202. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/870837806?accountid=17242
  4. Doherty, W. J., Erickson, M. F., & LaRossa, R. (2006). An intervention to increase father involvement and skills with infants during the transition to parenthood. Journal of Family Psychology, 20(3), 438-447. doi:http://dx.doi.org/10.1037/0893-3200.20.3.43.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *