Menjadi Penampil Musik

Saya senang bermusik, khususnya bermain gitar, menciptakan lagu, mendengarkan musik dan sedikit bernyanyi. Dosen tamu kali ini, Dr. Weny Savitry S. Pandia, Psi., M.Si, membawakan materi yang sesuai dengan minat tersebut. Dalam presentasinya, pengajar di Universitas Atma Jaya ini memaparkan beberapa hal terkait penampilan musik, atau music performance, mulai dari keterampilan yang dibutuhkan oleh penampil hingga tips mengatasi kecemasan ketika hendak menampilkan musik.

Menjadi seorang penampil di bidang musik memang tidak mudah. Mereka perlu memiliki keterampilan-keterampilan seperti teknik, interpretasi, improvisasi, mengingat dan bermain menggunakan telinga (playing by ear). Misalnya saya, untuk bisa tampil bermain gitar, perlu menguasai teknik memetik gitar atau menekan gitar dengan baik. Ketika membawakan suatu komposisi gitar, saya harus bisa menginterpretasikan suatu komposisi dan bisa menyampaikan kepada penonton. Jika di tengah penampilan saya lupa, perlu keterampilan improvisasi, demi menjaga kenikmatan penonton mendengarkan komposisi yang saya bawakan. Ketika saya bermain musik berkelompok, saya perlu fokus mendengarkan permainan penampil lainnya, sehingga bisa sinkron dalam bermain. Ini yang disebut dengan playing by ear.

Selain keterampilan yang harus dimiliki penampil musik, ternyata ada hal-hal lain yang juga penting dalam penampilan bermusik. Pertama, yang dilihat penonton akan mempengaruhi apa yang mereka dengar. Karena inilah, banyak musisi yang jor-joran dalam menampilkan diri atau musik mereka. Contoh paling nyata misalnya Madonna atau Lady gaga, di mana mereka selalu tampil di panggung dengan pakaian yang wah. Atau misalnya tata panggung band Muse, seperti dalam gambar 1.

Gambar 1 Tata Panggung Muse
http://www.ziogiorgio.com/images/2009/brilliant%20stages/muse_3.jpg

Hal penting berikutnya adalah komunikasi antara penampil dan penonton. Dr. Weny memberikan contoh perbedaan komunikasi antara penampil musik klasik dan juga band musik cadas Metallica. Pemusik klasik dalam ensambel akan mempergunakan gaun atau jas, bermain musik sambil duduk dan tidak ada interaksi dengan penonton. Sedangkan saat konser Metallica, para personilnya akan berteriak menyapa penonton, membuka baju, berlari-lari atau melemparkan sesuatu ke penonton. Keduanya merupakan bentuk komunikasi, namun berbeda karena ada perbedaan genre musik, dan juga budaya yang berlaku di dalamnya.

Hal penting berikutnya terkait stres yang dirasakan musisi. Kita biasa mengenalnya sebagai demam panggung, atau istilah psikologinya adalah performance anxiety. Tanda-tanda kecemasan ini bisa dilihat dari peningkatan aliran darah, peningkatan detak jantung, pencernaan melambat dan ketegangan otot. Pada taraf tertentu, stres sangat bermanfaat, karena akan membuat penampil waspada, sehingga membuat mereka rajin latihan, fokus dan siap tampil. Namun jika stres terlalu besar, justru efeknya akan merusak. Musisi-musisi yang terjerumus menggunakan narkoba, minuman keras atau bahkan bunuh diri, diduga mengalami stres yang merusak tersebut dan tidak mampu mengatasinya.

Kecemasan ketika tampil bisa dipengaruhi oleh beberapa hal. Perfeksionisme adalah yang pertama. Saya termasuk ke dalam kategori yang cemas karena ingin tampil sempurna, apapun kesempatan tampil itu. Inilah yang menyebabkan saya cenderung cemas ketika hendak tampil: ingin buang air kecil, tangan kaku dan berkeringat ketika tampil, atau sakit perut. Selain itu, situasi yang formal atau informal akan mempengaruhi kecemasan juga. Makin informal, kecemasan akan menurun. Makin ditonton oleh ahli, misalnya dalam kontes bermusik, kecemasan akan meningkat. Hal terakhir adalah seberapa besar kita menguasai musik yang ingin ditampilkan. Makin tidak bisa, akan menyebabkan kecemasan makin tinggi.

Kecemasan ini tidak bisa dihindari. Bahkan musisi-musisi besar pun mengalaminya. Namun kecemasan ini bisa diatasi, melalui beberapa tips berikut ini. Pertama, persiapkan diri sebaik mungkin dengan mengatur jadwal latihan dan tujuan yang ingin dicapai. Kedua, membiasakan diri dengan panggung tempat penampilan. Makin familiar dengan panggung, kita akan makin rileks ketika tampil bermusik. Ketiga, terima penampilan apa adanya; jangan harap kesempurnaan. Kesalahan kecil masih bisa ditolerir, dan itu bukanlah akhir dunia. Keempat, bayangkan kemungkinan terburuk, sehingga akan siap dengan solusi ketika menemui masalah tersebut. Kelima, kenali apa yang bisa dikontrol dan tidak. Hal yang bisa dikontrol misalnya banyaknya waktu untuk latihan dan persiapan, atau pilihan lagu. Hal yang tidak bisa dikontrol misalnya mati lampu saat tampil, atau kerusakan alat ketika tampil, dsb. Dan terakhir, abaikan yang tidak terkait dengan musik yang ditampilkan dan fokus pada musik tersebut.

Kepustakaan

Music Performance. Presentasi oleh Dr. Weny Savitry S. Pandia, Psi., M.Si, disampaikan dalam kelas Kapita Selekta Psikologi Pendidikan, 14 November 2013.

Gambar diambil dari http://www.ziogiorgio.com/images/2009/brilliant%20stages/muse_3.jpg pada 14 November 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *