Menjemput Gitar di Tegal Parang

Sekitar pukul 18.15 aku sampai di Tegal Parang. Tak jauh masuk gang Amal, terlihat rumah warna hijau dengan ornamen gitar tertempel di jendelanya. Namun rumahnya gelap; tak ada satu pun lampu menyala.

Aku ragu. “Jangan-jangan Pak Tirto sedang tidak di rumah?”

Tapi tetap kuketuk pintu rumahnya dan memencet bel. Kuketuk sekali. Tak ada respon. Kutekan bel. Kuketuk pintunya lagi. Masih tak ada respon. Sempat terpikir bertanya ke tetangga sebelah, yang sedang berkumpul di teras rumah sambil mengamati burung dalam sangkar yang baru dibeli salah satu anggota keluarganya.

Namun akhirnya pintu terbuka. Keluarlah sosok Pak Tirto, dengan kaos oblong, mungkin warna putih dan dengan sarung kotak-kotak. Meski gelap, sosoknya khas dan mudah dikenali sebagai bapak pembuat gitar yang terkenal itu.

“Saya mau ambil gitar pak, yang dulu saya tinggal sudah lama,” sambil memperkenalkan diri dan menjabat tangannya. Gitarku sudah ditinggal di sini, kurang lebih sejak Oktober 2013. Dan memang dia bilang, tidak tahu kapan akan selesai.

Aku diminta masuk ruang tamunya. Saat itu gelap sekali di dalam rumah, seperti saat mati listrik. Pak Tirto memegang dan menyalakan sebuah senter kecil, sambil menunjuk ke soft case gitar yang disandarkan di pojok ruang tamu. Aku langsung bisa mengenali bahwa itu memang gitar yang dulu kutinggalkan.

Seluruh rumah dalam kondisi gelap, hanya ada nyala televisi di ruang sebelah dan senter kecil yang sedang dipegang Pak Tirto.

“Apakah listriknya diputus karena tak bisa membayar?” pikirku bertanya-tanya.

Kuperiksa isi case gitar tersebut. Isinya cocok. Kukeluarkan bon yang pernah dibuat dulu. Aku pun langsung meminta pamit dan menjabat tangannya.

“Minta maaf tidak bisa menyelesaikan,” katanya lirih.

Dulu, aku memang sempat dongkol. Dia memang bilang mungkin akan butuh waktu lama, yang dia sendiri tak bisa prediksi. Salahku juga, berpikir bahwa mungkin bisa selesai dalam 6 bulan. Ternyata lebih dari 1 tahun, gitar itu masih dalam kondisi sama.

Tapi aku tak bisa marah tadi. Masih terbayang, kedukaan, keputusasaan, atau emosi negatif lain yang dirasakannya hingga kini. Dari kegelapan, aku keluar rumah dan mohon pamit.

Kututup pintu rumahnya dengan perasaan janggal, “apakah dia sedang membutuhkan bantuan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *