Menuju Hari Pahlawan

Dear Kakak,

Delapan November ini sudah lewat 3 hari dari hari perkiraan kelahiranmu. Kemarin ayah dan ibu sudah berkonsultasi dengan dokter; termasuk memeriksa kondisimu. Namun hasilnya, kurang sesuai harapan nak.

Kakak, kamu sudah dinanti di awal November ini. Namun tak kunjung hadir juga. Padahal sudah dibujuk makanan, jalan-jalan dan mainan. Hihihi.

Halo kakaaak!

Halo kakaaak!

Minggu lalu, kami dikabari bahwa kepalamu masih melayang, belum masuk panggul dengan sempurna. Jadilah ibu berusaha jalan dan yoga lebih intens. Namun setelah diperiksa lagi Senin ini, ternyata hasilnya masih sama.

Ayah ibu bingung, demikian pula dokternya. Taksiran berat badanmu yang sekitar 2,8 gram, secara teori tidak akan menyulitkan kelahiran. Panggul ibu juga tidak ada masalah. Ibu juga sudah usaha memasukanmu ke panggul. Dokter berhipotesa bahwa tali pusarmu terlalu pendek. Alhasil, meski ibu dan kamu sudah berusaha, tetap akan sulit.

Dari situ ada beberapa opsi yang dapat diambil. Ibu akan diinduksi, sehingga dapat muncul kelahiran spontan, atau c-section.

Kakak, ayah dan ibu kaget. Kami berdua sangat ingin kamu lahir normal.

Dokter pun menjelaskan kedua opsi itu. Ayah masih belum dapat memperhatikan secara penuh, karena mendengar berita dari dokter. Jika memilih induksi, kemungkinan kamu akan lahir, hanya sekitar 15-25% saja, karena masalah utama adalah kepalamu yang belum masuk ke panggul. Operasi caesar adalah opsi yang paling mungkin dilakukan.

Kami pun diminta memeriksa detak jantungmu kembali. Setelah alat dipasang, suster meninggalkan ayah dan ibu berdua di ruang CTG. Ibu pun terisak. Dalam hati dan pikiran, ayahmu juga.

“Apakah ada yang bisa kami lakukan lagi? Supaya tidak perlu caesar..”

Kami, khususnya ibu, sudah berusaha supaya kamu dapat lahir normal. Ia menjaga asupan untukmu, menjaga berat badan dirinya sendiri dan kamu, rutin memeriksa kondisimu, serta berolahraga dan beryoga supaya fit dan lentur tubuhnya. Mungkin harapan kami jadinya cukup tinggi, supaya kamu bisa lahir dengan normal.

Selepas 30 menit CTG, kami kembali berkonsultasi dengan dokter. Kami masih mencari kesempatan, jikalau kamu masih bisa lahir secara spontan. Jadilah kami memutuskan mendaftarkan diri untuk caesar, namun masih mencari yang tepat supaya kepala kakak bisa masuk ke panggul. Kami diajarkan beberapa teknik dari pengajar yoga, untuk mencoba “membujukmu” masuk ke panggul. Namun jika kamu belum masuk juga, kami akan menerimanya. Yang terpenting kamu dan ibu sehat.

Permasalahan utamanya, mungkin karena kami berharap sekali kamu bisa lahir secara alamiah. Semua usaha-usaha kami, muaranya adalah kelahiran alamiah tadi. Namun, sesungguhnya kami harus ingat bahwa bukan keinginan kami yang akan terjadi, melainkan kehendak Sang Empunya Kehidupan. Kami perlu pasrah dengan apapun rencana-Nya.

Selain pasrah, kami juga yakin bahwa lewat pengalaman-pengalaman seperti ini, ibu dan ayah akan menjadi lebih bijak; baik sebagai individu maupun sebagai pasangan. Supaya kami lebih siap dengan pengalaman lanjutannya.

Saat ini, kami sedang menantimu di 10 November, karena itu adalah jadwal tindakan caesar. Jika sampai hari ini kepalamu masih melayang, di hari pahlawan, mungkin sore atau malam, kita akan jumpa nak.

Sehat-sehat ya nak. Kecup penuh kasih dari kami.

One thought on “Menuju Hari Pahlawan

  1. Pingback: Seminggu Usiamu - aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *