Minions: Petualangan Mencari Junjungan

Begitu mendengar Minions akan segera tayang di bioskop, sudah terbayang akan ada di dalam bioskop bersama kekasih, dan mendengar tawa anak-anak di sekitar karena tingkah polah makhluk kapsul berwarna kuning itu. Tapi ternyata aku terlalu banyak berharap banyak.

Film produksi Universal Pictures and Illumination Entertainment ini disutradarai oleh Kyle Balda dan Pierre Coffin. Pierre Coffin sendiri berdarah Indonesia, karena iad adalah anak dari penulis legendaris N.H. Dini.

Minions berkisah tentang makhluk, yang konon sudah ada jauh sebelum manusia modern ada. Mereka selalu mencari makhluk terjahat untuk dijadikan junjungan. Sampai pada suatu ketika mereka tak memiliki tuan lagi, dan menjadi depresi karena hal tersebut.

Minions; poster diambil dari http://i2.wp.com/bitcast-a-sm.bitgravity.com/slashfilm/wp/wp-content/images/Minions-poster1.jpg

Kevin, Stuart dan si bulat kecil Bob, bertekad mencari tuan demi menyelematkan suku mereka. Dan mereka bertualang sampai akhirnya menemukan tuan baru.

Kisah heroik 3 pecinta pisang ini dibuka dengan cukup menarik. Ada sepenggal kisah evolusi terselip di sejarah kelahiran para minions. Dan seperti biasa, mereka melakukan tindakan-tindakan konyol yang menggugah tawa. Ditambah dengan bahasa-bahasa aneh yang mereka pakai untuk berkomunikasi.

Namun lama kelamaan, ceritanya menjadi biasa saja. Scarlet Overkill yang diisi suaranya oleh Sandra Bullock, dan suaminya Herb, terkesan penjahat yang biasa-biasa saja. Meski mereka katanya adalah penjahat kelas kakap.

Minions juga tidak selucu biasanya. Nampaknya mereka lebih cocok menjadi sidekick saja, daripada menjadi bintang utamanya. Tingkah polah konyolnya lebih lucu ketika muncul di antara adegan-adegan lain. Dan bahasa gado-gado yang mereka gunakan, kadang sulit dipahami, karena tidak dibantu gestur-gestur. Seolah-olah, penonton diminta mengartikan sendiri apa yang sedang diobrolkan, tanpa diberi petunjuk.

Sayang sekali, filmnya memang lucu dan menghibur, namun kurang berkesan menyenangkan seperti yang kuharapkan. Tawa anak-anak yang ikut menonton pun tidak terlalu renyah. Mungkin karena aku terlalu berharap banyak bahwa film ini akan super menghibur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *