Minus Dua dan Nol

Angin berhembus semilir menggoyangkan rerumputan. Nyamuk-nyamuk mulai keluar dari sarangnya, siap mencari mangsa. Matahari siap tertidur “Mengapa Aku ada sih?” tanya Minus Dua pada angka Nol.

Nol diam saja sembari mencondongkan diri ke arah Minus Dua.

“Aku tak habis pikir mengapa Ia memilih memakai namaku?” ditunjukknya seorang wanita usia hampir-20 tahun yang kini jadi tuannya.

“Yang Aku tahu, Ia selalu mengulang-ulang dalam pikirannya,”

WAJAHKU JELEK DAN BERKULIT HITAM

“Sama kejadiannya dengan kawanku, Minus 4. Ia selalu mendengar ulangan kata-kata tuannya,”

AKU PENDEK, HIDUNG PESEK, BADAN KURUS DAN TAK PUNYA TEMAN.

“Namun kami masih beruntung memiliki tuan. Lihat di sana. Minus 79 tak pernah bertuan untuk waktu lama. Tiap tuan barunya akan berakhir membunuh dirinya sendiri.

“Kami semua sedih karena ini. Siapa yang mau seumur hidup diganggu suara-suara negatif itu?”

Nol tertunduk.

“Padahal, sebelum Manusia memilihku, Plus 8 sudah mengantri di sampingku. Entah apa pertimbangannya.”

Nol mengangkat kepalanya. Ia akan mencoba menjawab, namun tahu tak akan mampu menjawabnya dengan memuaskan.

“Yang kutahu, kalian ada untuk membantu Manusia. Misalnya, dengan adanya Minus Dua, manusia jadi tahu berapa apel tersisa dari 8 apel, setelah dimakan kelelawar dan jatuh ke tanah. Atau, Manusia jadi tahu suhu lingkungan sekelilingnya dan bisa memutuskan mau memakai baju apa hari itu.”

“Aku juga tak tahu pasti mengapa, namun jika kuperhatikan, dalam hati Manusia selalu menganggap semua Minus sebagai diri yang sesungguhnya. Dan Aku pun sedih karena itu.”

“Padahal lihatlah Bumi ini. Semua berawal dari Nol dan berkembang menuju Plus. Pohon tumbuh meninggi, memiliki ranting, bercabang dan berbuah. Hewan, dari fetus, menjadi bayi, jadi dewasa dan kemudian memiliki bayi.”

“Adalah hukum alam, ketika semua makhluknya berpotensi menjadi lebih baik dari pertama kali muncul di dunia.”

“Tapi, mengapa mereka memanggil namaku sebagai nama mereka?” tanya Minus Dua.

“Aku pun tak bisa jawab,” sesal Nol.

Mentari terbenam mulai melukiskan lembayung di langit. Hingga perlahan malam mengganti tirai dengan gelap. Dan kedua sahabat itu pun menutup hari dengan tanya yang belum tuntas terjawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *