Mobilan Kayu TPU Kalibata

Sejak masa SD, aku sudah memperhatikan ada toko mainan mobil-mobilan kayu saat lewat di jalan Pasar Minggu. Lebih tepatnya di samping TMP Kalibata. Namun dari dulu hanya bisa lewat dan menahan diri untuk tidak minta dibelikan. Sampai pada akhirnya kami mampir dan bisa membelikan 1 mobil-mobilan untuk Si Ucil. 

Pedagangnya bernama Mas Imam, dari UD. Senang Anak. Selain di sini, ia juga membuka dagangannya lewat Bukalapak dengan nama yang sama. Namun ia lebih suka kalau calon pembeli datang langsung, karena tidak perlu ongkos kirim dan bisa pesan model sesuai keinginan.

Di samping toko Mas Imam, ada 1 toko lagi yang menjual mobil-mobilan kayu juga. Namun kami tidak masuk ke toko tersebut.

Mobil-mobilan kayu ini ternyata dibuat di Karawang (dan Kalimantan, kalau tidak salah), dan cukup detil hasilnya. Bentuknya pun beragam. Ada truk pengangkut barang, bus, lokomotif, bajaj, hingga truk tangki Pertamina.

Macam-macam mobil-mobilan

Harga mainan kayu yang sudah ada sejak 1980-an ini juga variatif. Model yang paling sederhana dan jadul dihargai 75 ribu rupiah. Model terkecil namun mendetil, dijual seharga 165 ribu rupiah. Lokomotif dan 2 gerbong seharga 500 ribu rupiah. Ada juga mainan ekskavator yang dioperasikan menggunakan pengendali tekanan air, dijual senilai 1 juta rupiah. Mainan terakhir ini lebih cocok untuk usaha penyewaan mainan di acara bazar atau pasar malam. Semua harag tersebut masih bisa ditawar lagi lho.

Beberapa model mainan ini ada yang kuat jika dinaiki anak-anak (entah batasnya sampai usia berapa). Hal ini cukup penting karena Si Ucil sudah beberapa kali mencoba menaiki mainan yang pasti akan rusak jika didudukinya.

Sejak kecil, aku sering lewat jalan ini dan hanya bisa melihat toko serta menahan keinginan membeli. Karena pada saat itu, sepertinya cukup mahal untuk dibeli. Jadilah hanya bisa ngiler-ngiler saja.

Tapi sepertinya keinginan itu harus dituntaskan. Dalam beberapa minggu belakangan ini, aku sering lewat jalan Pasar Minggu dan melihat truk dan bus kayu dipajang di “showroom“. Ya sudah, sekalian saja coba membeli 1 buah.

Setelah melihat-lihat beberapa model truk, lokomotif dan bus, pilihan jatuh pada truk tangki Pertamina. Alasannya karena Si Ucil sedang senang dengan SPBU dan truk tangki. Tiap kali lewat SPBU, dia selalu bilang, “pom bencin, tuk tenki. pom bencinnya mana?”

 

Tuk tenki

Dan setelah tawar menawar, truk dibungkus plastik dan dibungkus koran supaya misterius. At the end of the day, one of my childhood dream is complete. Dan yang lebih membahagiakan, Si Ucil senang sekali main dengan mobil-mobilan barunya, apalagi kalau bertemu wujud truk aslinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *