Nikmatnya Segelas Air

Aku berhenti dari lariku dan duduk di kursi peron. Terengah-engah. Punggung dan dada kemeja penuh bercak keringat. “Sia-sia aku ngebut dari rumah!”

Pukul 12-an aku keluar dari gang rumah di kawasan Utan Kayu. Siang ini aku ada kuliah di Depok jam 13.00. Metro Mini jurusan Kampung Melayu segera kuhentikan, begitu lewat di depanku.

Penuh. Sumpek. Wangi minyak menyengat sampai ubun-ubun, plus “aroma” ketiak mas-mas yang berdempetan di depanku. Lega rasanya saat aku bisa turun dan tiba di Stasiun Manggarai.

Berlari kecil aku menuju loket. Backpack berisi laptop 14 inchi dan 2 buku setebal bata merah tak membantuku mempercepat laju lari. Dari loket aku bergegas memasuki peron. Sudah pukul 12.15. Sebuah kereta commuter line sedang parkir di jalur menuju Bogor. “Itu dia!”

Celingak celinguk, sambil kulari membelah stasiun. Takutnya ada kereta menyambar dan mengambil nyawaku.

Kuarahkan pandang ke kereta tujuanku. “Lho..lho..lho..kok pintunya menutup? Kok dia mulai jalan?”

Dan kini aku sedang terduduk penuh peluh menyaksikan ekor kereta melambaikan tanda perpisahan denganku. Baru  jam 12.58 aku akan bisa mulai mengejarnya.

Reflek, kuambil segelas air di saku samping tasku. Untung dia selalu kubawa kemanapun.

Kutarik bungkus sedotannya lalu kutusukkan ke tutup gelasnya. Cusss! Dan beberapa bulir air keluar dari lubangnya.

Kumasukkan sedotan ke mulut dan mulai menyesap dalam-dalam sumber kehidupan itu.

“Astagfirullah! Aku sedang puasa!”

*edisi tersunting dari tulisan saat workshop menulis bersama Ayub Yahya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *