Operasi Penambalan Telinga

Sejak kecil telinga kananku mengalami otitis media, infeksi telinga bagian tengah yang lazim terjadi pada anak-anak bersamaan dengan flu. Namun jika tidak teratasi, dapat menimbulkan gangguan serius. Salah satunya yang kualami, yaitu gendang telinga yang berlubang dan perlu “ditambal”. Operasi untuk menutup lubang itu dikenal dengan tympanoplasty, dan Kamis 7 Juni 2018 lalu, aku melakukan operasi tersebut, karena beberapa alasan.

Masa-masa Infeksi

Jika aku sedang terkena infeksi, biasanya telingaku akan terasa penuh, ada sensasi bengkak di saluran telinga, dan keluarnya cairan berbau dari telinga. Aku ingat pernah mengalaminya ketika masa TK dulu, dan banyak kejadian serupa di masa-masa akan datangnya, yang mengganggu kepercayaan diriku. Penanganan rutin yang biasa dilakukan adalan periksa ke dokter THT dan diberikan obat; biasanya ada yang diminum dan ditetes ke telinga. Gejalanya hilang, namun infeksi tetap muncul, sampai usia dewasaku.

Ternyata penanganan itu kurang tuntas; selain dari ketidaktahuanku menjaga kebersihan telinga, yang kemudian menimbulkan masalah baru. Gendang telingaku menjadi berlubang. Ibuku bilang hal itu disebabkan karena pengasuhku membersihkan telinga terlalu dalam. Akibatnya menyobek gendang telingaku. Namun aku tak yakin dengan versi cerita itu.

Bertahun-tahun kemudian, lubang makin besar, dan bahkan hampir tidak menyisakan selaput gendang telinga.  Sampai pada suatu pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa gendang telinga yang hampir tidak ada tersebut dapat dioperasi. Dan akupun mulai memikirkan alternatif tersebut.

Perbaikan Gendang Telinga

Tindakan perbaikan gendang telinga dikenal dengan tympanoplasty. Operasi dilakukan dengan membuat sayatan di belakang telinga, sehingga ada akses untuk perbaikan gendang telinga. Namun karena lubang telingaku cukup besar dan lokasi gendang tidak terlalu dalam, sayatan tidak perlu dilakukan. Tindakan dilakukan langsung lewat lubang telinga, menggunakan alat mikroskopis. Perbaikannya dilakukan dengan mengambil jaringan kulit dari bagian telinga depan, untuk “menambal” gendang telinga. Operasi ini tergolong operasi minor dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.

“Penambalan” lubang telinga

Hasil “penambalan”

Dari pemeriksaan awal diketahui bahwa tulang pendengaranku sudah kaku sehingga pendengaranku tidak berfungsi dengan baik. Kalau aku perkirakan sendiri, dari skala 1-10, pendengaranku berada di kisaran angka 2. Ini juga salah satu penyebab, selain tidak ada gendang telinga, pendengaran telinga kananku berkurang cukup banyak. Meski sudah kaku, gangguan pendengaran tidak sampai merembet ke masalah saraf-saraf pendengaran, begitu kata dokter.

Jika tulang ini ingin diperbaiki, ada prosedur lain yang dikenal dengan total ossicular replacement prosthesis (TORP). Lewat prosedur ini, tulang pendengaranku digantikan suatu alat supaya dapat berfungsi kembali.

TORP

Namun saat ini aku belum memutuskan menjalani TORP. Sehingga tindakan penambalan bertujuan untuk menutup jalur telinga, supaya tidak ada infeksi lebih parah. Kemampuan mendengarku mungkin akan tetap saja dalam kondisi kurang baik.

Mengapa Operasi?

Ada 2 alasan besar mengapa aku akhirnya mengambil jalan untuk tympanoplasty. Pertama karena alasan ekonomi. Biaya tympanoplasty tidaklah murah. Perkiraan tagihan bisa sampai 20 Juta rupiah. Menurut dokter, perkiraan akhir bisa sampai angka 30 juta. Karena ini dari dulu aku belum pernah memikirkan untuk operasi. Baru akhir-akhir ini setelah memiliki jaminan asuransi dari kantor, aku berani memutuskan. Sebelumnya aku memiliki asuransi swasta, namun ketika kutanya, lebih banyak ribetnya. Mereka seperti tidak kooperatif menanggapi permintaanku.

Alasan kedua adalah alasan kesehatan. Penambalan dilakukan supaya jalur menuju telinga tengahku tertutup. Jika sudah tertutup, kemungkinan akan terjadi infeksi menjadi lebih kecil. Aku merasa khawatir, karena penyakit seperti meningitis juga dapat muncul karena infeksi lewat telinga. Selain itu, di usiaku yang sudah 36 tahun ini, kesehatanku juga masih prima sehingga mempercepat proses pemulihan.

Pada akhirnya, aku juga berharap operasi ini dapat memulihkan fungsi pendengaranku. Meski tidak akan kembali ke 100%, namun berapapun itu, sudah cukup bagiku. Sudah 30-an tahun aku hidup bersama masalah ini, baik dampak fisik maupun psikologisnya. Semoga saja setelah tindakan, aku bisa berfungsi dengan lebih baik lagi.

3 thoughts on “Operasi Penambalan Telinga

    • Operasi yg gw jalani gak seram, karena bukan yg dibuka bagian belakang telinganya. Gw pikir tadinya bakal yg itu. Bisa2 gw jd skin head sebelah. Hahaha

  1. Pingback: 3 Minggu Setelah Penambalan | aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *