padi jadi beras jadi nasi jadi bencana

telah turun menurun
aku serta sekumpulan masyarakat disini,
mampu sesuaikan diri dengan alam sekitar.
kebijaksanaan leluhur tentang bertahan hidup
seperti sudah mendarah di tiap penerusnya.
aku bisa pergi ke hutan,
berburu hewan,
lalu menyantap hasilnya bersama kawan dan keluarga,
walaupun kadang ku pulang tanpa tangan membawa apa apa.
atau..
aku pergi ke hutan,
memetik tanaman,
lalu meramu dan memakannya bersama sahabat dan kerabat,
walaupun racun tetumbuhan bisa saja mengancam, menjadi resiko.

tapi..

semenjak orang orang berseragam masuk lingkungan kami,
semua seperti berubah.
sebuah cara baru beroleh makan diperkenalkan padaku :
menanam semacam rerumputan di sepetak tanah,
membasahinya dengan air,
melemparkan bubuk bubuk secara berkala,
lalu memanennya saat sudah mulai merunduk.

akupun lama lama terbiasa dengan itu,
sama seperti semua orang.

berbulan,
beberapa tahun sejak panenan pertamaku,
kuajarkan ilmu tanam ini ke anak cucuku.

berpuluh tahun,
beratus tahun sejak moyangku ajarkan ilmu bertanam,
kekeringan besar landa kehidupan daerah ini.
petakan tanah, ladang makananku, tak lagi menghasilkan.
aku dan semua yang tinggal disini
mulai rasakan kelaparan.

aku dan semua penduduk,
kehilangan akal,
harus lakukan apa tuk atasi rasa lapar ini.
yag kutahu hanya tanam menanam,
sama seperti semua orang.
sebuah pengetahuan tentang bertahan hidup,
kebijakan dari masa lampau,
seperti telah hilang dari budayaku.
ketergantungan terhadap hasil tanaman,
jadi tema utama disini.

orang orang berseragam pun mulai berdatangan,
namun juga tak mampu tanggulangi bencana ini.
hanya omong omong kosong yang selalu mereka beri kami.

satu satu, tetanggaku mulai temui kematian.
mereka pergi meninggalkan seonggok tubuh kurus dengan perut membengkak,
dan sanak keluarga yang tak mampu lagi menangis.

akankah aku menyusulnya segera?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *