Belajar Sampai ke Korea #H1

Di awal semester pasang pengingat: 20 Desember adalah tenggat waktu pengumpulan tesis. Pengumpulan tesis akhirnya tidak terjadi. Tesisnya pun sedang mandek. Tapi menjelang tanggal itu aku mendapat kesempatan belajar di Korea, tentang Capacity Building for Information Technology Manager yang diselenggarakan oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA). Sama-sama perlu disyukuri. Continue reading

Pembudayaan Ilmiah a la @iwanpranoto

Senin, 18 November lalu, kami kedatangan dosen tamu dari jurusan matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Namanya Iwan Pranoto, profesor di bidangnya. Ia membuka paparan dengan menyajikan beberapa berita tentang mahasiswa-mahasiswa di ITB yang berhasil “dirayu” untuk mengikuti organisasi sesat. Bahkan dalam salah satu situs berita dituliskan bahwa anak yang menjadi anggota organisasi tersebut sampai menganggap ibunya halal untuk dibunuh, karena dianggap menghalangi organisasi tesebut. “Di mana nalarnya?” kata Pak Iwan. Continue reading

Menjadi Penampil Musik

Saya senang bermusik, khususnya bermain gitar, menciptakan lagu, mendengarkan musik dan sedikit bernyanyi. Dosen tamu kali ini, Dr. Weny Savitry S. Pandia, Psi., M.Si, membawakan materi yang sesuai dengan minat tersebut. Dalam presentasinya, pengajar di Universitas Atma Jaya ini memaparkan beberapa hal terkait penampilan musik, atau music performance, mulai dari keterampilan yang dibutuhkan oleh penampil hingga tips mengatasi kecemasan ketika hendak menampilkan musik. Continue reading

Si Cicak Hemidactylus Frenatus

Hal yang paling menyebalkan ketika mandi adalah ada cicak sedang mengamati di tembok. Mandi jadi tak nyaman, seperti ada yang mengintip, tapi secara terang-terangan. Kalau sedang iseng, biasanya aku ciprati hewan penghuni daerah sub dan tropis itu dengan air.

Lain lagi di ruang tamu. Tak jarang mereka buang air besar ke sembarang tempat. Kalau aku perhatikan dan simpulkan, tampaknya mereka mengincar manusia ketika sedang melakukannya. Karena aku merasa sering melihat mereka mendekat ke atasku dan mengangkat ekor, sebagai langkah pertama sebelum buang air. Kalau tak awas, bisa sial ketiban kotoran bau dan berbalut cairan mereka.

Namun ada hal unik ketika aku mengamati cicak di rumahku. Spesies dengan nama ilmiah Hemidactylus Frenatus ini memiliki warna kulit yang berbeda-beda. Ada yang berwarna abu-abu, cokelat tua, abu-abu tua, cokelat muda, berbintik-bintik tak beraturan. Tapi bukan warnanya yang unik, melainkan di mana cicak itu biasa mangkal. 

Hemidactylus Frenatus

Hemidactylus Frenatus

Reptil dari famili Gekkonidae yang aktif di malam hari ini berbeda warna, tampaknya menyesuaikan dengan daerah operasi mereka. Di kamar mandiku, dimana ada tembok dengan warna abu-abu, mayoritas cicaknya berwarna abu-abu. Pada kayu kusen di kamar mandi, ada cicak berwarna cokelat tua, serupa dengan warna kayu. Di dapur dengan kayu campuran warna cokelat tua dan muda, cicaknya pun menyerupai kayu itu. Di kamarku yang bertembok putih, mayoritas mereka berwarna pucat.

Apa mungkin ini bentuk adaptasi mereka agar bisa bertahan hidup? Jika iya, meskipun menyebalkan karena ulah voyeur terang-terangan dan buang hajat sembarangan, tapi canggih ya mereka?

*Gambar diambil dari CalPhotos

Kesedihan Luthier Tegal Parang

“Kami lagi libur,” katanya ketika membuka pintu rumah yang sekaligus bengkel pembuatan dan perbaikan gitar.

“Yah. Kayaknya bakal seperti tujuan sebelumnya, yang tutup pada hari Minggu,” pikirku.

Namun Pak Tirto tetap mempersilakanku masuh ke rumah sederhananya. Sebuah sofa berbentuk L yang cukup untuk 6 orang dan sebuah meja menungguku. Di dinding sebelah kiri terdapat semacam kain kanvas, yang berisi coret-coretan tanda tangan dan nama-nama.

“Pasti seluruh kliennya yang ngetop-ngetop yang isi di situ,” batinku.

Sebelum ke tempat Pak Tirto di kawasan Mampang, aku berniat membetulkan gitar elektrik di daerah Pasar Minggu. Namun karena tutup aku ke sini. Jadilah aku ke tempat bapak berkacamata dan tinggal di tengah pasar di kawasan Tegal Parang. Luthier, begitu pembuat alat musik berdawai seperti Pak Tirto disebut.

Lalu aku duduk dan mendengarkannya.

“Ini lagi libur, tidak terima pesanan. Baru beberapa waktu lalu istri saya meninggal. Pikiran masih belum siap untuk kerjaan.”

“Sudah 2-3 minggu kami bolak-balik rumah sakit, menjaga ibu. Ke dokter. Ke pengobatan alternatif. Kata dokter, pilihannya operasi lagi atau di-kemoterapi. Namun harus menunggu pulihnya kondisi ibu. Ibu sempat pulih, namun akhirnya drop lagi.”

“Yang saya paling sedih itu, ketika cucu saya mencari eyangnya. Kan eyangnya suka main ke rumah cucu dan sebelum ke rumah sakit, sempat tidur di sana.”

“Eyang dimana?” kata Pak Tirto menirukan cucunya.

Sambil menyesap batang rokok Dji Sam Soe kelimanya, tampak ia mulai berkaca-kaca.

Kan bingung jawab pertanyaan anak seperti itu. Saya jawab saja eyang sedang pergi.”

Aku hanya bisa mendengarkan.

Tak lama obrolan berpindah. Pak Tirto mulai berkisah tentang gitar Les Paul-nya yang dibeli anak mantan menteri koperasi. Gitar Jem yang dibuatnya sendiri dan dipakai keliling Indonesia oleh teman-teman musisinya. Pertemanannya dengan Bonita, Adoy dan Cozy Street Corner. Dengan Kiboud Maulana. Dengan John Paul dan beberapa bule lain yang memesan gitar atau bas padanya.

Pak Tirto memang langka. Tak banyak yang kutahu memiliki kemampuan membuat gitar; dan sudah diakui musisi-musisi lokal maupun internasional. Apalagi kini ia hanya bekerja sendiri tanpa anak buah.

Kehilangan istri memang nampak sangat berat baginya. Kata seorang temanku, sang istri sering menemani Pak Tirto menyelesaikan gitar. Membuatkan kopi, atau menerima pesanan ketika Pak Tirto istirahat.

Namun pembuatan gitar tetap harus berjalan. Gitar ku pun akhirnya ditinggal di sana. Ia tak menjamin bisa tahu kapan bisa selesai. Aku pun tak masalah, asalkan Pak Tirto enjoy menyelesaikannya dan aku bisa memainkan gitar itu lagi.

“Monggo pak, saya pamit,” kataku sambil mengucap turut berduka cita dalam hati.

 

Hand-Face Changer

*tulisan ulang sebuah notes di Facebook

Tak sedikit teman yang berkomentar tentang wajahku. Kata mereka, wajahku begitu-begitu saja; datar-datar lah, tanpa ekpresi lah, ini itu lah. Oleh sebab itu, Aku terbakar semangat untuk menciptakan sebuah alat supra-canggih, yaitu pengubah wajah portable atau kusebut dia dengan nama hand-face changer (H-FC).

Prinsip dasar alat ini adalah mengubah wajah seperti tampilan emoticon. Untuk makin mempermudah pengguna, alat ini ditanam di telapak tangan. Jadi, ketika hendak mengubah wajah, tinggal buka telapak tangan, pilih wajah yang diinginkan, dan.. Voila! Wajah telah berubah.

Setelah melalui penelitian yang sungguh-sungguh, hingga berdarah-darah, akhirnya mesin H-FC ini selesai juga. Seperti ini bentuknya, lengkap dengan tombol on-off yang berfungsi menyalakan atau mematikan mesin pengubah itu:

H-FC

Hand-face changer yang mutakhir itu

Aku pun segera mengujicobakan alat ini pada wajahku sendiri. Awalnya, H-FC ini belum stabil, karena mesinnya belum panas. Namun dalam 10 menit, alat itu sudah panas dan siap digunakan. Dengan bantuan seorang teman kantor, hasilnya pun terlihat segera. Ya seperti ini:

Hasil H-FC

Hasil H-FC

Bagaimana, tertarik mempergunakannya?

Aku, Dahulu Hingga Hari Ini

Aku. Dahulu. Pernah merindukan kamu. Mengingat-ingat senyumanmu. Mengulang-ulang gerak lambat tawa khasmu. Atau sekedar membaca kembali tulisan tanganmu.

Aku. Tak lama lalu. Pernah merasakan sembiluan karena keputusanmu meninggalkanku. Katamu, kita tak akan pernah berhasil. Katamu, tak ada guna jika lanjutkan jalan berdua. Sampai akhirnya kamu kembali kepadanya.

Aku. Tak sampai sebulan lalu. Telah menetapkan untuk menerima kepedihan itu. Ia bagian dari masa lampau yang perlu kuterima. Kuikhlaskan ia sebagai jalur menuju hikmah di kemudian waktu. Dan aku tetapkan untuk melepasmu.

Aku. Hari ini. Berharap tak perlu menyudahi mimpi-mimpi tadi. Jadinya, tak perlu pula aku menyudahi nafasmu dengan ujung belatiku.

Kata Ibu Profesor

“Keberhasilan proses belajar mengajar adalah ketika orang yang diajar berminat mendalami yang disampaikan gurunya,” kata seorang profesor di kelasku.

Pengetahuan yang disampaikan oleh guru memang penting. Namun jika di perguruan tinggi, minat untuk mendalami ilmu jadi lebih penting. Sebab, universitas merupakan tempat pengembangan ilmu. Jadi wajar, semestinya minat peserta terhadap ilmunya menjadi salah satu tujuan penting dalam proses pembelajaran. Dari situlah ilmu akan berkembang terus; karena ada yang  menyukain dan kemudian ‘mengurusinya’. Lanjutnya, seorang guru dinyatakan berhasil jika ada anak didik yang kemudian mengikuti jejaknya menekuni bidang yang kurang lebih sama.

Aku manggut-manggut saja mendengar ceramahnya. Dalam hati aku berkata nyaring, “Ibu prof telah berhasil melakukannya padaku, meski aku tentunya belum sepandai engkau.”