Pembudayaan Ilmiah a la @iwanpranoto

Senin, 18 November lalu, kami kedatangan dosen tamu dari jurusan matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Namanya Iwan Pranoto, profesor di bidangnya. Ia membuka paparan dengan menyajikan beberapa berita tentang mahasiswa-mahasiswa di ITB yang berhasil “dirayu” untuk mengikuti organisasi sesat. Bahkan dalam salah satu situs berita dituliskan bahwa anak yang menjadi anggota organisasi tersebut sampai menganggap ibunya halal untuk dibunuh, karena dianggap menghalangi organisasi tesebut. “Di mana nalarnya?” kata Pak Iwan.

Dari contoh berita, Pak Iwan lalu mengemukakan beberapa hasil tes anak-anak Indonesia pada pengukuran TIMSS. Kesimpulannya, anak-anak Indonesia hanya kuat pada bagian menghapal, namun lemah dalam kemampuan kognitif yang membutuhkan pemrosesan informasi. Menurut beliau, penyebab utamanya adalah pengajaran sains dan matematika di sekolah formal. Penyebab mendalamnya yaitu sistem dan kebijakan pendidikan yang salah dan juga lemahnya program pengembangan profesi guru. Sebagai hasilnya, pengajaran matematika dan sains di sekolah formal selama ini hanyalah pseudomatematika dan pseudosains.   

Menurut Pak Iwan, solusi bagi masalah yang dialami bangsa ini adalah pembudayaan ilmiah. Budaya ilmiah yang dimaksud adalah adanya kecakapan berpikir dan juga karakter dari individu yang bersangkutan. Kecakapan yang dimaksud seperti menghitung, memperkirakan, menerapkan, membuktikan, hingga mengenali kesalahan logika. Sedangkan karakter seperti kegigihan, keluwesan berpikir, bertanggung jawab, hingga terbuka pada proses.

Terkait dengan kecakapan berpikir dan karakter, saya teringat dengan topik tesis saya yaitu berpikir kritis. Glaser adalah yang pertama kali mencetuskan definisi beripikir kritis. Ia menganggap berpikir kritis sebagai sebuah sikap dan aplikasi logika dalam pemecahan masalah. Namun berpikir kritis tidak hanya terkait kemampuan kognitif saja, melainkan juga disposisi berpikir kritis (critical thinking disposition/CTD). CTD sendiri adalah sekelompok kebiasaan pikiran, sikap atau keunggulan intelektual untuk berpikir kritis. CTD ini seperti keingintahuan, keterbukaan pikiran, sistematis, analitis, pencari kebenaran, kepercayaan diri berpikir kritis & kematangan.

Pembudayaan ilmiah, menurut Pak Iwan, nantinya akan mampu menumbuhkan kebersahajaan seseorang. Aneh ya? Makin pandai sains atau matematik kok justru makin bersahaja? Justru, menurut Pak Iwan, makin mendalami sains, seseorang akan makin sadar bahwa banyak hal yang belum diketahui. Sedangkan, jika seseorang mendalami pseudosains atau pseudomatematika (seperti yang diajarkan di sekolah formal saat ini), ia akan lebih mudah sombong. Penyebabnya, karena mereka terbiasa diajarkan rumus yang baku, benar dan anti-kritik. Saya sependapat dengan Pak Iwan. Dan menurut saya, berpikir kritis menjadi jembatan menuju kebersahajaan, karena melalui berpikir kritis, seseorang akan mampu melihat lebih dalam plus minus segala sesuatu. Ditambah dengan disposisi berpikir kritis, seseorang akan dimampukan untuk menentukan kekurangan dan kelebihan dari segala hal, dan bersikap dewasa untuk menerimanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *