Penanganan Bencana Lewat Budaya

Tanggal 2 Maret lalu, gempa berskala 7,8 SR terjadi di sebelah Barat Daya Kepulauan Mentawai. Potensi tsunami muncul, meski akhirnya tidak terjadi. Aku jadi ingat pernah menulis ujian akhir tentang fenomena tsunami 2004 dari sudut pandang psikologi lintas budaya, di tahun 2012. Inti tulisannya adalah perbedaan budaya pada daerah yang terkena tsunami, dan bagaimana solusi yang mungkin efektif berdasarkan budaya tersebut.

Dampak Tsunami & Sub Budaya Bencana

Dampak dari tsunami tahun 2004 terhadap penduduk Aceh sangatlah besar, baik itu dari segi fisik maupun psikologis. Dampak fisik bisa dilihat dari tingkat kematian dan juga cedera yang dialami penduduk daerah yang terkena tsunami. Sebuah survei dilakukan di 7 daerah yang mengalami bencana tsunami pada bulan Maret, Juli dan Agustus 2005. Angka kematian di wilayah Aceh Jaya dan Banda Aceh/Aceh besar sekitar 23%, lebih besar hasil survei di Pantai Timur yang hanya 5%. Angka kematian ini menurun karena jarak dan faktor geografis. Namun jumlah yang cedera cenderung sama di angka 7-10%. Dari perkiraan, ada 1300 orang mengalami cedera di Aceh Jaya, 11.092 di Banda Aceh/Aceh Besar dn 9705 orang di Pantai Timus (Doocy, Robinson, Moodie, & Burnham, 2009). Laki-laki lebih banyak mengalami luka-luka, sedangkan hampir 2/3 jumlah orang yang hilang atau meninggal adalah perempuan.

Jika dilihat dari usia, yang paling tinggi angka kematiannya adalah anak-anak dan orang tua (Doocy, Robinson, Moodie, & Burnham, 2009). Dari tipe cedera yang dialami, mayoritas cedera adalah patah tulang dan tubuh yang robek. Cedera lainnya meliputi air yang terhirup atau luka paru-paru. Dari yang mengalami cedera tersebut, diperkirakan sebanyak 14.4% akan mengalami disabilitas (Doocy, Robinson, Moodie, & Burnham, 2009). Dampak lainnya adalah adanya peningkatan psikopatologi, seperti kecemasan, gangguan afektif dan post-traumatic stress syndrome (Irmansyah, Dharmono, Maramis, & Minas, 2010) serta menurunnya resiliensi (Hestyanti, 2006).

gambar dari http://www.dw.com/image/0,,18128862_303,00.jpg

Tsunami berdampak secara fisik dan psikologis bagi korban-korbannya. Namun ada variabel budaya yang sesungguhnya bisa menjadi pembeda jumlah korban. Sebuah penelitian terhadap beberapa etnis yang tinggal di tempat bencana (Gaillard, et al., 2008) menghasilkan temuan yang menarik. Korban-korban tsunami berasal dari beberapa etnis yang berbeda, seperti orang Aceh, Minangkabau dan Simeulue. Namun ketiganya memiliki respon berbeda ketika menghadapi bencana. Akibatnya, sekitar 170.000 orang Aceh dan Minangkabau menjadi korban tsunami, sedangkan hanya 44 orang Simeulue menjadi korban, meskipun mereka berada di Pulau Simeulue yang sangat dekat dengan episentrum gempa (Gaillard, et al., 2008). Faktor yang membedakan perbedaan ini adalah sub budaya bencana. Masyarakat Simeulue sudah pernah mengalami tsunami sebelumnya, sehingga mereka sudah mengembangkan ‘peralatan budaya’ untuk menghadapi bencana. Sedangkan masyarakat di Banda Aceh dan Meulaboh (tempat tinggal etnik Aceh dan Minangkabau) tidak demikian.

Sub budaya bencana ini diartikan sebagai pola sub budaya yang berlaku di suatu wilayah yang diarahkan pada pemecahan suatu masalah, baik itu sosial maupun non-sosial, yang muncul dari kesadaran akan adanya ancaman bencana yang muncul berkala (Anderson, 1965 dalam Gaillard, et al., 2008). Sub budaya ini yang akan berperan dalam mengatur perilaku kelompok sebelum, selama dan setelah muncul dampak suatu bencana. Sub budaya ini berisi norma, nilai, kepercayaan, pengetahuan, teknologi dan legenda (Granot, 1996).

Pada saat gempa pertama terasa, ¼ populasi masyarakat Simeulue di desa Air Penang, naik ke atas gunung, sedangkan di kedua tempat lain hanya keluar rumah, berkumpul bersama atau mencoba tenang. Masyarakat Simeulue, yang berada di desa Air Pinang, 37% yang mengisi survei menganggap gempa sebagai awal munculnya tsunami. Sebagian besar populasi ini juga pergi ke gunung terdekat. Sedangkan penduduk desa Kajhu dan Johan Pahlawan (Banda Aceh dan Meulaboh), terlambat sadar. Sebanyak 33% masyarakat di Kajhu mengira ada suara pesawat terbang, sedangkan 64% penduduk di Johan Pahlawan dan mulai bereaksi saat melihat orang berlarian dan berteriak. Reaksi mereka juga beragam, seperti lari ke dalam kota, naik ke bukit, pergi menggunakan sepeda motor, pergi ke mesjid atau naik ke ringkat kedua rumah mereka (Gaillard, et al., 2008).

Perbedaan ‘budaya bencana’ pada etnis yang berbeda ini disebabkan faktor sejarah dan juga trait budaya. Menurut cerita, tahun 1907 terjadi tsunami di daerah Simeulue, yang menewaskan antara 400-1800 orang. Tanda-tanda munculnya tsunami saat itu (gempa bumi, laut yang menurun, hewan yang berlarian, suara gemuruh dan langit yang gelap) diturunkan dari 1 generasi ke generasi lainnya secara lisan. Bahkan mereka memiliki kata sendiri untuk menjelaskan banjir besar seperti tsunami, yaitu smong. Masyarakat di Simeulue juga merasa dirinya amat dekat dengan laut sebagai sumber kehidupan mereka dan sadar akan munculnya bencana. Kombinasi antara pengetahuan sejarah dan budaya lisan yang diturunkan, serta didukung faktor geografis, menyebabkan tidak adanya korban meninggal di Pulau Simeulue (Gaillard, et al., 2008).

Jika masyarakat Simeulue sudah memiliki ‘sub budaya bencana’ lain halnya dengan kedua etnis Aceh dan Minangkabau. Dari penduduk di desa Khaju, 48% yang lahir di situ, dan lebih dari 28% baru menetap sekitar 10 tahun lalu. Di sisi lain, 29% yang diwawancarai pergi ke pantai hanya sekali dalam sebulan atau setahun, 21% belum pernah kontak dengan laut, dan hanya 20% yang tahu apa itu tsunami. Dari penduduk Minangkabau di desa Johan Pahlawan, juga ditemukan hal serupa. Tak ada partisipan yang lahir di sana, 55% tidak pernah kontak dengan laut dan 76% tidak tahu tentang tsunami (Gaillard, et al., 2008).

Penanganan Efektif

Jika dilihat bagaimana perbedaan respon yang ditampilkan masyarakat Simeulue, Aceh dan Minangkabau, penanganan bencana yang efektif adalah penciptaan sub budaya bencana sebelum bencana itu terjadi. Sub budaya ini termasuk mengenali tanda-tanda akan munculnya bencana, hingga apa yang harus dilakukan ketika tanda-tanda tersebut muncul, serta bagaimana proses sosialisasi sub budaya tersebut. Proses penciptaan ini melibatkan proses sosialisasi, yaitu proses di mana seseorang belajar dan menginternalisasi peraturan dan pola perilaku yang dipengaruhi suatu budaya (Matsumoto & Juang, 2008). Proses yang membutuhkan waktu panjang ini melibatkan proses mempelajari dan menguasai norma sosial dan budaya, sikap, nilai dan sistem kepercayaan.

Proses sosialisasi bisa dilakukan dalam pendidikan, baik itu pendidikan formal di sekolah, pendidikan non formal (program pendidikan di luar pendidikan formal) dan pendidikan informal yang dilakukan oleh orang tua, pengasuh atau anggota masyarakat lainnya (Ahmed, 1983 dalam Segall, Dasen, Berry, & Poortinga, 1999). Contohnya di Simeulue, cerita tentang smong diwariskan melalui cerita, lagu dan pelajaran muatan lokal di sekolah (Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM, 2012).

Selain penciptaan sub budaya bencana, ada program lain yang bisa, dan sudah dijalankan, yaitu livelihood program (Thorburn, 2009). Program ini pada kenyataannya adalah program yang berisi distribusi aset (peralatan, modal, pelatihan keterampilan) bagi warga miskin, sambil mengajak mereka untuk ikut berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Program pertama adalah penyediaan kapal nelayan, bimbingan dalam mengelola dan memasarkan ikan dan menjaga, memperbaiki serta membangun kapal nelayan baru. Program kedua adalah pemberian hewan-hewan untuk dipelihara. Program berikutnya ada di bidang agrikultur, seperti penanaman padi. Program berikutnya adalah bantuan biaya untuk membuka usaha. Beberapa usaha yang sukses seperti kelompok menjahit, produksi ikan asin dan usaha kerajinan tangan.

Daftar Pustaka

Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. (2012, April 13). Warga Simeulue Berdamai dengan Tsunami. Dipetik Mei 25, 2013, dari Bencana Kesehatan: http://bencana-kesehatan.net/index.php?option=com_content&view=article&id=1099%3Awarga-simeulue-berdamai-dengan-tsunami&catid=48%3Aberita&Itemid=37&lang=en

Doocy, S., Robinson, C., Moodie, C., & Burnham, G. (2009). Tsunami-related injury in Aceh Province, Indonesia. An International Journal for Research, Policy and Practice, 205-214.

Gaillard, J.-C., Clave, E., Vibert, O., Azhari, Dedi, Denain, J.-C., et al. (2008). Ethnic groups’ response to the 26 December 2004 earthquake and tsunami in Aceh, Indonesia. Nat Hazards , 17-38.

Granot, H. (1996). Disaster subcultures. Disaster Prevention and Management, 36-40.

Hestyanti, Y. R. (2006). Children Survivors of the 2004 Tsunami in Aceh, Indonesia. Annals New York Academy of Sciences, 303-307.

Irmansyah, Dharmono, S., Maramis, A., & Minas, H. (2010). Determinants of psychological morbidity in survivors of the earthquake and tsunami in Aceh and Nias. International Journal of Mental Health Systems, 4-8.

Matsumoto, D., & Juang, L. (2008). Culture & Psychology. Belmont: Thomson Wadsworth.

Segall, M. H., Dasen, P. R., Berry, J. W., & Poortinga, Y. H. (1999). Human Behavior in Global Perspective. Boston: Allyn & Bacon.

Thorburn, C. (2009). Livelihood recovery in the wake of the tsunami in Aceh. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 85-105.

2 thoughts on “Penanganan Bencana Lewat Budaya

  1. Bisa jadi budaya tersebut adalah pelajaran sebuah masyarakat yang mereka ketahui secara sadar maupun tidak sadar
    Benar sekali ketika sudah menjadi budaya untuk siaga bencana, hal tersebut seperti naluri makluk hidup untuk menyelamtkan diri

    • Iya, saya juga setuju. Ketika sudah menjadi budaya, mestinya tindakan menyelamatkan diri yang efektif akan otomatis dilakukan oleh masyarakat yang memiliki budaya tsb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *