Pertunjukan Inovatif Jabang Tetuko

Sabtu kemarin (28/05/11), bertempat di The Hall Senayan City, aku dan kekasihku berkesempatan menyaksikan pertunjukan gado-gado; paduan sinema, wayang orang, wayang kulit dan orkestra Jabang Tetuko. Selepas 55 menit menikmati sambil mengambil gambar, kesan yang kudapat adalah inovatif; dalam hal medium pertunjukkan dan penyajiannya.

Pertunjukkan yang hanya digelar selama 27-28 Mei 2011 ini, mengkombinasikan film, wayang orang, wayang kulit dan juga orkestra. Medium untuk presentasi kisah superhero lokal, Gatotkaca yang menyelamatkan dunia tersebut, tak hanya panggung. Ada 3 buah layar besar; 1 di tengah dan 2 di pinggir, untuk menampilkan film. Di bawah layar yang sebelah kiri, terdapat kain, dimana wayang kulit bisa ditampilkan. Di bawah layar sebelah kanan, segerombol pemusik membawakan ilustrasi musiknya. Dan di tengah, sebuah layar besar tampak menjadi latar bagi panggung wayang orang.

Kisah kepahlawanan hasil kolaborasi anak bangsa dengan komposer film dan penata laga Hollywood ini  disajikan dengan cara yang baru. Berbagai media; panggung, film di layar dan wayang kulit ditampilkan secara bergantian. Kadang ada adegan yang digambarkan melalui film, lalu dilanjutkan dengan gerak wayang kulit lalu dialog antar wayang orang di panggung. Bahkan kadang pemeran tersebut mempergunakan ruang penonton dalam adegannya, semisal ketika sekumpulan raksasa muncul, aku dibuat terkaget oleh seorang yang berlari di sampingku. Rambutnya gondrong, gimbal. Dia adalah salah satu raksasa yang berlari menuju panggung. Keseluruh adegan tersebut, dibalut oleh musik dari orkestra yang tampaknya berisi anak-anak muda semua. Selain itu, dengan penggunaan Bahasa Indonesia ditambah beberapa dialog jenaka, cerita ini menjadi lebih bisa dipahami masyarakat luas.

Namun meskipun inovatif, menurutku durasi 55 menit pertunjukkan ini terlalu singkat. Perbandinganku adalah pertunjukkan musikal Laskar Pelangi yang bisa lebih dari 2 jam. Selain itu, keberadaan beberapa alternatif media presentasi membuatku kadang kebingungan. Terutama ketika sedang pertunjukkan wayang kulit; mengingat lokasinya yang di sebelah kiri dan tak terlalu terlihat ‘besar’ seperti panggung utamanya. Terakhir, keberadaan kursi penonton yang seluruhnya selevel, membuatku merana. Pria yang duduk di depanku sangat tinggi, sehingga aku harus menonton dari agak ke samping, dan mengokupasi kursi kekasihku. Menurutku, Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki mungkin akan lebih cocok; meskipun dengan konsekuensi layar di kanan kiri akan jadi sulit dipasang.

Meski masih ada beberapa kekurangan, bagiku pertunjukkan ini sangat amat layak dilanjutkan. Apalagi dengan lakon yang lebih beragam. Generasi muda kita yang lebih senang dengan kepahlawanan Superman atau superhero asing lainnya, perlu diberikan model yang lain; yang berbau lokal. Aku yakin, banyak sekali nilai-nilai positif yang bisa digali dari kisah-kisah lokal tersebut. Dan aku rasa, masyarakat kita pun mulai sadar akan kekayaan budaya dan mau meluangkan waktu untuk mengenalnya. Lihat saja contohnya ini.

Bravo Jabang Tetuko!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *