Rumah Kebon No.56

Jadi, seperti ini rasanya ya. Meninggalkan rumah yang telah meneduhkan keluargaku; dan banyak saudara perantau, selama hampir 30 tahun.

Pohon jambu depan rumah, jadi tempat memanjat paling asyik selepas pulang sekolah. Juga ada pohon melinjo di samping rumah dan di kebun. Di situ kadang dari dedaunan muncul asap sebatang dua batang rokok (uuups :D). Tak lupa ada pohon rambutan, kelapa dan sempat banyak pohon pisang.

Lapangan samping rumah, jadi tempat belajar menendang-nendang si kulit bundar, badminton dan voli, hingga berkeliling-keliling mengayuh sepeda. Pernah juga, saat masih berupa kebun singkong, pura-pura membangun rumah dari batang singkong, dan tidur beralaskan koran di dalamnya.

Rumah Raisan No.56

Kamarku; yang pindah-pindah, mulai dari ruang tamu hingga kamar pribadi, jadi tempat tidur, ngecat ini itu, belajar UMPTN, UTS UAS, belajar gitar dan menulis lagu, hingga belajar menulis tesis. Kegembiraan, kesedihan, kegalauan dan suka cita, melekat di dindingnya.

Dapurnya, mungkin sudah memberi makan ratusan orang. Di situ aku belajar menggoreng telur, memasak mie instan, sampai membuat nasi goreng. Yang makan pun tak hanya manusia, tapi juga cicak dan tikus.

Ruang keluarga; atau lebih pas ruang tamu, telah melihat silih berganti pengalaman penghuninya. Adanya suara dan polah saudara dari kampung, perselisihan dalam keluarga, dan kini ada suara cucu bapak ibuku.

Terima kasih kuucapkan pada Yang Esa atas rumah ini. Kami sangat terberkati dapat berlindung melalui rumah ini. Sedih rasanya. Namun sekarang rumah ini akan punya tugas baru, dan kami akan menempati pondok  baru. Dan hidup akan berjalan terus.

PS: pondokan barunya tidak jauh-jauh dari rumah ini 🙂

One thought on “Rumah Kebon No.56

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *