Satu Langkah Menaiki Anak Tangga

Dua belas Desember lalu, aku telah mengambil tes TOEFL internet-based, atau iBT TOEFL. Targetnya adalah skor minimal 90 untuk mendaftar kuliah di University of Twente, Belanda. Aku cukup optimis dengan persiapanku; kurang lebih 3 bulan meluangkan hari Sabtu pagi hingga siang untuk ikut kelas persiapan TOEFL iBT di LBI FIB UI. Namun seselesainya mengerjakan tes di hari Minggu pagi itu, aku mulai pesimis dengan hasilnya. Bahkan sudah terpikir untuk mengambil ulang tes tersebut, atau ikut tes IELTS saja.

Meskipun demikian, hari ini pesimismeku buyar sudah. ETS, selaku pengelola tes iBT, telah mengeluarkan hasil tes tersebut.

Pagi ini, seperti di hari-hari libur lainnya, aku membuka internet untuk bersosialisasi dan mencari informasi. Saat membuka e-mail, ada sebuah pesan yang mengatakan bahwa skor tes iBT-ku sudah keluar. Dag dig dug rasanya jantung ini. Dilema juga, mau buka email itu atau tidak. Penasaran sekaligus takut melihat hasilnya.

Ketika kubuka, ternyata ETS hanya memberikan info bahwa skor sudah dapat dilihat di situs ets.org. Fiuh, lega..

Masih dag dig dug, kutelusuri laman ets.org, login ke dalamnya, lalu melihat skor tesku. Jantungku berdegup makin kencang. Ketika skorku sudah tampil, langsung kuganti laman; saking takutnya melihat skor. “Pasti jelek dan gak sesuai harapanku,” pikiran pesimisku berkata.

Walau begitu, tak lama kemudian aku membuka laman ETS kembali.

DUAAAAR!!

Tak percaya aku dibuatnya! Ternyata aku mendapat skor sebesar 102! Jauh melebihi targetku  90!

“Syukurlah Tuhan. Engkau memang Maha Kuasa.”

Begitu senangnya diriku, karena kurang lebih 2 mingguan setelah aku ambil tes, perkiraan skorku hanya 80-an. Bahkan aku sempat berencana mengambil ulang tes ini; meski harus keluar uang Rp. 1.518.000 lagi. “Gak apa-apa, asal nilainya sampai target,” pikirku. Tapi ternyata itu tidak perlu.

Dari angka 102, aku mendapat skor 27 untuk materi reading, 29 untuk listening, 22 untuk speaking dan 24 untuk writing. Sesuai dugaan, skor speaking pasti akan jadi yang terendah. Namun skor 22, jelas tak sesuai dugaan. Tadinya aku pikir hanya akan dapat sekitar 14-an. Ketika les persiapanpun skor itu tak pernah lebih dari 20.

Selain skor itu, ternyata ada komentar-komentar dari penilai. Untuk reading dan listening, aku berada dalam level high (skor 22-30) dan ada beberapa komentar positif dari mereka. Untuk speaking, aku ada dalam level fair (skor 2.5-3.0) serta beberapa umpan balik yang sangat membangun. Untuk writing, aku dalam level fair ketika menulis berdasarkan listening dan reading. Aku juga dalam level good (4.0-5.0) ketika menulis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan pribadi.

Aku masih terdiam; tak percaya dengan angka 102.

Satu langkah sudah terlewati. Masih ada beberapa langkah lagi yang harus kuambil, sebelum sampai di tujuan: skolah di luar Indonesia. Jadi, daripada terus terlarut dalam kesenangan ini, aku harus sudah bergerak untuk mempersiapkan beberapa hal lagi.

14 thoughts on “Satu Langkah Menaiki Anak Tangga

  1. selamat moko…

    merinding bacanyaa.. 🙂

    sekali lg.. selamaaattt…

    *akhirnyaa.. bersosialisasi tanpa hrs pake english2an kita.. hehee

  2. wooow selamat moko.. jadi tertarik untuk ambil real testnya… sumpah bacanya jd bikin penasaran banget…

    sekali lagi selamat semoga dapet segera sekolah diluar yaaa..)))

  3. Pingback: Menuju TOEFL iBT

  4. selamat ya atas IBT nya ..
    ku jg skrg lagi berjuang untuk IBT min 80 ..
    gak banyak2 deh ..

    semangat

  5. Pingback: Menunggu Kabar Dari Belanda

  6. Pingback: Menuju TOEFL iBT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *