…sebuah tetumbuhan di pinggir sungai

sudah beratus ratus hari, sejak kecil,
ku tinggal di sini.
di sini, tepat di pinggir sungai ini,
kakiku telah tertancap kuat.

dulu,
bibir sungai ini,
olehku dan beberapa kerabat,
dijadikan ruang hidup.
air airnya, di pagi hari menggelitiki jari kakiku
dan di sore hari menyeka kotor di kakiku.
sebagai ganti,
kuberikan dedauan dan rerantingan
untuk dikirimkan bagi yang butuh.

dan begitulah kesehariannya..
semuanya berjalan begitu landai dan damai,
di Tangan Yang Tepat.

sampai,
satu manusia,
dua manusia,
manusia dan anakanaknya,
mulai ganti pegang kendali.

sebatang demi sebatang,
sahabatku mulai bertumbangan.
mungkin aku akan segera menyusul.

satu demi satu,
ikan ikan di dasar sungai tak lagi kelihatan,
dasarnya pun, tak lagi bisa diterawang.

detik demi detik,
air sungai semakin tinggi, saat hujan mengguyur.
ia kini seperti gelas (berdinding) yang jadi tak mampu tampung cucuran hujan.

hari kini,
tiga manusia
sedang memotong motong jariku.
aku dengar suara mereka,
namun tak tahu maknanya :
‘sulur ini harus dihabisi,
karena saat banjir,
banyak sampah tersangkut disini’

apa yang membuat mereka berpikir,
bahwa jariku ikut bersalah
dalam meluapnya air sungai ini?
apa yang membuat mereka berpikir,
dengan menghentikan jariku tumbuh,
masalah luapan pun terselesaikan?

apakah yang di pikirkan mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *