Selepas Malam, Mentari Terbit Lagi

“Ada gerakan-gerakan di perut itu jadi hiburan,” katanya siang ini.

Syukurlah. Padahal beberapa hari lalu ia dilanda kedukaan karena kehilangan baby boy dalam rahimnya. Namun hari ini gerakan-gerakan baby girl-nya, nampak membuatnya bisa mengendalikan kesedihan.

Kasus temanku ini memang unik. Ia mengandung anak kembar, lelaki dan perempuan. Namun, diduga karena temanku sakit demam, bayi lelakinya meninggal dunia, sedangkan yang perempuan tetap bertahan.

Temanku dan suaminya sempat mengalami dilema; membiarkan kedua bayi tetap di perut atau mengeluarkan si baby boy. Sampai akhirnya, mereka memutuskan tetap membiarkan si bayi lelaki bersama saudara dan ibunya.

Menurut dokter, hal ini tidak akan jadi masalah, selama kondisi ibunya tetap baik. Kondisi ini selalu dijaga dengan adanya pemeriksaan ketat dan rutin oleh dokter. Baby boy baru akan dikeluarkan jika saudaranya akan dilahirkan. Tidak mungkin jika dikeluarkan sekarang.

Kehilangan Bayi lelaki inilah yang menjadi sumber kesedihan temanku. Saat inipun dia masih merasakan pilu di hatinya. Pernah suatu saat ia menangis ketika sedang melihat cuplikan adegan seorang anak perempuan sedang berdansa dengan ibunya. Saat itu ia langsung terbayang baby boy-nya yang telah tiada.

Meski begitu, ia mengaku sudah jauh lebih kuat sekarang. Apalagi bayi perempuannya masih aktif bergerak-gerak. Tentu ini menjadi penhilang rasa duka dalam hatinya. Justru saat ini ibu kawanku ini yang masih dirundung kesedihan dan masih sering menangis.

Kekuatan itu juga terlihat saat ia ditanya seputar kehamilannya. Beberapa rekan kerja; yang kebetulan tidak tahu peristiwa ini, pernah bertanya. “Gimana si kembar? Sudah main janggut-janggutan ya?” tanya mereka. “Ya gitu deh. Doain aja ya,” jawabnya. Mungkin jika dia ditanya seperti ini saat bayi lelaki baru meninggal, tentu reaksinya akan jauh berbeda.

Kekuatan temanku itu tentu berita yang melegakan. Bagaimana tidak? Beberapa hari sebelumnya aku sampai tak tahu mesti berespon atau bertingkah laku seperti apa di depan dia. Takut salah bicara atau bertindak, dan jadi melukainya. Sekarang, setidaknya aku sudah tak canggung berinteraksi dengannya.

“Gue turut senang baby girl-nya selamat :D,” kataku.

“Semoga sampai seterusnya. Amiiiiin” jawabnya.

Amin!

3 thoughts on “Selepas Malam, Mentari Terbit Lagi

  1. Sesuatu yang sulit, kelam, sedih.. biasanya menuntun pada sesuatu yang penuh harap, cerah, membahagiakan, nantinya..kadang kita baru sadar setelah melewatinya. Jadi…percaya saja šŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *