Senja Remang-remang

“Papa, apakah kau sungguh akan pergi?”

“Mama, aku baru saja pulang kerja. Masih capek. Kenapa ditanya macam-macam sih?” sambil berlalu menuju kamar tidur.

“Mengapa, pa? Mengapa?” aku pun mengikutinya.

Dia tak menjawabku. Sambil melepaskan dasi dan kemeja, dia menuju ranjang kami dan duduk disana.

“Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi dan tak kembali lagi,” katanya.

“Kau tak lagi peduli padaku? Peduli pada anak dalam kandunganku?” kudekati dan kupeluki dia. Kubiarkan tangisanku membasahi tubuhnya.

“Justru karena aku tak mau melukaimu, makanya aku pergi. Apa katanya kalau sudah besar nanti?”

Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasibku dalam hati. Hanya dalam hati. Berharap si jabang bayi bisa mendengar lalu meminta papanya untuk tinggal.

Dia melepaskan pelukanku dan mulai mengepaki pakaiannya. Aku terduduk lemas di depan cermin.

“Maafkan aku. Nanti tiap bulan akan kukirimi uang,” setelah memakai kaos, ia berlalu dan keluar dari pintu.

Kepergiannya memang sudah kuduga sejak dulu. Tapi tak kusangka akan secepat ini.

Kupandangi lekat-lekat wajahku di cermin dalam geming. Pantulannya menggambarkan seorang wanita dalam tangisan putus asa. Cermin ini juga yang memantulkan wajah papa saat sedang bedakan, memakai wig dan memulas bibirnya dengan lipstick, sebelum bekerja kembali.

*cerpen hasil kelas penulisan cerpen bersama PlotPoint.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *