Setu Babakan Baru

Sudah lama sekali, sejak terakhir ke Setu Babakan. Mungkin sekitar tahun 2012 lalu. Di akhir liburan lebaran 2016, kami akhirnya secara impulsif mampir ke situ. Tujuan utamanya membeli kerak telor. Namun ternyata dapat pengalaman baru lain dari sebelumnya kubayangkan.

Awalnya, Aku, istri dan si kakak, ingin berwisata keliling Jakarta. Niatnya ingin menikmati lowongnya Jakarta yang ditinggal mudik. Namun Ragunan, Ancol, atau objek wisata lain tetap saja banjir pengunjung. Kemudian kami ingat dengan Setu Babakan.

Tujuan kami ke sana sesungguhnya hanya 1: membeli kerak telor. Sebelumnya, kami lebih dulu masuk ke parkiran, di area dengan banyak bangunan baru. Aku belum pernah ke sini sebelumnya.

“Mungkin museum budaya Betawi,” pikirku.

Kami segera memasuki sebuah gedung memanjang, sekilas mirip Museum Fatahilah. Selepas mengisi buku tamu, kami dipertemukan dengan pemandangan menarik. Ada semacam amphiteater dikelilingi rumah-rumah kayu tradisional dan tempat duduk berundak-undak.

Perpaduan modern dan tradisional

Kami lalu mendatangi rumah-rumah tradisional. Ternyata tidak hanya rumah Betawi. Joglo pun ada. Sayangnya, kami tidak bisa masuk ke rumah-rumah tersebut. Jadilah kami hanya foto-foto (plus selfie), karena tidak ada aktivitas lain yang dapat dikerjakan; selain duduk-duduk ngobrol.

Tak jauh dari lokasi tersebut, danau sudah nampak. Tujuan kami pun tercapai, tak lama setelah menyusuri tepi danau. Kami berjumpa seorang pak pedagang ramah, yang menjual kerak telor dengan 1 telur bebek seharga Rp.15.000. Biasanya, kerak telor dengan telur bebek bisa dihargai Rp.20.000-25.000; atau lebih.

Kerak telor Betawi asli

Begitu selesai foto dan memesan kerak telor, kami tertarik melihat perahu naga yang berkeliling di danau. Dengan dag dig dug kami memutuskan untuk mencoba. Biayanya murah sih, hanya Rp.10.000.

“Ngeri amat sih. Pelampung tidak bisa di-klip sabuknya. Kapalnya juga gak meyakinkan,” makin was was diriku. Apalagi aku tak dapat berenang.

Akhirnya rasa penasaran (dan ingin menyenangkan istri) mengalahkan ketakutanku. Kami pun naik mengelilingi danau 1 putaran. Pengalaman baru yang cukup menegangkan.

Perahu naga

Pemandangan dari perahu

“Lumayan asyik pengalaman siang ini,” pikirku setelah turun dari perahu.

Setelah lama tak ke Setu Babakan, ternyata ada area-area baru di Setu Babakan, khususnya amphiteater dan rumah tradisional sekitarnya. Sayangnya belum ada aktivitas budaya di situ. Mungkin aku datang di hari yang salah, jadi hanya bisa foto-foto saja.

Untuk danaunya sendiri, seperti biasa, penuh dengan pengunjung. Jalan sekeliling danau pun penuh motor parkir. Sesungguhnya tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sana. Kecuali memandangi danau dan pemandangan sekeliling sambil menikmati jajanan-jajanan khas (termasuk yang umum juga).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *