Slank di Masa Remaja

Jadi, musik masa mudaku adalah Slank.

Pertama kenal saat di kelas 2 SMP, dari seorang teman sekelas dan juga dari MTV yang sedang mulai jaya. Album pertama yang kupunya berjudul Lagi Sedih. Saat itu Slank sedang kacau-kacaunya. Narkoba dan juga keluarnya Indra, Pay dan BonQ, pentolan-pentolannya.

Semua-muanya bergambar Slank. Tas slempangan, coret-coretan di sepatu, sampul buku bahkan ukiran hasil vandalisme di meja kelasku. Makin lengkap dengan playlist Slank di manapun ada gitar dan kawan bernyanyi. “Keren aja kayaknya kalau jadi anak Slankers.”

Slank: Generasi Biru

Meski sudah tiap hari mendengarkan lagunya, baru ketika kelas 1 SMA aku menyambangi markas mereka di Gang Potlot dan mulai nongkrong di sana. Kadang datang dengan beberapa teman sekolah. Kadang sendirian. Tapi tak pernah bertemu langsung dengan salah satu dari personilnya waktu itu. Saat itu pula aku resmi jadi salah satu Slankers. Dibuktikan dengan kartu anggota; yang saat ini entah ada di mana.

Namun bersamaan dengan masa remaja yang mulai luntur, rasa slankers pun mulai luruh juga. Aku tak lagi ke Potlot. Album terakhir yang kumiliki dan kudengarkan adalah Virus Roadshow di tahun 2001. Di tahun yang sama, aku mulai berkuliah dan kenal dengan musik-musik lain.

Alhasil Slank terkubur dengan sendirinya bersama masa remaja. Namun bukan berarti kenangannya hilang. Sudah 2 bulan terakhir, suara Kaka, gebukan drum Bimbim, betotan bas Ivan dan raungan gitar Ridho dan Abdee mengiang di telingaku. Dan memori pun mengalir tanpa diminta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *