Suspension Bridge dan ojek sakti

Salah satu target utama perjalanan kami adalah main ke jembatan panjang, namanya Suspension Bridge. Menurut info pemandu kami, sebaiknya sepagi mungkin ke sana. Kalau sudah pukul 9, biasanya sudah ramai.

Setelah makan snack pagi burcangjo, pukul 6.30 pagi kami jalan ke Suspension Bridge dan air terjun. Ke sananya cukup jauh, dan turun tangga-tangga batu. Katan Mas Ali, lebih pendek jaraknya dibanding ke danau, tapi karena naik turun tangga batu, jadi terasa lebih melelahkan.

Untuk masuk ke Suspension Bridge, per orang perlu membayar Rp.50.000. Sebelum melewati jembatan, kami dipakaikan tali pengaman; dipakai jika ada instruksi. Jembatan itu panjangnya sekitar 300 meter. Makin ramai pengunjung, makin bergoyang jembatan itu, makin ngeri rasanya.

Suspension Bridge

Hal paling membanggakan saat penyeberangan tentunya adalah keberanian Francis untuk jalan di jembatan. Beberapa kali sempat kami lepas pegangan tangannya. Hebat! Selanjutnya adalah turun terus ke arah air terjun.

Menuju ke air terjun Curug Sawer ini cukup melelahkan, karena anak tangganya banyak, berbatu dan kadang licin. Sudah terbayang letihnya ketika kembali ke atas dan perlu menggendong Francis. Namun kami bangga pada Francis, karena ia menunjukkan kehati-hatian saat naik turun tangga batu. Kami mengulang-ulang pesan hati-hati itu tiap muncul risiko jatuh.

Sesampainya di tujuan, kami disuguhi air terjun setinggi, kurang lebih 10-15 meter. Air di bawahnya tidak boleh dipakai berenang, karena ternyata dalamnya sampai 7 meter. Jadi kami hanya main di sungainya; dan airnya dingiiin sekali. Francis juga main air, meskipun akhirnya berhenti dan hanya lempar-lempar batu dari tepi saja.

Curug Sawer

Setelah puas, kami kembali ke camp site. Aku memutuskan naik ojek bersama Francis, dan Tasya berjalan saja. Untuk naik ojek, perlu membayar Rp.50.000.

Bagi yang membawa anak kecil seperti aku, naik ojek sangar tidak direkomendasikan. Jalur berbahaya; hanya muat 2 motor papasan, tepian jurang, banyak batu-batu, dan sama sekali tidak dibekali alat keselamatan seperti helm. Syukurlah kami selamat sampai tujuan.

Sampai di camp site, kami disuguhi sarapan nasi goreng, telur dadar, nugget ayam. Secara umum, makanannya enak-enak dan ramah anak. Jarang ada makanan pedas. Kalau pun ada sambal, disajikan terpisah.

Selepas ke air terjun, badan sudah pegal-pegal. Kami lanjut persiapan untuk pulang. Info dari Tanakita, jarang ada ojol yang ke arah atas. Karena itu, kami turun dengan menyewa angkot saja.

Tim Tanakita ternyata punya kenalan supir yang angkotnya bisa disewa. Dengan harga Rp.150.000 kami bisa menuju stasiun, plus berhenti dulu untuk beli oleh-oleh dan makan siang di Sukabumi kota.

Sebelum kami pulang, serombongan penginap berdatangan kembali. Menurut info Mas Ali, ada sekitar 12 mobil terparkir di dalam area Tanakita.

Kami belanja oleh-oleh di toko Lampion. Moci, bika ambon dan gula semut menjadi target buruan. Setelahnya kami makan dan menuju Stasiun Cisaat. Kali ini kami naik kereta Pangrango Eksekutif, sehingga bisa lebih rileks dalam perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *