Tahura, Jepang dan Kopi

Halo Kakak,

hari ini hari kedua kita berwisata ke Bandung. Dari pagi sudah berencana ke Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, menukar barang belanjaan, lalu menonton pertunjukkan angklung. Capai sekali hari ini, Kakak. Tapi Ayah dan Ibu senang. Semoga kamu senang juga ya. Ayah mau mulai dengan cerita tentang jalan-jalan menghirup udara segar di Tahura.

Pukul 8 kami berangkat dari penginapan, menuju ke sana. Kami diantar oleh pengemudi Uber yang ramah, komunikatif, yang ternyata sedang mengerjakan skripsi. Jalan masuk gerbang Tahura cukup kecil. Tak menyangka hanya sebesar gang yang cukup mepet untuk 2 mobil berpapasan.

Sampai di sana, kami membayar tiket masuk seharga Rp.10.000/orang. Setelah berpamitan dengan pengemudi taksi, langsung saja kami berkeliling. Tujuan utama, menuju Goa Jepang, Goa Belanda, lalu Armor Kopi. Dari pintu masuk, mungkin sekitar 400-500 meter, Goa Jepang sudah dapat ditemukan. Yang kami temukan pertama kali adalah pasangan yang sedang berfoto pre wedding. 

Museum Tahura

Goa itu adalah peninggalan Jepang, saat menjajah Indonesia. Menurut penjaganya, mereka menggunakan goa sebagai tempat bersembunyi. Setidaknya ada 3 pintu utama goa, dan 3 lorong yang menghubungkan antar pintu tersebut. Luas seluruh area goa tersebut sekitar 400 meter persegi. Pintu goa berdiameter sekitar 4-5 meter, dengan ventilasi sekitar 1 meter.

Pintu masuk Goa Jepang

Untuk dapat melihat dan menyusuri goa, penjaga goa memberikan kami senter (yang kami kira dipinjamkan). Goa itu sangat gelap, meskipun masih pagi. Di dalamnya terdapat beberapa “kamar” bagi petinggi-petinggi yang akan singgah. Dinding goa itu adalah batu kokoh. Aku berpikir, berapa banyak rakyat Indonesia yang meninggal untuk mengerjakannya ya? Ngeri aku membayangkannya.

Tembok goa yang adalah batu sungguhan!

Niatnya, setelah itu kami ingin melihat Goa Belanda, namun karena ibu sudah mulai lapar, kami pun kembali, menuju Armor Kopi. Di kedai kopi yang terletak di pintu masuk Tahura itu, kami memesan milk tea, pisang goreng dan Vietnam drip coffee (kalau tidak salah). Ketiganya enak saat disantap; meski aku tak tahu kopi yang nikmat itu seperti apa. Setelah kenyang, tentunya kami berfoto ria; tak mau kalah dengan anak-anak muda lainnya.

Armor Kopi

Kami pun kemudian melanjutkan menuju lokasi berikutnya.

2 thoughts on “Tahura, Jepang dan Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *