Tanakita Camping Ground

Sesampainya di Tanakita, kami disambut oleh beberapa staf dan juga snack pisang dan singkong goreng, serta kopi dan teh. Kami juga selalu dipandu oleh seorang yang sama, dari awal sampai akhir menginap.

Tanakita ini terdiri dari beberapa area. Begitu masuk gerbang, ada parkiran cukup luas. Lalu ada area makan, area bersama dan kantor staf. Di samping area itu, ada 2 area terbuka yang luas, disertai dengan kursi meja untuk makan atau ngobrol-ngobrol. Di bawahnya, ada 2 area utama untuk tenda; mungkin bisa sampai 30 tenda 3×3 meter.

Ruang bersama

Sebelum check in pukul 13, kami sudah bisa masuk tenda yang telah siap. Tenda kami terdiri dari 2 ruangan: 1 ruang “teras” dan 1 ruang tidur. Keduanya memiliki “pintu” sendiri, sehingga cukup aman dan privat.

Tenda kami
Musola

Kami lalu lanjut makan siang. Makan siangnya menu tradisional lokal, berisi nasi, tahu, sambal, dan teri kacang. Makan siangnya enak, tapi sayur asemnya manis. Kalau Francis minta makanan lain, kami boleh pinjam dapurnya untuk memasak.

Ruang makan

Setelah kenyang, kami jalan ke danau Situ Gunung, yang berjarak sekitar 700 meter dari lokasi kemping. Jalannya berkelok dan naik turun. Saat menuju ke danau, Francis lebih banyak berjalan sendiri daripada digendong. Kami bangga sekali!

Situ Gunung

Sampai di danau, kami naik perahu terbuat dari bambu, dengan biaya Rp.15.000/orang. Perahu ini dikemudikan dengan bambu oleh seorang bapak dan (nampaknya) seorang anaknya. Kami berkeliling danau, sekitar 15 sampai 20 menit.

Danau ini nampak kurang terawat. Rumput ilalang sudah tinggi dan ada jembatan yang rusak. Tempat itu sudah kurang instagramable lagi. Konon katanya, sang pemilik lebih fokus ke suspension bridge yang besok akan kami kunjungi.

Setelah foto-foto, kami kembali ke Tanakita dengan berjalan kaki lagi. Bagi yang sudah letih, ada ojek-ojek yang siap disewa. Biasanya Rp.20.000 jika sampai tujuan kami.

Sambil jalan pulang, Mas Ali pemandu kami, banyak bercerita. Ia menunjukkan cara membuat terompet dari daun pisang, kuncup bunga yang bisa bunyi jika dipukulkan ke jidat, hingga cerita tentang area sekitar yang juga adalah tempat ia tinggal.

Seperti biasa, pisang goreng dan bakwannya yang enak sudah menanti kami di ruang bersama Tanakita.

Kami pun lanjut mandi sore. Tempat mandinya menyediakan saluran air hangat. Ember juga bisa dipinjam untuk memandikan Francis. Kamar mandinya enak dan bersih juga. Seperti biasa, aku dan ibu tidak bisa BAB di tempat baru. Hahaha.

Makan malam pun tiba, sekitar pukul 7 malam. Ditemani api unggun, kami menyantap ayam bakar yang lezat. Kami meminjam gitar dan cajon untuk main musik bersama.

Camp site

Sebelum tidur, kami menagih janji dari Tanakita. Kami diajak ke suatu tempat gelap, sekitar 200 meter dari tenda. Di situ kami menunggu kunang-kunang muncul. Sayangnya, karena kabut yang sangat tebal kami cuma melihat beberapa saja. Namun yang membuat kami senang, Francis sempat melihat dan membiarkan kunang-kunang jalan di tangannya.

Kami kemudian masuk ke tenda dan mulai beristirahat. Francis tidurnya sangat nyenyak, mungkin kecapean karena seharian bermain terus. Orang tuanya? Terbangun bangun. Hihihi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *