Tentang Kesederhanaan

Kupikir selama ini aku orang yang sederhana, namun ternyata aku belum, dan masih jauh dari sana.

Aku lahir dan besar dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bisa dibilang cukuplah, untuk bisa hidup sehari-hari. Bahkan aku dan kedua kakakku bisa kuliah, meski ibu hanya guru SD dan bapak hanya karyawan biasa.

Dari kecil aku terbiasa tidak hidup menghamburkan uang. Kuingat ketika SMP, kepergianku nonton bioskop 21 bisa dihitung dengan jari tangan kananku saja. Begitu pula saat SMA. Tiga tahun sekolah di kawasan Bulungan, kedatanganku ke Blok M Plaza juga bisa dihitung dengan jari tangan sebelahnya lagi.

Ketika kuliah, biasa dengan hidup susah; makan dengan uang pas-pasan, pulang naik angkot dan kereta ekonomi atau harus ikutan puasa jika mau beli celana jins baru. Sudah begitu, celananya dicuci sendiri tiap minggu.

Namun kini, setelah memiliki penghasilan sendiri, kok tampaknya aku melemah. Tadinya saat makan, harganya dibatasi sekian rupiah, kini batasannya meningkat. Sekarang sudah lebih memilih naik patas AC, kereta ekonomi AC atau Transjakarta. Lalu kalau mau beli pakaian tapi tak bawa uang, bisa langsung pakai kartu debet.

Tak cuma itu. Beli laptop yang seharga motor. Beli setumpukan buku; beberapa tumpuk. Beli kamera, bersama beberapa lensa. Beli ini. Beli itu. Dan banyak lainnya.

Perubahan ini ternyata memunculkan disonansi: “katanya aku sederhana, tapi kok kelakuannya begini?”

Lalu aku sampai pada kesimpulan bahwa dengan memiliki uang itu sama sulitnya dengan tak memiliki uang. Bahkan kalau boleh kubilang, lebih sulit. Ibaratnya, semakin tinggi pohon, angin makin kencang meniup.

Benar juga teori ekonomi ya? Semakin banyak penghasilan, konsumsi pun semakin banyak. Ada saja yang ingin dibeli. Apalagi bagiku yang dulu tak mudah mendapatkan sesuatu. Seperti kuda lepas dari kekangnya. Jika dulu kesederhanaan muncul dari keterbatasan, maka jika keterbatasan hilang, kesederhanaan pun hilang akarnya. Sebab itu, saat ini kesederhanaan harus diusahakan secara sadar. Bukan lagi karena dibatasi ketiadaannya penghasilan, seperti ketika jadi mahasiswa, tapi karena adanya keinginan sadar dari dalam untuk hidup cukup tak berlebih.

Hmmm. Tampaknya aku masih perlu banyak belajar untuk menghayati nilai kesederhanaan. Belajar lagi untuk mengelola penghasilan. Dan lebih dalam lagi, mengelola keinginan ini dan itu; jika ingin bisa mengajarkan nilai kesederhanaan pada istri dan keluargaku nanti.

3 thoughts on “Tentang Kesederhanaan

  1. Tulisan kontemplatif, jujur pada diri sendiri… saya sendiri enak bacanya coz ngerasa seperti liat cermin aja… he3. salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *