The Martian: McGyver dari Mars

Sebelum menonton The Martian, yang terbayang adalah film Interstellar, karena sama-sama berkisah tentang penjelajahan ruang angkasa. Namun kali ini bukan lewat lubang cacing, melainkan ke planet merah tetangga kita. Perbedaan lain adalah film garapan Ridley Scott ini, ada tema-tema kental tentang bertahan hidup.

Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang botanis yang tertinggal di Mars, saat sedang menjalankan misi penjelajahan. Bagaimana ia bertahan hidup dengan sumber daya terbatas; selama 2 tahun lebih, di tempat yang jauh sekali.

Warga Mars 😀

Tema yang kental dalam kisah Mark Hatney, yang diperankan oleh Matt Damon, adalah kemampuan bertahan hidup, lewat penyelesaian masalah, kegigihan serta kolaborasi.

Masalah akan selalu ada. Tinggal bagaimana kita memilih mulai mengupayakan solusinya atau tidak. Begitu katanya, di akhir film. Memang, kemampuan Mark menyelesaikan masalah, sangat jelas muncul. Ia bak McGyver, yang selalu memiliki ide ajaib untuk apapun. Bahkan kadang berlebihan menurutku; mengingat ia adalah Ph.D di bidang botani.

Kemampuan menyelesaikan masalah, nampaknya berhubungan dengan kegigihan Mark. Ia mampu melenting dan kembali fokus menyelesaikan masalah. Sepertinya ia memiliki kemampuan lebih untuk dapat beradaptasi setelah muncul kesulitan yang signifikan. Kalau di ilmu psikologi, dikenal sebagai istilah resiliensi. Bayangkan saja: ia sendirian di area antar berantah, sumber daya terbatas dan harapan hidup yang bisa dibilang rendah.

Kejadian tidak disangka, saat NAS kemudian bekerja sama dengan salah satu negara adidaya lainnya untuk menyelamatkan Mark. Namun di dalam film ini, negara adidaya tersebut, memiliki teknologi lebih canggih. Agak janggal, mengingat biasanya film-film Hollywood akan mengagungkan teknologi negeri sendiri.

Di sela-sela hal positif tentang perjuangan hidup manusia, film ini kurang membekas seperti Interstellar. Semua nampak to good to be true. Mark dapat menyelesaikan semua masalah yang ditemuinya. Entah pelatihan bertahan hidup NASA yang sangat bagus, atau memang film ini terlalu tidak realistis. Permasalahan klimaks, saat Mark diselamatkan, menurutku juga kurang greget. Nampaknya bisa lebih klimaks dari pada itu.

Untuk film ini, aku memberikan skor 3.9 dari skala 5.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *