Titik Hujan, Tikus Tanah & Air Putih

Awan kecil sudah merelakan diri menjadi bagian dari bumi. Ia pun menitis menjadi hujan dan menyatu dengan tanah. Tapi betapa kecewanya ia ketika tahu apa yang ditemuinya disana.

Perlahan ia menyusupi rongga-rongga tanah. Tak ada yang akan menghentikan niatnya kini. Namun tiba-tiba ia tertumbuk, semacam tembok berwarna putih. Bentuknya bulat dan berdinding. Kini awan kecil yang sudah menjadi titik hujan terperangkap di dalamnya.

Ketika mencoba membebaskan diri, seekor tikus tanah melintas dan menabrak benda perangkap itu.

“Bisa kau bantu aku keluar dari sini?” kata titik hujan.

“Ternyata ada air terjebak di dalam ember,” katanya sambil mengayunkan tangan agar ember tersebut tumpah.

Air-air di dalamnya kemudian tercecer keluar.

“Benda apa ini? Siapa makhluk yang tega membuat dan meletakkannya di sini?” titik hujan kesal.

“Berkenalanlah dengan ember, sebelum dia memenjarakanmu lagi suatu saat nanti.”

“Ember ini buatan manusia. Aku seringkali melihatnya untuk membawa air-air sepertimu. Kalau sudah bolong seperti ini, jelas ia tak berguna lagi. Maka manusia membuangnya ke dalam tanah.”

Belum selesai ia mencerna penjelasan tikus tanah yang tampak sudah uzur itu, ia dikejutkan oleh air-air seperti dirinya, namun putih.

“Siapa kamu?” tanya titik hujan.

Namun air putih itu diam saja.

“Itu salah satu kreasi manusia lagi. Tadinya ia sepertimu. Tapi ia jadi begitu karena tercampur deterjen. Manusia memang kreatif,” kata tikus tanah, mencibir.

“Meski terlihat polos, namun ia sudah banyak membunuh kawan-kawanku. Kau tahu?!” Mata tikus tanah membelalak menatap air putih.

“Manusia. Katanya makhluk berakal dan beradab. Tapi membunuhi makhluk lain demi kesenangan diri sendiri.” Tikus tanah memerah wajahnya, penuh amarah.

“Belum lagi pohon-pohon yang merana karena diracuninya!” Si tikus tampak makin geram.

Menyedihkan sekali, pikir titik hujan. Ia seperti menggumamkan kekecewaannya pada Sang Pencipta.

“Tak perlu kalian menyalahkan siapa-siapa. Tidak manusia, tidak pula Penciptanya,” akhirnya air putih buka suara.

“Manusia masihlah teramat muda. Coba bandingkan dengan dirimu yang usianya sama tuanya dengan kehidupan itu sendiri,” sambil menunjuk titik hujan.

“Atau denganmu yang sudah mengenal tanah, barangkali sejak tubuhmu masih raksasa,” menengok ke arah si tikus.

“Wajar saja jika mereka belum tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Yang mereka tahu hanyalah kesejahteraan diri mereka sendiri. Ibaratnya merekalah pusat alam semesta ini. Maka merekalah yang patut diperhatikan.”

“Tak ada yang perlu kita keluhkan. Jalanilah peran sebaik mungkin. Kau, jadilah pemuas dahaga tanah dan pohon. Kau, tetaplah menggemburkan tanah. Dan aku? Alam paling tahu bagaimana membuatku murni kembali.”

Titik hujan termenung mendengarnya. Air putih ini, meski dikambinghitamkan dan kotor, tetap bisa menerima apa yang terjadi padanya.

Titik hujan pun malu. Ditatapnya tikus tanah yang juga tertunduk malu.

Kami pun berpisah di sini. Tikus tanah kembali melanjutkan perjalanannya. Aku meneruskan menanggapi panggilan akar. Dan air putih hilang tersesap tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *