Tongue & Lip Tie

Dear Francis,

Selamat ulang bulan yang kedua. Setelah memeriksakanmu ke dokter anak, beratmu kini sudah mencapai 4,6kg. Panjang badanmu sudah 57,5cm. Lingkar kepalamu sudah 38,5cm. Meski sudah meningkat semenjak engkau lahir, berat badanmu masih “hutang” 1kg lagi. Itu pun ayah, ibu dan kamu sudah berusaha keras. Apalagi 2 minggu sebelumnya kita baru dapat informasi bahwa kamu itu tongue tie.

Meski berat badanmu perlahan mulai naik, ayah dan ibu masih merasa perlu memastikan kenaikannya sesuai dengan kurva pertumbuhanmu. Karena itu kami memutuskan untuk konsultasi ke klinik laktasi di salah satu rumah sakit di kawasan Kemang.

Setelah kami berkonsultasi dan kamu diperiksa oleh dokter, kamu didiagnosa mengalami tongue tie. Menurut Chaubal & Dixit (2011), tongue tie atau ankyloglossia adalah suatu kondisi pendeknya lingual frenulum atau jaringan pengait antara lidah dan bagian bawah mulut. Kondisi ini menyebabkan kesulitan dalam berbicara, dan juga gangguan ketika menyusui.

Sebelum ini, 2 dokter anak dan seorang konselor laktasi yang pernah kami kunjungi, tidak pernah menemukan tongu tie itu. Ayah dan ibu jadi bertanya-tanya sendiri. “Mana yang benar?”

Selain tongue tie, pada bagian antara bibir atas dan gusimu, juga terdapat jaringan yang disebut oleh dokter sebagai lip tie. kurang lebih penjelasannya mirip seperti TT, namun bibir bagian atas yang terikat. Kondisi tongue dan lip tie itu akan bisa teratasi jika frenulum digunting; prosesnya disebut frenotomy.

sebelum frenotomy. foto dari https://med.stanford.edu/newborns/professional-education/frenotomy/_jcr_content/main/panel_builder/panel_0/panel_builder_1115853153/panel_0/panel_builder/panel_0/image.img.full.high.jpg

Entah bagaimana, ayah dan ibu sampai pada keputusan untuk mengizinkan dokter melakukan frenotomy. Kami berdua sudah sepakat, sepertinya frenotomy adalah usaha terbaik untuk membantumu.

Setelah mengisi lembar persetujuan tindakan, kamu direbahkan di tempat tidur. Dokter menyiapkan gunting kecil lalu memotong frenulum dan jaringan di bibir atas. Sesudah itu tangismu pun pecah. Darah mulai terlihat, meski tidak banyak. Meskipun mengeluarkan darah, menurut dokter, tindakan tersebut tidak sakit. Karena, di bagian tersebut hanya terdapat sedikit syaraf dan pembuluh darah.

setelah frenotomy. gambar dari https://med.stanford.edu/newborns/professional-education/frenotomy/_jcr_content/main/panel_builder/panel_0/panel_builder_1115853153/panel_0/panel_builder/panel_1/image.img.full.high.jpg

Setelah tindakan, kamu segera disusui oleh ibu. Ibu merasa sedih, khususnya karena kamu menyusu sambil menangis dan ada bercak-bercak darah. Namun tak lama, kamu sudah tenang lagi. Ibu pun disarankan untuk menjalani akupunktur pelancar ASI.

Beberapa minggu setelah itu, nampaknya ada perubahan positif. Aku tidak bisa bilang tindakan mana yang menjadi penyebab utama. Bisa jadi frenotomy-nya. Bisa jadi akupunktur-nya. Atau hal lain. Namun yang pasti, ibu merasakan payudaranya lebih sering terasa penuh. Ia juga lebih percaya diri bahwa ASI-nya akan cukup. Susu formula pun sudah ditinggalkan.

Meski demikian, ayah dan ibu sedikit mengalami kegalauan juga. Terutama karena cepatnya pengambilan keputusan untuk melakukan frenotomy. Seharusnya kami bisa saja mencari tahu dulu, menimbang-nimbang dulu. Namun ayah ibu sepakat bahwa tindakan itu memang yang terbaik untuk dilakukan, meski dalam ilmu kedokteran, tongue tie ini masih dalam perdebatan. Selain itu, ayah dan ibu juga ingin supaya kamu bisa segera lepas dari suplementasi ASI.

Kami yakin Tuhan akan bantu kita bersama, Nak. Jangan putus harapan dan selamat ulang bulan ke-dua.

3 thoughts on “Tongue & Lip Tie

  1. Pingback: Setengah Tahun Sudah | aku dalam kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *