Konstruktivisme: Pengalamanku

Setelah lama hanya jadi pemirsa, akhirnya aku bisa berbagi pengalaman di kampus melalui #twitedu yang diadakan Bincang Edukasi. Tema kali ini adalah konstruktivisme.

Aku sendiri bukanlah ahli di bidang ini. Pengetahuanku dibangun dari hasil membaca sendiri, diskusi dengan Prof. Sri Hartati dan pengalaman bergelut di sebuah mata kuliah umum yang dirancang dengan pemahaman konstruktivisme. Pengalaman itu kudapat ketika menjadi fasilitator diskusi online serta pelatih bagi pengajar dalam menggunakan aplikasi diskusi online tersebut.

Tentang perkuliahan berbasis konstruktivis, di kampusku ada sebuah mata kuliah tingkat universitas yang diberikan di tahun pertama kepada mahasiswa baru. Isinya macam-macam, mulai dari pancasila, filsafat, hingga sains kesehatan dan teknologi. Penerapan konstruktivismenya ada dalam bentuk metode diskusi yang digunakan sebagai metode utama.

Berikut ini ringkasan (yang amat ringkas) pengalamanku terlibat di dalamnya.

pemahaman ttg konstruktivisme sy konstruk dari membaca dan diskusi dengan seorang profesor di kampus. moga tak menyesatkan #twitedu

menurut konstruktivisme, pengetahuan bkn ‘diberikan’ guru tp dibangun sendiri olh pembelajar, lwt pengalaman dan insight dr situ #twitedu

pembelajar kemudian jd pusat utama kegiatan belajar. kalau di kampus sy, ngetop dengan student-centered learning #twitedu

metode yang dipakai adlh diskusi kolaboratif dan pembelajaran berdasarkan masalah. #twitedu

ke-2 metode dipilih krn bs memberikan siswa tanggung jawab dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi proses bljr mereka sendiri #twitedu

dlm diskusi, siswa diberi topik/pemicu untuk didiskusikan berklpk. pengetahuan dibangun bersama. tiap klpk bisa dpt hasil beda #twitedu

hasil diskusi kemudian dipresentasikan ke klpk lain. lagi, siswa bisa saling bljr dan menambahkannya ke dlm pengetahuan mereka #twitedu

anggapan dosen2: pengajaran dgn metode ini adlh makan gaji buta, krn siswanya yg hrs aktif. tapi nyatanya berkebalikan #twitedu

peran dosen berubah: jadi fasilitator, model dan pelatih. #twitedu

fasilitator: bangun kegiatan belajar kaya aktivitas shg siswa bs kaitkan pengtahuan lama & baru, bs kerja sama & pecahkan masalah #twitedu

model: contoh bagi siswa dlm berpikir & bertingkah laku #twitedu

pelatih: beri petunjuk, umpan balik, bantu penggunaan strategi belajar & mengarahkan siswa mencapai tujuan belajarnya #twitedu

jadi, kata siapa akan makan gaji buta? bagi yg kurang paham, mungkin iya. #twitedu

sejauh ini, dari hasil observasi saja, belum semua pengajar di kampus bisa menjalankan peran itu. memang tak mudah mengubahnya #twitedu

dan kebetulan, krn keterbatasan ruang kelas fisik, diskusi pun dirancang utk dilakukan secara online. muncul tantangan baru #twitedu

infrastrukturnya sdh siap? koneksi sdh siap? blm lagi pengajar perlu melek teknologi. yg biasa sj msh sulit, aplg dgn media baru? #twitedu

skrg hmpr 10 tahun ‘uji coba’ metode ini, tantangan terbesar justru datang dr pengajar. sdh siapkah mengubah gaya ‘mengajar’? #twitedu

krn hrs diakui bhw sy dan pengajar2 sy adlh hasil produk ‘gaya’ sebelumnya. #twitedu

apalagi dgn munculnya ICT, kami perlu menyesuaikan lg ketiga peran td agar sesuai utk lingkungan belajar online. ini tantangannya #twitedu

ujung dr semua ini adlh membuat siswa cinta belajar dan jadi pembelajar seumur hidup #twitedu

demikian racauan ttg bgmn konstruktivisme diterapkan di kampus sy #twitedu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *